Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kirim Anak Nakal ke Barak Militer. Tepatkah?

Wednesday, May 07, 2025 | Wednesday, May 07, 2025 WIB
Kirim Anak Nakal ke Barak Militer. Tepatkah?

Oleh: Astriani Lydia, S.S


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mewujudkan gagasannya mengirim anak-anak ‘nakal’ ke barak militer. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah bekerja sama dengan TNI AD untuk melaksanakan ide Dedi tersebut.

Dedi menyebutkan akan menyiapkan anggaran selama enam bulan atau bahkan hingga satu tahun agar anak-anak yang dianggapnya berperilaku nakal dibina TNI dan Polri.


Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Wahyu Yudhayana mengonfirmasi adanya kerja sama dengan Pemprov Jabar berkaitan dengan pembinaan anak-anak. Program itu bernama Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Bela Negara Kekhususan. Dia menuturkan kekhususan diperuntukkan bagi anak-anak yang mempunyai kriteria seperti yang dijelaskan Dedi, yaitu anak-anak yang nakal di rumahnya enggak mau sekolah, pengin jajan terus, balapan motor terus, tawuran, dan sebagainya. Menurutnya, program ini bukan pendidikan militer atau pendidikan ala militer. Dia menyebutkan materi pendidikannya adalah materi yang umum diberikan seperti belajar di kelas secara normal, mulai dari bimbingan dan penyuluhan atau bimbingan konseling, latihan baris berbaris, kedisiplinan, motivasi, penyuluhan wawasan kebangsaan, bela negara, penyuluhan bahaya narkoba, permainan kelompok, hingga outbound.

Tenaga pendidik berasal dari unsur TNI AD, Polri, dinas pendidikan, dinas kesehatan, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), serta tenaga pendidik sesuai bidang masing-masing.


Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Atnike Nova Sigiro mengharapkan Dedi Mulyadi meninjau ulang keputusannya mengirim siswa bermasalah ke barak militer. Menurutnya, hal itu bukan kewenangan TNI untuk melakukan edukasi, civic education. Tidak ada permasalahan saat anak hanya pergi ke barak untuk pemahaman mengenai pendidikan karier tentara. Tetapi apabila rencana membawa anak itu dalam konteks pendidikan militer, maka itu tidak tepat.


Sebagai wilayah yang juga sering terjadi kenakalan remaja, salah satunya tawuran, 

Pemkot Bekasi menyiapkan dua markas militer untuk program pendidikan karakter dan perilaku bagi siswa SMA/SMK bermasalah di wilayahnya. Yaitu Batalyon Infanteri Mekanis 202 dan Batalyon Armed. Langkah ini bagian dari mendukung program Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirim siswa nakal ke barak militer. Walikota Bekasi

Tri Adhianto menuturkan, ini adalah proses edukasi, pembinaan mental dan disiplin untuk anak-anak yang mungkin salah pergaulan. Semangat kebangsaan dan kedisiplinan harus ditanamkan kembali.


Jika kita melihat potret remaja muslim di negeri ini memang kita tidak bisa bilang semua baik-baik saja, tapi kita juga tidak bisa bilang buram semua. Di satu sisi masih ada sebagian remaja muslim di Indonesia sudah melihat Islam sebagai identitas, mereka bangga jadi rohis dan ikut kajian-kajian keislaman.

Di sisi yang lain ada juga kondisi remaja yang sangat memprihatinkan, terjebak pada aktivitas negatif dan jumlahnya cukup besar. Selain itu kualitas kejahatannya pun makin memprihatinkan. 


Tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak hal yang mempengaruhi karakter remaja. Orang tua jelas berperan karena dari sanalah pendidikan bermula. Demikian halnya lingkungan pergaulan dan lingkungan mereka tinggal seperti lingkungan rumah, sekolah, tempat bermain, termasuk media massa. Apalagi kalau di rumah orang tua tidak membangun karakter Islami yang kuat ,maka remaja akan mudah terpengaruh. Tidak kalah penting juga adalah peran negara, di mana sistem pendidikan yang diterapkan jauh dari ajaran Islam sehingga melahirkan generasi yang serba tidak jelas, kehidupan akhirat tidak menjadi tujuan hidup mereka. Cara pandang mereka terhadap hidup dan kehidupan telah bergeser karena arus kapitalisme dan materialisme sehingga nilai kebahagiaan hanya diukur dari seberapa besar materi yang dimiliki. 


Dalam Islam, keluarga merupakan pembentuk karakter anak yang paling utama dan pertama. Harusnya dari rumah remaja sudah tahu tujuan hidup, visi hidup dan pedoman hidup itu apa; yakni Islam. Di rumah remaja harusnya bisa mendapatkan gemblengan kedisplinan, kasih sayang dan kemandirian dari kedua orang tua. Karena pada dasarnya kedua orang tuanyalah yang akan mengantarkan dan menjadikannya baik atau sebaliknya, sebagaimana hadis Rasulullah saw.


كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”


Maka, tidak tepat mengirim anak-anak yang dikatakan nakal ke barak militer. Karena solusi yang hakiki adalah mengembalikan fungsi keluarga..

Dalam hal inilah negara wajib memastikan bahwa para orang tua menjalankan tugas pokoknya dengan baik, mendidik anak-anaknya di rumahnya sesuai tuntunan Rasulullah saw. Sehingga kelak akan menghasilkan generasi tangguh dan berkualitas yang mampu mengarungi kehidupan dengan bekal pemahaman Islam yang mencukupi di usianya bahkan siap untuk memperjuangkan Islam. Selain itu, pembentukan lingkungan yang kondusif di tengah masyarakat juga tak kalah penting bagi keberlangsungan kehidupan anak. Lingkungan masyarakat yang baik menentukan corak anak untuk kehidupan selanjutnya.  Maka negara wajib menerapkan aturan Islam secara utuh dalam rangka mengatur seluruh urusan umat, menghilangkan setiap hal yang dapat merusaknya seperti terjadinya pornoaksi, peredaran pornografi, miras, narkoba dan sebagainya. Disinilah negara menjadi satu-satunya institusi yang melindungi anak dan mengatasi persoalan anak secara sempurna. Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). Dalam hadis lainnya, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update