Oleh: Atma R
Dua Mei 2025, merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dalam memperingati Hardiknas, pemerintah akan meluncurkan berbagai macam program untuk perbaikan terhadap negeri ini. Salah satu program diantaranya adalah renovasi sekolah. Jika dilihat dari banyak bangunan sekolah yang ada di Indonesia, 40 % sekolah di Indonesia mengalami kerusakan yang parah (dikutip dari pojoksatu.id). Dengan kerusakan tersebut, pemerintah berencana menggelontorkan dana sebesar 17,1 T untuk renovasi bangunan di sekolah. Namun, di sisi lain, pemerintah mengatakan bahwa dana sebesar itu hanya dapat merenovasi 11.000 sekolah, dengan jumlah sekolah kurang lebih 300.000 yang ada di Indonesia.
Perbaikan yang tidak akan merata untuk bangunan sekolah yang layak merupakan salah satu realita pahit dari gambaran penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Banyak bangunan sekolah yang memang tidak layak dijadikan sebagai tempat untuk belajar. Bangunan yang rusak, semakin hari akan semakin parah jika tidak ditindaklanjuti atau diperbaiki. Berbahaya bagi anak yang belajar di tempat tersebut. Selain itu, akan mengganggu kenyamanan anak dalam belajar.
Dalam jangka panjang, kondisi bangunan sekolah yang tidak layak dapat berdampak pada kualitas pendidikan di Indonesia. Anak-anak yang belajar di sekolah dengan bangunan yang rusak dan tidak layak dapat mengalami kesulitan dalam mencapai prestasi akademik yang optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya serius untuk memperbaiki kondisi bangunan sekolah di Indonesia.
Alokasi anggaran yang rendah, belum lagi jika nanti dikorupsi akan semakin menyebabkan buruknya sarana dan prasarana pendidikan terutama pada bangunan sekolah. Padahal setiap anak di Indonesia berhak untuk mendapatkan sarana pendidikan yang layak untuk belajar. Bangunan sekolah yang tidak layak dan tidak segera mendapatkan perbaikan di sekolah karena minim dana merupakan salah satu dampak kebijakan yang berlandaskan kapitalisme termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam sistem kapitalisme, peran negara sangat sedikit dan kurang serius dalam mengatasi setiap permasalahan. Sarana prasarana yang disediakan minimalis sesuai anggaran yang ada. Sistem ekonomi kapitalis membuat negara kesulitan menyediakan anggaran, bahkan menjadikan utang sebagai jalan untuk mendapatkan anggaran pembangunan. Selain itu, tingginya korupsi dalam bidang pendidikan makin membuat minimnya dana yang tersedia.
*Sistem Islam Memberikan Sarana Prasarana Terbaik untuk Generasi*
Berbeda dengan sistem islam, pendidikan adalah sesuatu yang penting dan merupakan bidang strategis yang akan berpengaruh terhadap kejayaan bangsa dan negara. Islam mewajibkan negara bertanggungjawab memenuhi kebutuhan pendidikan dengan gratis dan kualitas terbaik, termasuk dalam menyediakan bangunan terbaik untuk tempat belajar yang nyaman bagi anak. Sistem ekonomi islam yang menyokong pendidikan bukan berasal dari hutang mampu menyediakan sarana dan prasarana terbaik dalam bidang pendidikan. Negara dalam sistem islam memiliki sumber anggaran yang banyak dan beragam. Anggarannya berasal dari baitul mal. Baitul mal sendiri berasal dari harta kepemilikan negara seperti ganimah, khumus, jizyah dan dharibah atau dari harta kepemilikan umum seperti sumber kekayaan alam, tambang minyak, gas, hutan dan laut. Negara dalam sistem islam sangat menjamin kelayakan sarana dan prasarana dalam bidang pendidikan.
Dalam sistem islam, negara akan mengoptimalkan anggaran untuk renovasi sekolah dan memastikan bahwa dana tersebut digunakan secara efektif dan efisien. Pengawasan yang ketat untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan dana akan dilakukan.
Dalam sistem islam, pendidikan merupakan prioritas utama yang harus dipenuhi oleh negara. Negara bertanggungjawab untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Sarana pendidikan yang layak dan berkualitas, akan membuat generasi mencapai prestasi akademik yang optimal dan menjadi generasi yang berkualitas di masa depan.
Dengan demikian, perlu dilakukan perubahan sistem yang lebih baik dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sistem yang lebih baik akan dapat menjamin kelayakan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan mencapai prestasi akademik yang optimal.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam tentang bagaimana sistem islam dapat diimplementasikan dalam bidang pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan bahwa anak-anak di Indonesia dapat menikmati pendidikan yang berkualitas dan dapat menjadi generasi yang berkualitas di masa depan.

No comments:
Post a Comment