Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Musuh Islam Pecah Kongsi : Umat Islam, Sampai Kapan Terlelap?

Saturday, May 17, 2025 | Saturday, May 17, 2025 WIB Last Updated 2025-05-17T06:05:59Z
Ketika Musuh Islam Pecah Kongsi : Umat Islam, Sampai Kapan Terlelap?

Oleh: Fina Khairatun Hisan


Hubungan mesra antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri entitas Zionis Benjamin Netanyahu yang selama ini dipertontonkan kepada dunia, kini mengalami keretakan serius. Trump secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah memutus hubungan dengan Netanyahu. Seperti dilansir dari berbagai sumber termasuk Tempo.co dan Republika, Trump secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah memutus hubungan dengan Netanyahu. Alasannya, Netanyahu dianggap telah memanipulasi dirinya.


Trump menuding Netanyahu gagal memberikan rencana konkret terkait ancaman Iran dan kelompok Houthi di Yaman. Ia juga kecewa karena Netanyahu tidak mampu menyusun proposal nyata terkait solusi di Gaza. Puncak kekecewaan Trump adalah saat Netanyahu dengan cepat mengucapkan selamat kepada Joe Biden pasca Pilpres AS, langkah yang ia anggap sebagai “pengkhianatan”.


Persatuan Semu yang Rapuh

Keretakan ini menyibak fakta bahwa persatuan antara kekuatan global anti-Islam sejatinya hanyalah ikatan kepentingan sesaat. Mereka bisa bersatu dalam membenci dan memerangi umat Islam, namun tetap saling curiga dan bersaing dalam mempertahankan dominasi serta agenda politik masing-masing. Inilah gambaran nyata dari persatuan yang rapuh, penuh kepalsuan, dan mudah runtuh saat kepentingan tidak lagi sejalan. Kerapuhan persatuan musuh-musuh Islam tersebut telah Allah SWT gambarkan dalam Al-Qur’an:


“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali di kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. 


Permusuhan antara mereka sangat hebat. Kamu kira mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. Al-Hasyr: 14).


Ayat ini menjelaskan bahwa musuh-musuh Islam tidak memiliki ikatan hakiki. Persatuan mereka bersifat semu, dibangun di atas kepentingan duniawi, bukan prinsip. Maka saat muncul gesekan, pertikaian dan perpecahan pun tak terelakkan.


Umat Islam: Bangkitkan Potensi, Satu Barisan Melawan Musuh


Ironisnya, justru umat Islam yang memiliki akidah sebagai pemersatu malah belum bersatu secara hakiki. Padahal umat ini memiliki risalah yang sempurna, sejarah peradaban agung yang tak tertandingi, serta memiliki potensi sumber daya yang besar. Di masa lalu, umat Islam tampil sebagai umat terbaik dan mampu menjadi kekuatan global yang disegani, menjadi pelita dan pmimpin peradaban yang menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia. Predikat umat terbaik ini Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur'an:


"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Al-Imran:10).


Namun, saat ini umat Islam tercerai-berai oleh batas-batas negara, nasionalisme sempit, dan pengaruh ideologi asing. Potensi kekuatan itu terkubur oleh sekat-sekat buatan penjajah yang terus dipertahankan oleh rezim-rezim penguasa boneka di negeri-negeri Islam. Padahal, jika umat ini bangkit dan kembali membangun kehidupannya atas dasar akidah Islam, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, maka tak ada kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi kebangkitannya.


Umat ini memiliki segala modal untuk kembali menjadi pemimpin peradaban: jumlah yang besar, sumber daya melimpah, serta ajaran yang paripurna dalam mengatur seluruh aspek kehidupan.


Yang dibutuhkan umat saat ini adalah kesadaran politik dan ideologis. Umat harus menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan besar yang dapat menghancurkan dominasi musuh-musuh Islam. 


Kekuatan itu akan bangkit bila umat dibina dengan dakwah Islam ideologis, yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar dan arah perjuangan.


Perjuangan Ideologis dan Peran Jamaah Dakwah

Kesadaran ini tidak mungkin muncul secara individual atau spontan. Dibutuhkan peran jamaah dakwah ideologis yang terorganisir dan istiqamah dalam membawa umat menuju perubahan sistemik. 


Jamaah ini harus menjadikan metode perjuangan Rasulullah SAW sebagai teladan, mulai dari pembinaan individu, membentuk opini umum berbasis Islam, hingga membangun kekuatan politik. 


Membimbing umat untuk menapaki jalan perubahan hakiki, perubahan yang tidak sekadar kosmetik politik atau pergantian elite kekuasaan, tetapi perubahan sistemik menuju tegaknya syariat Islam secara kaffah.


Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang jelas dalam menegakkan kekuasaan Islam di Madinah melalui dakwah yang sabar, konsisten, dan terorganisir. Perubahan besar itu dimulai dari perubahan pola pikir umat, hingga akhirnya melahirkan struktur kekuasaan yang dibangun di atas landasan wahyu, bukan kepentingan duniawi.


Hanya dengan persatuan sejati yang dibangun atas dasar akidah, umat Islam dapat mengembalikan kemuliaannya. Inilah yang akan menjadi jalan lahirnya kembali Khilafah Islamiyah, institusi kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin dan Manusia di Bumi.


Khilafah: Perisai Umat, Kekuatan Dunia

Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Muslim yang kini terpecah-belah, membebaskan Palestina dan wilayah-wilayah terjajah lainnya, serta menantang dominasi kekuatan global seperti AS, Eropa, dan sekutu-sekutu Zionisnya. 


Dengan jihad yang dipimpin oleh negara Khilafah, pembebasan Al-Aqsha bukan sekadar mimpi. Sebab, Khilafah akan menjadi negara adidaya baru yang benar-benar menegakkan keadilan, melindungi umat, dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi.


Retaknya hubungan antara Trump dan Netanyahu bukan sekadar drama politik. Ia adalah pelajaran penting bagi umat Islam bahwa musuh-musuh Islam tidak pernah benar-benar bersatu. Hanya umat Islam yang bisa membangun persatuan sejati—bukan di atas nasionalisme, mazhab, atau kelompok, tapi di atas akidah Islam yang satu.


Kini saatnya umat bangkit. Saatnya kembali kepada Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan. Saatnya bersatu dalam perjuangan untuk menegakkan Khilafah. Inilah jalan kemenangan sejati. Inilah jalan kemuliaan umat.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update