Oleh Neneng Hermawati
Pendidik Generasi Cemerlang
Lagi dan lagi, kasus penghinaan Nabi Muhammad saw. terulang kembali. Kali ini dilakukan oleh majalah Satir LeMan. Dalam majalah LeMan edisi 26 Juni tersebut menggambarkan dua sosok kartun sebagai "Muhammad" dan "Musa".
"Salam aleikum, saya Muhammad, "kata salah satu sosok sambil berjabat tangan dengan yang lain yang menjawab, "Aleikum salam, saya Musa." (cnnindonesia.com, 01/07/2025).
Peristiwa pembuatan kartun Nabi Muhammad saw. yang mengarah kepada menghina dan merendahkan sosok agung yang dimuliakan umat Islam ternyata tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus terdahulu.
Majalah atheis Charlie Hebdo yang berada di Prancis, dengan sengaja menerbitkan karikatur yang menggambarkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. bahkan mengadakan kontes pembuatan kartun yang mengejek Tuhan. Kasus serupa juga terjadi di Denmark, surat kabar Jyllands-Posten yang menerbitkan kartun Nabi Muhammad saw. dan masih banyak yang lainnya.
Rangkaian kasus-kasus tersebut di atas akan senantiasa terjadi berulang, selama ide kebebasan berekspresi yang menjadi bagian dari tegaknya sistem sekuler masih diterapkan di seluruh dunia, termasuk negeri-negeri muslim.
Sebab, negara yang menerapkan sistem sekuler-demokrasi dalam pemerintahannya di tuntut untuk menjamin adanya ide kebebasan individu, salah satunya kebebasan berperilaku/berekspresi.
Ide ini memberikan peluang kepada setiap individu untuk melakukan perbuatan sesuka hati tanpa terikat aturan, termasuk aturan agama. Atas landasan inilah mereka berani dan melegalkan pembuatan kartun Nabi Muhammad saw. padahal itu sama saja dengan menyakiti perasaan umat Islam di seluruh dunia terhadap kemuliaan Nabinya, sehingga wajar kaum muslim memprotes dan tidak bisa menerimanya.
Namun, apalah daya kaum muslim hanya bisa memprotes saja, tidak bisa mencegah bahkan tidak bisa menghilangkan tindakan mereka yang dianggap legal dalam bingkai kebebasan yang dijunjung tinggi oleh ide Barat. Jelaslah, bahwa kebebasan berekspresi merupakan kedok dan sarana bagi musuh Islam untuk terus mengusik, menghancurkan, dan merendahkan Islam.
Saat ini, kaum muslim hidup dalam kungkungan sistem yang rusak sebagai konsekuensi dari para pemimpin mereka yang menerapkan sistem sekuler-demokrasi di negeri-negeri muslim. Seluruh kebijakan dalam mengatur kehidupan kaum muslim dan juga pemikiran yang berkembang berasal dari sistem yang rusak ini. Tentu saja ini bertentangan dengan akidah Islam.
Berbeda dengan Islam, sebagai sebuah sistem yang berasal dari sang Pencipta, Allah Swt. mengharuskan manusia terikat dengan aturan Allah Swt.. Manusia tidak bisa melakukan perbuatannya sesuka hati yang mengarah kepada kebencian dan merendahkan martabat manusia lainnya. Islam membangun peradabannya atas asas akidah yang lurus, tidak dibangun untuk mendapatkan manfaat materi semata, apalagi demi memenuhi nafsu kebebasan, bahkan Rasulullah saw. diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.
Sosok Rasulullah saw. memiliki kedudukan yang mulia dan sangat dicintai oleh seluruh umat Islam di dunia. Para sahabat sangat mencintai Rasulullah saw. melebihi rasa cintanya kepada keluarga dan dirinya sendiri, bahkan mereka sanggup mengorbankan jiwa dan tidak rela melihat Rasulullah saw. menderita dan dihina oleh orang-orang kafir.
Dalam Islam, menghina nabi saw. termasuk perbuatan yang fatal dan pelakunya bisa dihukum mati, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang wanita Yahudi yang bertabiat buruk yaitu sering menghina Nabi saw. kemudian wanita Yahudi itu dibunuh oleh seorang sahabat Nabi saw. atau sanksi yang lainnya berupa jilid dan dipenjara selama sebulan sampai dua tahun, karena termasuk kategori at-tahqir (setiap kata celaan atau pelecehan). Bentuk sanksi ini terdapat dalam kitab sistem sanksi dan hukum pembuktian dalam Islam.
Begitu jelasnya sanksi dan ketegasan Islam terhadap orang-orang yang menghina Nabi saw.. Penerapan sanksi ini untuk menjerakan terhadap pelaku agar tidak terulang lagi. Inilah mekanisme Islam dalam menjaga kemuliaan Islam dan kaum muslim.
Namun, semuanya hanya bisa dicegah dengan menerapkan Islam dalam sebuah naungan sistem, yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad saw. yaitu kekhilafan Islam. Sebuah keniscayaan saat ini, umat Islam butuh khilafah agar penistaan terhadap Rasulullah saw. tidak terulang lagi.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment