Oleh : Renia Ningsih Razak (Pegiat Literasi)
Diera digital atau teknologi yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, terkadang tentunya membuat kita semakin banyak mengetahui sekaligus menggunakan berbagai aplikasi. Beragam aplikasi memiliki berbagai pengaruh positif dan negatif, kita sebagai pengguna aplikasi harus lebih bijak dalam mengaplikasikan berbagai media sosial, game dan aplikasi lainnya.
Kita sadari, di era yang semakin berkembangnya teknologi ini terkadang membuat diri kita terlarut mengikuti perkembangan teknologi yang semakin banyak dan beragam aplikasi. Tidak jarang membuat kita lalai dalam menjalankan kewajiban tertentu.
Dilansir dari,Kompas.id (5/12/2025), berbagai studi menunjukkan bahwa kaum muda dengan sumber daya finansial terbatas, terutama laki-laki paling sering menjadi target iklan berisiko, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform seperti Tiktok dan Instagram.
Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku dalam jaringan (Daring), lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Karena anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, mereka menjadi sasaran utama iklan yang menjanjikan penghasilan cepat, tetapi beresiko tinggi.
Kaum muda dengan sumber daya keuangan yang lebih terbatas, terutama anak laki-laki, menjaid pihak yang paling terpapar algoritma iklan tentang tata cara menghasilkan uang dengan mudah, tetapi penuh resiko, seperti pinjaman online (Pinjol) dan judi onlie (Judol). Sementara itu, jenis iklan yang sering muncul untuk kaum muda kelas atas adalah yang terkait perjalanan dan rekreasi.
*Akar Masalah*
Semakin banyak aplikasi yang disajikan dikhalayak umum mulai dari game, aplikasi media sosial, aplikasi Pinjol bahkan aplikasi Judol sangat marak berkembang di internet. Berbagai fakta menarik sering kita temui di media sosial (Medsos), mulai dari terjerat Pinjol, Judol, dan lain sebagainya yang disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat dan mudahnya akses masuk ke aplikais tersebut, yang dibuat menarik dan menawarkan begitu banyak dana. Tanpa mereka sadari, masyarakat yang menggunakannya sudah terjerumus ke dalam masalah.
Berbagai fitur tersebut menawarkan hal-hal yang bisa membuat masyarakat penasaran dan mulai mencobanyaa, misalnya Pinjol menawarkan pinjaman yang begitu besar, Judol membuat permainan yang mudah diawal, tetapi merusak di akhir sehingga membuat penggunanya merasa harus terus bermain.
Inilah buah dari peneraparan sistem Kapitalis-Sekuler yang terjadi saat ini, bahkan pinjaman atau pun judi online bukan saja menjerat kalangan dewasa tetapi juga meterjerat kalangan remaja (Gen Z). Mereka menganggap hanya dunia saja yang perlu dikejar, sehingga membuat mereka tetap berada di jalan yang salah bahkan mengorbankan orang terdekatnya, keluarga ataupun orang lain.
*Solusi Islam*
Berbeda dengan Sistem Kapitalis-Sekuler, di dalam Islam segala aturan sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan aturan tersebut sudah jelas di dalam Al-Qur'an. Kita sebagai manusia atau pun makhluk hidup berusaha untuk menjauhi hal-hal yang tidak berfaedah ataupun tidak ada manfaatnya dalam diri kita. Sudah dijelaskan juga carilah harta yang halal dan jauhilah riba.
Sebagai pengguna sosial media yang berkembang saat ini, idealnya gunakanlah secara bijak dalam menguptade ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Karena sejatinya tekhnologi informasi bagi kaum muslim merupakan sarana dakwah (menyebarkan amar maruf). Dengan begitu dampak negatifnya dapat diminimalisir.
Kaum muslim akan menggunakan kecanggihan tekhnologi (digitalisasi) untuk mendidik generasi penerus peradabban islam, sehingga akan terwujud generasi yang cerdas, melek digitalisasi sekaligus berakhlak dan berakidah islam. Wallahu alam bishowab.

No comments:
Post a Comment