Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

GAZA TERKUNGKUNG KARENA NASIONALISME TERSELUBUNG

Wednesday, August 13, 2025 | Wednesday, August 13, 2025 WIB Last Updated 2025-08-13T01:53:32Z

 



Ronita Pabeta, S. Pd (pegiat literasi) 


Sampai hari ini tiada yang bisa menghentikan nestapa rakyat Gaza, wilayah yang secara brutal diduduki oleh Israel sejak 7 Oktober 2023. Konflik panjang yang berlangsung selama 75 tahun membawa sejarah duka yang dalam bagi rakyat Gaza. Dilansir dari Beritasatu. com pada 8 Agustus 2025, Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Volker Turk mengecam rencana Israel untuk mengambil alih sepenuhnya jalur Gaza dan mendesak agar rencana tersebut segera dihentikan. 

Kecaman yang sama juga datang dari Kementerian Luar Negeri Turki yang menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari genosida yang dilakukan oleh Netanyahu dan ancaman serius bagi perdamaian serta keamanan global. Beberapa Kementerian Luar Negeri dari berbagai negara juga mengecam penjajahan Israel terhadap wilayah Gaza.  

Kepada Fox News, Perdana Menteri (PM) Israel Benyamin Netanyahu mengungkapkan rencana untuk mengambil alih kendali militer penuh atas jalur Gaza. Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak berencana memerintah Gaza secara langsung, tetapi akan menyerahkan wilayah itu kepada kekuatan Arab. Hanya saja kekuatan Arab yang dimaksud tidak dijelaskan lebih lanjut. Hal ini kontras dengan apa yang disampaikan oleh pejabat senior Hamas Osama Hamdan yang menyebut bahwa negara-negara Arab menolak keterlibatan tanpa restu negara Palestina. (CNBC Indonesia, Jakarta, 08/08/2025) 


Menyimak dari beberapa fakta tersebut, hakikatnya permasalahan yang terjadi di wilayah Gaza ini secara implisit dianggap sebagai permasalahan internal negara Palestina. Palestina diakui dunia sebagai sebuah otoritas pemerintahan bangsa Palestina. Maka meskipun banyak kecaman dan aksi serta bantuan sosial kemanusiaan yang ditunjukkan masyarakat dunia baik secara individu, kelompok bahkan negara, tetap saja tak mampu menghentikan apa yang terjadi di wilayah Gaza. 

Kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) secara nyata dipertontonkan di mata dunia tanpa bisa dihentikan sama sekali. Pihak PBB dan negara-negara Arab serta negeri-negeri kaum muslimin seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Turki dan lainnya tak juga tergerak untuk bersatu mengerahkan pasukannya untuk mengusir Israel dari sana, padahal inilah satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Sementara mereka mengecam. Sekat-sekat kebangsaan yang menyelubungi jiwa-jiwa pemimpin negara-negara Arab dan penguasa negeri-negeri kaum muslimin menjadikan mereka menganggap bahwa konflik Palestina adalah urusan internal Palestina sehingga enggan untuk mengerahkan pasukannya untuk membantu saudara muslim mereka di Gaza. 

Sekat-sekat kebangsaan inilah nasionalisme yang sejatinya menjadi senjata ampuh untuk memecah belah kaum muslimin. 


Jika kita membuka sejarah, ternyata nasionalisme ini muncul pada pertengahan abad yang dibawa oleh tokoh-tokoh kafir Barat yaitu Hans Kohn dan Louis Sneyder. Pada saat itu mereka diliputi tekanan dari pihak rohaniawan yang menguasai Kekaisaran sehingga akhirnya mereka mencoba memberontak dengan memunculkan ide sekulerisme. Dari sinilah kemudian cikal bakal nasionalisme lahir. Perasaan untuk mempertahankan diri dari serangan luar dan eksistensi diri inilah yang menjadi prinsip nasionalisme. Sekilas tiada yang salah dari prinsip ini, hanya saja hal ini akan membahayakan jika dibiarkan. Prinsip ini sifatnya individualisme. Hanya nampak ketika ada yang mengusik. Faktanya ini terjadi, negara-negara bangsa yang ada didunia memakai ikatan nasionalisme ini untuk membatasi mereka agar tidak ikut campur terhadap persoalan negara lain. 


Nasionalisme ini pun sebenarnya berkembang setelah kekhilafahan Turki Utsmani runtuh pada 3 Maret 1924. Negeri-negeri yang bersatu di bawah satu kepemimpinan Utsmaniyah akhirnya terpecah belah menjadi negara-negara bangsa. Semangat nasionalisme inilah yang menjaga negara-negara bangsa ini hingga hari ini. Hal ini kemudian diperkuat dengan lahirnya Piagam PBB yang semakin melanggengkan ikatan nasionalisme. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini mengatur otoritas setiap negara bangsa. Sehingga satu negara tidak boleh ikut campur permasalahan negara lain. Hal ini tentu akan menjadi dilema ketika terjadi permasalahan yang begitu mengoyak nurani sebagai manusia. Sebagaimana apa yang terjadi di wilayah Gaza. Konflik berkepanjangan ini hanya disikapi sebatas simpati dan empati saja. Dukungan dan bantuan berdatangan dari berbagai negara bahkan beberapa negara mengecam. Tapi hanya sebatas mengecam!. Atas nama nasionalisme mereka hanya bisa mengecam tanpa mampu bersatu kembali. 


Dalam Islam, nasionalisme sama sekali tak punya dasar. Rasulullah SAW justru memerintahkan ummatnya untuk bersatu. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda bahwa muslim itu ibarat satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka bagian tubuh yang lain juga turut merasakan. Dalam Islam kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk bersatu dalam satu kepemimpinan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika mendirikan negara Islam pertama di Madinah, dan dalam sejarah terukir masa kekhalifahan setelah Rasulullah SAW wafat. 

Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan agar kita berpecah belah atau tersekat-sekat dalam batasan wilayah teritorial. Allah SWT justru menggambarkan keagunganNya. Maka atas dasar apa menjadikan nasionalisme sebagai alasan para pemimpin negara-negara Arab dan negeri-negeri kaum muslimin untuk tidak mengerahkan pasukannya demi membantu mengusir pendudukan Israel di wilayah Gaza. Sejatinya nasionalisme inilah paham yang terselubung yang harus dicabut dari Ummat Islam hari ini. Sehingga mereka tidak lagi menganggap bahwa persoalan Palestina ini hanyalah persoalan otoritas negara Palestina tetapi memandang bahwa persoalan di wilayah Gaza ini adalah persoalan kaum muslimin. Oleh karena itu yang dibutuhkan saat ini adalah persatuan ummat. Persatuan ini hanya mungkin diwujudkan dalam bingkai khilafah, bingkai yang sesuai syariatNya. 

Wallahu'alam bishawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update