Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Refleksi akhir tahun seharusnya menjadi ruang paling jujur bagi seorang kepala daerah: mengukur capaian, mengakui kegagalan, dan membuka peta masalah yang belum terurai. Namun refleksi yang disampaikan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto justru dinilai jauh dari semangat itu. Alih-alih menjadi evaluasi, refleksi tersebut dianggap lebih menyerupai etalase klaim keberhasilan (gobekasi.id, 29-12-2025).
Sungguh dalam Islam kepemimpinan dipandang sebagai amanah besar. Visi dunia-akhirat menjadi visi yang tidak bisa dipisahkan. Misi di planet bumi direalisasi untuk jalankan visi terbaik.
Pemimpin dalam Islam
Dalam Islam, pemimpin sangat bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat secara orang per orang. Pemimpin diangkat atas nama Allah semata demi menjalankan hukum-hukum Allah. Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya menjadi rujukan utama untuk mewujudkan rahmatan lil aalamiin di negeri ini, untuk mencampakkan hukum-hukum Allah sangatlah dihindari.
Paradigma Islam memastikan kepemimpinan Islam akan membawa kebaikan dan keberkahan. Jauh dari konflik kepentingan dan selalu terikat syariat Islam agar mampu menyolusi seluruh problem kehidupan. Masalah politik, ekonomi, sosial, hukum, hankam, semuanya diatur dalam Islam. Pengaturan komprehensif dikuatkan agar mampu merealisasikan janji-janji.
Jika saat ini, kembalinya sistem kepemimpinan Islam masih dipandang mimpi, juga menyebut para pejuangnya sebagai para pemimpi, maka memimpikan tegaknya kembali Islam Kaffah bukanlah utopia sebagaimana mimpi mewujudkan kesejahteraan yang dijanjikan sistem demokrasi. Keagungan dan kejayaan Islam dengan sistem yang Kaffah yang pernah mewujud nyata dalam naungan Khilafah Islamiyyah tercatat dalam sejarah peradaban dunia selama belasan abad lamanya.
Firman Allah Ta'ala,
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS Al-A’raf: 3).
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf : 96).
Dengan demikian jangan lagi ada keraguan. Sistem kepemimpinan Islam ini sejatinya patut menjadi satu-satunya harapan karena sistem ini lahir dari asas aqidah yang lurus dan sesuai fitrah penciptaan yang diturunkan Allah Ta'ala sebagai panduan dan solusi kehidupan.
Oleh karena itu jika sistem Islam Kaffah ini ditegakkan dengan sempurna, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, bahkan bagi seluruh alam semesta bukan lagi sekadar mimpi namun akan terwujud secara pasti bukan hanya sebatas cerita tanpa kisah nyata.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment