Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menakar Moralitas Dalam Ekonomi: Ladang Bisnis Diatas Lumpur Bencana

Saturday, January 10, 2026 | Saturday, January 10, 2026 WIB Last Updated 2026-01-10T00:36:42Z

 


Oleh: Suryani


CNBC Indonesia, Jakarta – Lumpur yang menumpuk di wilayah terdampak banjir bandang di aceh ternyata menarik minat beberapa pihak. Hal ini diungkap oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kerja di Aceh Tamiang.


Prabowo mendapatkan informasi dari laporan para kepala daerah  bahwa ada pihak swasta yang tertarik terhadap lumpur pasca banjir. Prabowo berujar pihak swasta bisa memanfaatkan material lumpur banjir  yang ada di mana-mana. Lanjutannya, pemanfaatan lumpur oleh pihak swasta bisa mempercepat normalisasi sungai yang mendangkal akibat sendimen dari banjir dan longsor. Selain itu, kata prabowo pembelian material lumpur juga memberikan manfaat langsung kepada pemerintah daerah. Sumber tempo.com.


Jika kita dalami, saat ini memang kita hidup dengan penuh kebebasan sehingga tidak ada kontrol dalam berperilaku maupun beraktivitas, segala sesuatunya dilihat sebagai suatu komoditas menguntungkan yang melewati batas etika dan moral.


Masalah tidak lagi dilihat dari akarnya, solusi yang di tawarkan hanya bersifat sementara perumpamaan seperti menambal ban yang bocor dan itu tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya dan tidak meringankan beban masyarakat. Jika terus seperti maka masalah serupa akan terus terjadi.


Pemerintah selalu seperti ini memberikan solusi tampa melihat akar permasalahannya sehingga apa, bukannya menyelesaikan masalah justru menambah masalah baru. Dan seperti biasanya selalu berbasis pada keuntungan semata, jika tidak ada manfaat yang di hasilkan maka itu tidak berlaku dan ini hanya di rasakan oleh beberapa pihak saja.


Analisis:


Mengakar permasalahan tersebut tidak dapat jauh dari sistem yang diterapkan, di mana sistem dapat memengaruhi proses hidup yang jika tidak di kontrol maka akan terjadi kerusakan di mana-mana.


Ekploitasi pasca bencana demi keuntungan materi merupakan manifestasi nyata dari pergeseran nilai dalam masyarakat. Hail ini tidak terjadi di ruang yang hampa, melainkan berakar pada cara pandang terhadap dunia yang di bentuk oleh ideologi sekulerisme yang melahirkan sistem kapitalisme.


Sekulerisme memisahkan norma agama dari urusan kehidupan termasuk urusan publik maupun ekonomi, ini terjadi ketika agama hanya diletakkan di ranah privat, perilaku manusia tidak lagi di pandu oleh nilai halal-haram melainkan oleh rasionalitas pragmatis. Akibatnya mempengaruhi empati spiritual di mana bencana  tidak lagi dilihat sebagai ladang pahala untuk menolong melainkan objek yang bisa di manfaatkan.


Kapitalisme menempatkan materi dan keuntungan sebagai standar tertinggi kebahagiaan dan kesuksesan. Dalam logika kapitalis, segala sesuatu bisa menjadi komoditas jika ada permintaan, manusia didorong untuk selalu memaksimalkan keuntungan pribadi. Memanfaatkan lumpur yang tersedia “gratis” setelah bencana merupakan bentuk efisiensi bagi mereka yang kehilangan kompas moral.


Dan yang terburuknya ketika perilaku ini terus terjadi di anggap biasa saja bahkan kreatif  akibatnya masyarakat akan mengalami desensititasi. Kita menjadi terbiasa melihat kemiskinan dan penderitaan sebagai hiburan.


Kontruksi islam:


Jika sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan, sehingga ekonomi menjadi bebas nilai moral. Berbeda dengan sistem islam yang justru menjadikan syariat sebagai standar perbuatan, di mana segala perbuatan harus terikat pada hukum syara’. Negara akan mengedukasi masyarakat agar motivasi hidupnya adalah ridho allah bukan sekedar materi belaka.


Kemudian jika sistem kapitalisme menumpuk kekayaan pada segelintir orang, berbeda dalam sistem islam dimana negara (Khilafah) wajib menjamin kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan) setiap individu. Jika kebutuhan mendasar terjamin rakyat tidak akan terdorong untuk merusak moralitas mereka hanya untuk makan.


Perubahan dari sistem sekuler-kapitalis ke sistem islam memerlukan transformasi menyeluruh, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga kebijakan politik negara. oleh sebab itu, kita butuh khilafah untuk penerapan sistem islam, bagaimana kita merasakan islam rahmat bagi seluruh alam jika kita belum mencobanya atau menerapkannya.


Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update