Oleh
Nayla Shofy Arina (Pegiat Literasi)
Derita Gaza masih berlanjut, serangan demi serangan masih digencarkan oleh Zionis Israel Yahudi meski telah tercapai kesepakatan gencatan senjata, bahkan pasca gencatan senjata kondisinya jauh lebih mencekam. Penyerangan makin masif dan sadis. Mereka tidak segan membom dan membakar pengungsian, penduduknya dibantai habis-habisan, termasuk bayi, anak-anak, wanita, lansia, para jurnalis, tenaga medis, hingga relawan kemanusiaan, walau pun telah dalam keadaan sakit atau cacat tetap menjadi target mereka.
Per April 2025, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), merilis data, jumlah korban anak yang tewas sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret 2025 mencapai 600 orang dari 1.522 orang korban. Sementara jumlah anak-anak yang terluka mencapai lebih dari 1.600 orang, dari total 3.834 korban.
Ditambah krisis pangan akibat pemberlakuan blokade darat, membuat keadaan semakin memburuk dan kesulitan mempertahankan hidup. Mereka mengalami kelaparan hebat, kekurangan obat-obatan dan tidak mendapatkan perawatan medis.
Mirisnya lagi, para penguasa negari bahkan negari muslim sekalipun tidak mampu untuk mengambil tindakan selain hanya bisa mengecam dan mengutuk serta menawarkan solusi dua negara. Gertakan mereka tidak berpengaruh sama sekali.
*Intervensi AS terhadap Palestina*
Merespon hal ini, Presiden Prabowo mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengevakuasi Warga Gaza dengan mengirimkan pesawat untuk membawa sekitar 1.000 orang untuk gelombang pertama. Namun, hal tersebut dinilai kontroversial. Ditengah ramainya perbincangan terkait kebijakan pemberlakuan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.
Upaya Prabowo dinilai sedang bernegosiasi agar mau mengurangi besaran tarif yang diduga bisa mengguncang perekonomian dalam negeri. Hal ini sangat disayangkan jika benar terjadi, karena dikhawatirkan upaya tersebut sejalan dengan proyek Riviera Timur Tengah, dimana Trump dan pihak Zionis ingin mengambil alih Gaza, merekonstruksinya dan mengusir warga yang ada disana.
Meskipun menurut Prabowo, evakuasi ini hanya bersifat sementara, pengungsi akan dikembalikan jika kondisinya dan wilayah di Gaza sudah membaik. Namun fakta pengalaman sejarah membuktikan tabiat dari Zionis itu sendiri sebagaimana yang terjadi saat kesepakatan gencatan senjata, pihak Zionis justru melanggarnya.
Derita rasa sakit, tangis, jeritan meminta pertolongan kepada dunia tak cukup mampu membangunkan para pemimpin yang memiliki kekuasaan sekalipun saudara seiman. Mata mereka melihat namun hanya cukup memandangi keadaan, ditangan mereka ada kekuasaan namun tak mampu menggerakkan militer disetiap wilayah mereka untuk membantu Gaza.
Ketidakberdayaan negara-negara di dunia khususnya negeri Islam untuk menunjukkan sikap tegas kepada negara adidaya penyokong dan pendukung genosida di Gaza telah membuka kedok keberpihakan mereka kepada tuannya. Hal ini makin nyata bahwa pembelaan atas kesengsaraan saudara-saudara kita di Gaza tidak akan pernah diberikan terkhusus oleh penguasa yang ada di kawasan sekitar Palestina.
*Jihad dam Khilafah Solusinya*
Sejatinya pemberlakuan evakuasi, pengiriman bantuan logistik, dan seruan boikot produk yang terafiliasi dengan Zionis hanyalah solusi parsial yang tidak menyentuh akar persoalan yakni menghentikan genosida secara total di Gaza. Satu-satunya solusi adalah mengumandangkan jihad melawan zionis (penjajah) di tanah kaum muslim. Entitas Zionis Yahudi muhariban fi’lan musuh nyata kaum muslim, mereka hanya dapat diselesaikan dengan bahasa perang.
Sebab Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum muslim di seluruh dunia. Tidak seorang pun boleh menyerahkannya pada pihak lain, terlebih kepada penjajah. Sikap semestinya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak dengan tegas untuk menyerahkan tanah Palestina kepada kaum kafir, walaupun hanya sejengkal. Selain itu, kaum muslim terikat dengan perjanjian Umariyyah yang melarang kaum Zionis Yahudi memasuki dan menetap di Yerussalem.
Hanya saja saat ini, isu terkait jihad dan penerapan sistem kepemimpinan Islam yakni khilafah masih menjadi hal yang tabu dan belum menjadi opini umum ditengah umat. Justru banyak dari kaum muslim yang menganggap ini ancaman, karena mereka telah dipengaruhi fitnah yang dibuat oleh Barat untuk menghalangi penegakannya.
Padahal jelas bahwa jihad dan khilafah adalah kewajiban dan perintah dari Allah SWT. “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 191).
“Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 194).
“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan.” (QS Al-Anfal [8]: 72).
Karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslim memberikan pembelaan dan pertolongan bagi saudaranya yang sedang tertindas. Hanya saja, diperlukan adanya kekuatan dari negara untuk mengumandangkan seruan jihad melawan penjajah. Para pemimpin muslim dibelahan dunia manapun wajib mengerahkan pasukan militer untuk menolong muslim di Gaza. Sebab sikap diamnya kita atas penindasan terhadap saudara di Gaza kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT di Yaumul Hisab.
Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh hilangnya dunia ini jauh lebih ringan bagi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR An-Nasa’i dan Tirmidzi). Semoga Khilafah segera terwujud, sehingga tentara muslim dapat berjihad membebaskan Palestina dari Zionis. Wallahu a’lam bisshowab

No comments:
Post a Comment