Oleh: Ummu Mufidah (Aktivis Muslimah)
Krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza terus memburuk akibat blokade yang menyebabkan kekurangan makanan dan pasokan medis. Kelaparan parah ini terkait dengan perang genosida yang dilancarkan Israel sejak 7 Oktober 2023.
Sejak 2 Maret 2025, penjajah Israel telah menutup semua penyeberangan dengan Jalur Gaza, menghalangi masuknya sebagian besar makanan dan bantuan medis, sehingga semakin mempercepat penyebaran kelaparan di seluruh wilayah tersebut.
Kelaparan di Gaza semakin mengkhawatirkan. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara warga lainnya berusaha mencari makan. Tidak hanya warga, pekerja kemanusiaan dan jurnalis juga ikut kelaparan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan jumlah korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi di Jalur Gaza meningkat menjadi 212 orang per Sabtu (9/8/2025). Dari jumlah tersebut, 98 korban merupakan anak-anak (Kompas.com 10/8/2025).
Ketika kita melihat berita tentang Gaza, baik foto maupun video yang beredar tentu sangat memprihatikan.
Nampak ada warga yang tubuhnya tersisa tulang dan kulit, selain bom atau peluru yang kapan saja bisa menyasar mereka, kepayahan dan kelaparan juga turut menambah derita mereka.
Sampai sejauh ini, serangan beruntun sejak 7 Oktober 2023 tentu telah merenggut ribuan nyawa, lalu mungkin ada diantara kita yang bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Gaza. Apakah hanya mereka yang ada disana, apakah hanya tugas Hamas, apakah hanya tanggung jawab para donatur atau relawan kemanusiaan, atau siapa?
Maka, hadist Rasulullah Saw, sangatlah pantas dan tepat untuk menjawabnya. "Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mengasihi, saling menyayangi dan saling menolong diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menekankan pentingnya solidaritas dan kepedulian antar sesama Muslim, serta menggambarkan bahwa umat Muslim adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika salah satu anggota masyarakat Muslim mengalami kesulitan atau penderitaan, maka seluruh masyarakat Muslim diharapkan untuk merasakan dan menanggapi dengan empati dan bantuan.
Hadist itu juga menekankan tentang persaudaraan seakidah yang tidak terpisahkan walaupun berbeda suku dan bangsa, layaknya kita di Indonesia dan mereka di Gaza_Palestina.
Sehingga tidak pantas jika kita mengatakan, "itu bukan urusan kita, karena kita beda bangsa". Kata-kata ini sungguh sangat menyakitkan, bagaimana jika kondisinya terbalik, jika kita yang mengalami apa yang saat ini saudara kita di Gaza rasakan?
Selain karena alasan persaudaraan seakidah, Palestina adalah salah satu negeri suci yang Allah berkahi, setiap jengkal dari tanahnya merekam sejarah bagi kaum muslim. Disana ada masjid Al Aqsha yang pernah disinggahi Rasulullah Saw saat perjalanan isra mi'raj, disanalah kiblat pertama kaum muslim, dan disana adalah negeri kelahiran para nabi.
Tapi apa yang terjadi saat ini? Negara kita justru sibuk menyiapkan perayaan hari kemerdekaan, sementara saudara kita disana masih dijajah dan berusaha dibinasakan. Bahkan negara yang termasuk tetangga dari Palestina justru menebalkan dan meninggikan pagar perbatasannya, negeri-negeri Arab yang ada disekitarnya juga pura-pura tuli dan buta. Bahkan polisi dunia setingkat PBB pun seakan lumpuh dalam menanggapi apa yang terjadi di Gaza.
Inilah perpecahan kaum muslimin yang disebabkan oleh sekat nasionalisme buatan penjajah. Sehingga tanpa sadar, kita dibuat lemah. Karena kita tidak lagi bersatu.
Selain setiap individu muslim bertanggung jawab untuk peduli pada saudara kita di Gaza, yang paling bertanggung jawab adalah para pemimpin negeri-negeri muslim sedunia.
Dikisahkan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal adalah ketika beliau menyatakan rasa takutnya jika ada seekor keledai yang mati kelaparan di negeri Irak, sementara beliau tinggal di Madinah. Beliau berkata, "Demi Allah, jika ada seekor keledai jatuh terperosok dari negeri Irak, aku khawatir keledai itu akan menuntut hisab aku di hari kiamat". Pernyataan ini menunjukkan betapa besarnya rasa tanggung jawab Umar bin Khattab sebagai pemimpin terhadap rakyat dan bahkan hewan di wilayah kekuasaannya.
Selain itu, Umar bin Khattab juga dikenal karena kepeduliannya terhadap rakyatnya yang miskin dan kelaparan. Dalam sebuah kisah, beliau mengunjungi sebuah rumah yang terdengar tangisan anak kecil karena kelaparan. Setelah melihat kondisi rumah tersebut, beliau menemukan bahwa ibu tersebut memasak batu dan air hanya untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Umar bin Khattab kemudian mengambil sekarung gandum dan membawanya sendiri ke rumah tersebut untuk membantu keluarga itu.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang peduli dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya, serta memiliki rasa takut yang besar terhadap Allah SWT. Beliau tidak segan-segan untuk turun langsung membantu rakyatnya yang membutuhkan, dan tidak merasa malu untuk melakukan pekerjaan yang dianggap rendah demi kebaikan rakyatnya.
Pemimpin yang bertakwa layaknya khalifah Umar bin Khattab tidaklah muncul dalam sistem Kapitalisme seperti saat ini. Pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab itu muncul ketika syariat Islam diterapkan untuk menyelesaikan segala persoalan.
Dan yang terjadi di Gaza adalah genosida, yang lebih dari sekedar bencana kelaparan atau bencana kemanusiaan. Dimana kaum muslimin sedunia harus menyatukan kekuatan untuk melawan zionis penjajah yakni dengan jihad fisabilillah yang dikomandoi oleh seorang khalifah. Waallahu a'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment