Oleh. Hj. Iis Sartika
Muslimah Peduli Ummat
Pendidikan adalah pilar utama pembentuk peradaban. Melalui pendidikan lahir generasi yang berakhlak, mampu berpikir mendalam, dan menentukan arah kehidupan bangsa. Namun hari ini, banyak negeri Muslim—termasuk Indonesia—justru kehilangan haluan dalam sistem pendidikannya. Umat Islam yang semestinya mengarahkan pendidikan sesuai akidahnya menjadi lemah daya kritis serta minim pengaruh politik. Ketergantungan pada paradigma sekuler menjauhkan pendidikan dari nilai-nilai Islam, hingga akhirnya melahirkan generasi yang kehilangan tujuan hidup sebagai pengemban risalah.
Salah satu dampak terbesar dari ghazwul fikri (perang pemikiran) adalah hilangnya kemampuan umat untuk menilai arah pendidikan secara kritis. Sistem pendidikan yang berjalan tidak berlandaskan akidah Islam, melainkan disandarkan pada humanisme, liberalisme, dan materialisme. Tujuan pendidikan dipersempit sebatas upaya “mencerdaskan” secara teknis, bukan membentuk manusia bertakwa dan berpikir ideologis. Akibatnya, para siswa tumbuh mengejar karier dan materi semata, sementara ruh perjuangan, visi akhirat, dan komitmen terhadap syariat semakin pudar.
Allah SWT berfirman:
“Apakah mereka menghendaki hukum Jahiliah? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang meyakini?”
(QS. Al-Maidah: 50)
Namun demikian, banyak umat masih memandang pendidikan sebagai ruang yang netral. Padahal, pendidikan selalu menjadi alat ideologi. Dalam sistem sekuler, pendidikan digunakan sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kapitalistik: kompetisi tanpa moral, kebebasan tanpa batas, dan pencapaian tanpa orientasi spiritual. Pada titik inilah haluan pendidikan mulai kabur dan generasi kehilangan pegangan.
Pelajaran agama dikecilkan ruang lingkupnya hanya menjadi serangkaian ritual, sementara pelajaran umum justru memperkuat cara pandang sekuler. Rasulullah SAW bersabda:
“Imam itu adalah perisai; di belakangnya orang berperang dan berlindung.”
(HR. Muslim)
Tanpa seorang pemimpin yang menegakkan syariat Islam, pendidikan tidak akan bisa kembali pada haluannya. Generasi pun akan terus kehilangan tujuan hidupnya sebagai pengemban amanah dakwah.
Islam sebenarnya telah menawarkan haluan yang jelas bagi pendidikan. Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam yang menyatukan pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah. Dalam sistem Islam, negara wajib menyediakan pendidikan gratis, kurikulum berbasis akidah, serta guru yang berperan sebagai pembina umat, bukan sekadar pengajar materi.
Seluruh ilmu diarahkan untuk menegakkan peradaban Islam, bukan melayani kepentingan kapitalisme global. Allah SWT berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Hanya sistem Islamlah yang mampu melahirkan generasi ulul albab—generasi yang cerdas secara intelektual, kuat kepribadiannya, serta teguh arah hidupnya menuju ridha Allah.
Wallahu a‘lam bishshawab.
No comments:
Post a Comment