Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan Sekuler Lahirkan Generasi Liberal Nir Akhlak, Nir Adab

Friday, May 09, 2025 | Friday, May 09, 2025 WIB Last Updated 2025-05-09T04:14:39Z
Pendidikan Sekuler Lahirkan Generasi Liberal Nir Akhlak, Nir Adab

Oleh Hasmiati A.md

Pemerhati sosial 


Momentum Hardiknas menjadi refleksi bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dari hulu, tengah dan pesisir dengan merata. Sayangnya fakta lain Hardiknas diwarnai dengan bullying dan pengeroyokan antar pelajar putri. 


Diduga masih duduk di bangku SMP, sejumlah pelajar di Loa Janan dikabarkan sudah janjian untuk bertemu di Folder Perumahan Haji Saleh. Saat ini para pelaku yang masih di bawah umur sudah dibawa ke Polsek Samarinda Seberang. 


Sungguh ironis moment hari pendidikan diwarnai oleh berbagai tindakan kekerasan dan perundungan yang terjadi diruang lingkup pendidikan. Ada apa dengan sistem pendidikan kita? Bukankah sekolah sebagai institusi pendidikan dengan visi dan misi tujuan pendidikan adalah mencetak peserta didik yang berkualitas?


Tetapi faktanya justru kasus perundungan dan kriminalitas banyak terjadi di kalangan pelajar. Ada sesuatu yang hilang dalam dunia pendidikan saat ini. 


Pendidikan tidak cukup dengan terpenuhinya sarana prasarana dan pemerataan sekolah. Tidak cukup kuantitas keberadaan dan kualitas guru yang dibenahi. Akan tetapi output pendidikan yakni pelajar juga perlu dibenahi.


Sekolah sebagai institusi pendidikan, alih-alih mampu mencetak peserta didik yang berkualitas, kurikulum sekuler kapitalisme yang diterapkan tanpa memperhatikan aspek spiritual atau agama justru melahirkan remaja yang banyak masalah. 


Contoh durasi pendidikan agama yang minim hanya dua jam dalam seminggu tentu  tidak cukup menanamkan  nilai-nilai adab dan budi pekerti luhur berlandaskan akidah. Aturan syariat Islam hanya sebatas teori bidang studi agama Islam tanpa penerapan utuh dan kaffah di tengah masyarakat. 


Belum lagi aturan dan kebijakan penguasa yang kental dengan liberalisme, minim pula nilai-nilai agama memberi andil besar makin maraknya kasus perundungan. Jelaslah bahwa persoalan mendasar penyebab perundungan adalah persoalan yang bersifat sistemis, yakni akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan dan tidak lepas pula dari aspek pendidikan.


Hilangnya perhatian dan kasih sayang keluarga dan lingkungan masyarakat yang nir empati juga berpengaruh besar bagi maraknya kasus perundungan yang dilakukan anak. Orang tua sibuk bekerja karena orientasi hidup hanya pemenuhan materi sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya dengan sempurna, menyerahkan pendidikan hanya pada sekolah,  minim perhatian dan pendampingan anak hingga anak sangat mudah mengakses informasi tanpa filter dan edukasi lewat internet. 


Alhasil semua konten dan informasi ditelan bulat-bulat tanpa penjelasan orang tua dan tanpa batasan tontonan sesuai usia anak. Hal ini adalah peran terjadinya kasus perundungan pada pelajar dan remaja. Akan tetapi, sesungguhnya ini semua hanyalah dampak. Akar masalahnya adalah akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalisme di negeri ini. Asas sekularisme telah mencabut nilai-nilai moral dan agama. Asas ini akhirnya melahirkan liberalisme yang mengagung-agungkan kebebasan, termasuk kebebasan bertingkah laku sehingga aturan agama makin terpinggirkan. 


Untuk itu, buruknya kehidupan dalam sistem sekuler kapitalisme adalah realitas yang harus diungkap. Sistem tersebut sudah sangat tidak layak dibela, bahkan memang sudah waktunya untuk ditinggalkan. Sebaliknya, sungguh Islam telah memberikan jaminan dan standar mengenai sistem kehidupan terbaik.


Allah Taala berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).


Sistem Islam atau dikenal dengan (Khilafah) adalah institusi negara yang menjadikan akidah Islam sebagai asas, memiliki aturan yang sangat terperinci dan sempurna. Islam telah menetapkan bahwa selamatnya anak dari segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan ataupun terlibatnya mereka dalam perundungan bukan hanya tanggung jawab keluarga dan lingkungan masyarakat. Negara juga memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam mewujudkan anak-anak tangguh berkepribadian Islam sehingga senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, termasuk perundungan.


Sistem Islam memiliki upaya pencegahan dan solusi komprehensif untuk menanggulangi perundungan yang dalam hal ini terdiri atas tiga pilar. Pertama, individu yang bertakwa dan keluarga yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan perbuatan. 


Kedua, masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama serta landasan interaksi dalam bermasyarakat bersumber dari Syariat Islam. Sehingga aktivitas amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari keseharian mereka. Masyarakat juga tempat terlaksananya sistem pendidikan berbasis akidah Islam sehingga menghasilkan generasi berpola pikir dan berkepribadian Islam. 


Ketiga, negara sistem Islam menerapkan sanksi tegas dan membuat jera bagi pelaku kriminal dan pelanggaran aturan Islam, yakni sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Sistem negara Islam inilah yang mampu mewujudkan perlindungan hakiki bagi warga negaranya dari berbagai tindak kejahatan sehingga keadilan hukum akan tercapai. Wallahu a'lam bissowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update