Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gangguan Jiwa Meninggi, Tanda Runtuhnya Generasi Negeri

Wednesday, August 13, 2025 | Wednesday, August 13, 2025 WIB Last Updated 2025-08-13T06:13:32Z
Gangguan Jiwa Meninggi, Tanda Runtuhnya Generasi Negeri

Oleh : Esha Shuji

(Aktivis Muslimah Cilacap)


Akhir-akhir ini, krisis kesehatan di kehidupan masyarakat mulai menunjukan peningkatan, terutama dalam kesehatan kejiwaan. Banyaknya kejadian-kejadian yang dilakukan manusia yang di luar nalar dan juga meningkatnya gejala depresi dan stress yang terjadi pada masyarakat, menunjukan adanya kejadian anomali di kehidupan kita saat ini dan mulai memasuki fase kritis.

Data kemenkes menyatakan permasalahan ini terjadi akibat dampak pandemi COVID-19 juga menurut riset WHO (2025) mencatat, 35% pekerja di perkotaan melaporkan burnout kronis, sementara anak muda (15-24 tahun) mengalami peningkatan gangguan kecemasan sebesar 40% dibandingkan era pra-pandemi. (kaltimtara.republika.co.id/12/05/2025)


Di Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yunita Dyah Suminar di Semarang, mengatakan bahwa masalah kejiwaan pada masyarakat yang ditemukan, baik kategori ringan, sedang, maupun berat menjadi salah satu perhatiannya.


Demi mendukung hal tersebut, Pemerintah Jawa Tengah membuat program dokter spesialis keliling “speling” bersama-sama dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan dukungan rumah sakit milik pemerintah juga swasta yang berada di 35 kabupaten/kota telah mendeteksi setidaknya 6,7 persen orang mengalami gangguan kejiwaan dari 37 ribu warga yang sementara ini telah terlayani program tersebut. (jateng.antaranews.com/31/07/25)


Pemeriksaan juga menargetkan generasi muda, termasuk siswa sekolah dasar hingga menengah. Sekitar 10 persen dari total sasaran program adalah anak-anak usia tujuh tahun ke atas. Yunita mengungkapkan, dalam salah satu pemeriksaan di sekolah, dari 150 siswa yang diperiksa, sekitar 30 anak menunjukkan gejala gangguan kejiwaan. (health.kompas.com/31/07/2025)


Penelitian yang dilakukan oleh The Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada juga menyatakan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian ini dilakukan kepada 5.664 remaja berusia 10-17 tahun, artinya 15,5juta remaja mengalami masalah kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental yang banyak diderita oleh remaja adalah gangguan kecemasan (kombinasi fobia sosial dan kecemasan umum), gangguan depresi mayor, gangguan perilaku, dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) serta ADHD (Attention-Deficit Hiperactivity Disorder). (cnnindonesia.com 12/12/2022)


Meningkatnya kesehatan mental membuat pemerintah juga meluncurkan program "Sehat Mental untuk Semua" pada 2024, dengan target 500 puskesmas memiliki layanan psikologis dasar di 2025. Namun, anggaran kesehatan mental masih di bawah 5% dari total APBN sektor kesehatan.

Perusahaan seperti Gojek dan Tokopedia mulai menyediakan konseling gratis bagi karyawan, sementara komunitas seperti Into the Light gencar melakukan kampanye pencegahan bunuh diri di kalangan remaja. 


Meski banyak program-program yang dilakukan, pada kenyataannya banyak hambatan untuk merealisasikannya. Dari APBN yang tidak mencukupi, akses digital yang terbatas, bahkan stigma negatif tentang kesehatan mental menjadi penghalang besar. Survei Lembaga Psikologi Indonesia (2025) mengungkapkan bahwa 60% penderita depresi enggan mencari bantuan karena takut dianggap "lemah" atau "tidak stabil".

 

Sungguh miris! Kesehatan mental bukan hanya terjadi pada orang-orang dewasa, melainkan merambah pada generasi muda yang di pundaknya dipenuhi harapan agar menjadi penerus bangsa yang dapat mensejahterakan negri kelak. Mengapa demikian?


Berbagai faktor bisa menjadi penyebab gangguan kesehatan mental, diantaranya faktor tekanan sosial, stres di lingkungan sekolah atau kerja, ketidakstabilan ekonomi, serta akses terbatas terhadap layanan psikolog. Bukan hanya itu, faktor internal seperti genetik, pola asuh orang tua, makanan, serta regulasi emosi bisa menyebabkan gangguan mental pada diri seseorang.


Namun, sistem kehidupan yang dianut di masyarakat merupakan penyebab utama permasalahan gangguan mental saat ini. Standar kehidupan yang diatur oleh sekulerisme kapitalis membuat masyarakat, terutama umat muslim kehilangan jati dirinya. Bagaimana tidak? Standar ukuran kebahagiaan ala kapitalisme adalah materi, yang hal itu merupakan berusaha memenuhi kebutuhan duniawi, seperti hidup mewah, makan makanan berkelas, serta mengikuti fashion ala barat.

Sehingga bila seseorang tidak dapat memenuhi tujuan dunianya, seakan-akan hidupnya berakhir dan tidak bahagia. Hal itu sangan]t bertentangan dengan tujuan utama seorang muslim di dunia yaitu, mendapatkan Ridha Allah dengan beribadah dan tunduk pada aturanNya.


Berbeda dengan Islam, Islam merupakan agama juga ideologi yang menjaga jiwa dan akal setiap orang di dunia. Dalam penerapannya, Islam akan memperhatikan dua aspek, yaitu:


Pertama, dari aspek ruhiyah, Islam mengajak orang-orang yang beriman untuk makin bertakwa kepada Allah Swt., mendekat kepada-Nya (muraqabatullah) dalam setiap keadaan, dan mengajarkan tentang tujuan hidup yang hakiki, yaitu akhirat. Semua amal manusia adalah bekal untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal. Semua yang ada dan terjadi dalam kehidupan dunia ini adalah ujian dari Allah Taala.


Kedua, optimalisasi peran negara. Negara yang menerapkan sistem Islam secara kafah akan meminimalkan, bahkan menghilangkan segala hal yang bisa menyebabkan rakyatnya mengalami gangguan mental karena permasalahan dalam berbagai aspek. Seperti dalam aspek ekonomi, negara Islam akan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya sehingga tidak ada yang kesusahan mencari nafkah atau mencari pekerjaan yang layak.


Dalam aspek pergaulan, negara akan menciptakan iklim pergaulan yang aman dari segala bentuk kemaksiatan, tindakan asusila, pornografi-pornoaksi, kejahatan seksual dan nonseksual, perundungan, dsb. 


Demikianlah solusi sistemis dalam Islam, dimana Islam merupakan agama juga ideologi yang dapat memberikan keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam, juga bagaimana Islam melindungi setiap orang, baik muslim maupun non muslim. Wallahu ‘alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update