Oleh : Hermiatin, S.Pd.
(Praktisi Pendidik)
Gelar sarjana dulunya begitu dipuja dan dianggap sebagai pintu menuju masa depan cerah. Namun kenyataan di lapangan saat ini berkata lain. Semakin banyak lulusan universitas di Indonesia justru masuk dalam lingkaran pengangguran, menunggu tanpa kepastian, di tengah pasar kerja yang penuh ketidakpastian dan kian selektif.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren yang mencemaskan. Pada 2014, jumlah penganggur bergelar sarjana tercatat sebanyak 495.143 orang. Angka ini melonjak drastis menjadi 981.203 orang pada 2020, dan meski sempat turun menjadi 842.378 orang di 2024, jumlah tersebut tetap tergolong tinggi.
Berbicara tentang banyaknya sarjana yang telah lulus dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan bertambahnya deretan pengangguran juga bertambahnya beban negara. Angka pengangguran dari tahun ke tahun di negeri ini semakin tinggi. Penggangguran juga masih menjadi masalah besar bagi pemerintah Indonesia. Fakta ini sangat penting karena pengangguran memiliki hubungan yang erat dengan persoalan kemiskinan. Sedangkan kemiskinan sering kali menjadi penyebab berbagai masalah sosial dan menjadi penyebab rendahnya kesejahteraan masyarakat.
Fenomena ini sejalan dengan ketidakstabilan ekonomi global yang semakin memperburuk kondisi sampai saat ini. Tingginya angka pengangguran justru berdampak pada yang lain diantaranya aspek sosial, seperti meningkatnya kriminalitas dan kemiskinan. Negara sendiri sudah melakukan berbagai cara dan tindakan mengurangi angka pengangguran. Ternyata program yang dilakukan pemerintah belum juga bisa menjadi solusi alternatif mengatasi pengangguran, meskipun kartu pekerja sudah diberikan kepada masyarakat.
Meskipun diantara mereka banyak yang berpendidikan tinggi, ternyata tidak jarang dari mereka mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan hingga sulit memenuhi kebutuhan pokok. Ini terjadi karena negara telah gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang luas, gaji yang jauh dari kata layak atau memadai, persaingan dunia kerja yang tidak sehat hingga tatatan kebijakan yang pro kapitalis. Permasalahan ini tidak bisa tersolusikan jika masih diterapkan sistem kapitalisme. Masalah pengangguran bukan hanya persoalan individu tetapi merupakan masalah sistemik yang perlu diatasi akar penyebabnya. Dimana sistem kapitalisme hanya menguntungkan para pengusaha dan mereka tidak peduli dengan rakyat.
Berbeda halnya dengan negara yang menganut sistem pemerintahan Islam dan menerapkan ekonomi Islam, dimana negara berperan sebagai pengurus dan pelindung bagi rakyatnya. Adanya pemimpin dalam Islam yang bertolak ukur pada Al-Qur’an mengharuskan negara untuk tidak berlaku adil dan dzalim kepada rakyatnya sehingga mereka berupaya untuk memaksimalkan mengurus dan melayani rakyat dengan menerapkan syariat Islam. Maka banyaknya masyarakat yang berpendidikan tidak akan menambah beban negara justru akan menambah banyak kemaslahatan di tengah-tengah umat dengan ilmu, sumbangsih dan karya terbaik mereka. Maka dari itu, haruslah bersegara merubah sistem kapitalis dan menerapkan sistem Islam agar kesejahteraan rakyat dapat terwujud. Wallahu a'lam bishawab.

No comments:
Post a Comment