Oleh: Izzah Saifanah
Dikutip dari situs Kompas (31/7). Dari tiga indikator kelaparan, dua telah terpenuhi di Gaza. Inilah kelaparan pertama di abad ke-21. Sudah lebih dari 100 penduduk Gaza tewas karena kelaparan. Para korban didominasi perempuan dan anak-anak.
Berdasarkan Integrated Food Security Phase Classification (IPC), dua indikator yang terpenuhi adalah konsumsi makanan di Gaza anjlok dan kasus malanutrisi meningkat di Gaza. Sementara indikator ketiga, tewas akibat kelaparan, masih menanti verifikasi lebih lanjut. Akan tetapi, bukti di Gaza terus menunjukkan kematian akibat kelaparan, gizi buruk, dan penyakit yang timbul akibat kelaparan.
Kelaparan di Gaza merupakan bagian dari agresi dan blokade, tidak terpisah dari tindakan militer yang bertujuan memusnahkan masyarakat Gaza dan berupaya menggusur mereka, hal ini terlihat jelas melalui pernyataan para pemimpin entitas Yahudi. Hanya 48 jam setelah dimulainya agresi di Gaza, Menteri Pertahanan entitas Yahudi, Yoav Gallant, mengumumkan keputusannya untuk mencegah masuknya “makanan, air, dan bahan bakar ke Jalur Gaza,” “sehingga keputusan tersebut merupakan momen aktual di mana pendudukan mulai menerapkan pemblokadean untuk menciptakan kelaparan di Jalur Gaza.”
Sehingga mengatasi kelaparan itu sebagai bencana kemanusiaan atau ekonomi adalah tindakan yang menyesatkan dan merupakan sebuah konspirasi terhadap rakyat Gaza. Kelaparan tersebut bukanlah akibat dari gempa bumi atau bencana alam, melainkan sebuah rencana sistematis yang diumumkan dengan segala keterusterangan dan arogansi di hadapan mata dunia dan umat Islam.
Umat yang negerinya penuh dengan berbagai potensi dan kekayaan sedang menderita kelaparan buatan, sehingga hal ini mencerminkan keadaan menyedihkan yang dialami oleh umat yang tidak memiliki kedaulatan dan pengambilan keputusan politik yang bersumber dari akidah dan budayanya. Jadi bagaimana sebuah negara yang kaya akan sumber daya dan kekayaan dikuasai oleh kolonial Barat, sehingga mereka yang menikmati kekayaan, minyak, gas, dan buah-buahan dari negeri kita … Bagaimana umat ini bisa bertahan dalam ketidakmampuan menyediakan makanan bagi sebagian besar penduduknya ketika mereka melihat mereka memakan pakan ternak dan anak-anak mereka mati kelaparan?
Kelaparan buatan dan sistematis di Gaza adalah untuk menundukkan rakyatnya agar menyerah pada solusi Amerika yang menjamin stabilisasi kaum Yahudi yang terpuruk, dan upaya untuk mengintegrasikan mereka ke dalam lingkungan melalui normalisasi. Sedangkan rezim boneka Barat di negeri kita berpartisipasi dalam hal ini, memblokade rakyat Gaza, sebaliknya mereka memasok sayuran, buah-buahan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan entitas Yahudi melewati koridor aman dan mudah.
Isu kelaparan di Gaza mencerminkan ketidakberdayaan yang dibuat-buat di negeri kita, dimana ketergantungan para rezim boneka yang berkuasa di negeri ini selalu siap untuk membakar negeri, membuat rakyat kelaparan, serta menjadikan mereka tunduk pada kepentingan penjajah dan pendudukan demi menjaga takhta mereka yang sudah usang.
Membebaskan Palestina dan mencabut benalu Zion*s selamanya adalah kebutuhan dan tugas umat yang mendesak untuk dilakukan. Shalahuddin al-Ayyubi tidak bertemu Paus Gregory VIII untuk berbagi tanah Palestina dengan mereka, tetapi mereka bertemu dalam perang Hittin dan mengalahkan tentara Salib serta mencabut kerajaan tentara Salib di seluruh wilayah negeri muslim. Tidak pernah terjadi dalam sejarah, kaum muslim berkompromi dengan penjajah Zion*s atau kafir harbi fi’lan yang terang-terangan memusuhi Islam.
Berkompromi dan mengampayekan solusi dua negara untuk Palestina adalah pengkhianatan. Mendiamkan kezaliman dan menutup mata dari hal yang terjadi di Palestina adalah beban yang tidak akan sanggup kita tanggung kelak di hadapan Allah Swt., mengingat betapa besar tanggung jawab tersebut. Melupakan Palestina adalah kelalaian yang teramat berat jika di akhirat kita berjumpa dengan Rasulullah ﷺ.
Apa yang hendak kita katakan ketika beliau bertanya, bagaimana kepedulian terhadap saudara sesama muslim yang mengalami penderitaan? Sedangkan di antara tanda keimanan seseorang adalah mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Tidaklah (sempurna) iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim).
Penerapan Islam adalah solusi paripurna bagi Palestina yang harus terus disuarakan sebagai kewajiban kita dalam upaya membebaskan Palestina dari penjajahan dan penderitaan. Selain itu, umat harus berjuang mewujudkan cita-cita besar tersebut dengan melakukan dakwah yang berpengaruh, yakni mengubah pemikiran serta membersihkan pemahaman umat dari ideologi sekuler kapitalisme hingga terbentuk pemahaman Islam yang benar dan kafah.
Semua ini membutuhkan upaya berkelanjutan melalui pembinaan intensif secara personal dan komunal yang dilakukan kelompok dakwah yang lurus dan ideologis.

No comments:
Post a Comment