D Budiarti Saputri
Tenaga
Kesehatan
Ujian Tulis Berbasis
Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2025 barus
saja terlaksana. Sayangnya banyak dugaan kecurangan dalam prosesnya. Hal ini
sampai viral di sosial media.
Panitia SNPMB menyayangkan
dan mengutuk kecurangan dalam pelaksanaan UTBK SNBT 2025. Pasalnya, hal ini
dianggap mencederai prinsip keadilan, integritas dan kejujuran yang menjadi
dasar seleksi nasional. Terkait adanya dugaan soal yang bocor di berbagai
platform media sosial (medsos), panitia menegaskan bahwa itu bukan bocoran
soal, melainkan kecurangan oknum peserta yang merekam soal di sesi pertama
UTBK. Panitia menekankan bahwa terdapat perbedaan soal dalam setiap sesi yang
diselenggarakan, meskipun dilaksanakan pada hari yang bersamaan. Lebih lanjut,
panitia juga menyoroti adanya modus kecurangan baru oleh sejumlah peserta UTBK
SNBT 2025, yakni memasang kamera yang tidak terdeteksi metal detector di behel gigi,
kuku, ikat pinggang dan kancing baju. Dikutip dari beritasatu.com (25/4/25).
Pemanfaatan Teknologi untuk mengakali test
UTBK menggambarkan buruknya akhlak calon mahasiswa. Hal ini juga mengukuhkan gagalnya sistem pendidikan
dalam mewujudkan generasi berkepribadian Islam dan memiliki keterampilan. Hal
ini dikuatkan oleh survey KPK, yang menyebutkan banyak siswa SMA dan mahasiswa
yang menyontek.
Kecurangan sistematis ini akan selalu terjadi
dalam sistem kapitalis sekuler. Hal ini berdampak pada lahirnya sumber daya
manusia (SDM) yang culas, bermental lemah, enggan bekerja keras, serta tidak
kapabel. Selain itu hanya menjadikan generasi yang berorientasi pada hasil
serta mengabaikan halal haram. Hal ini adalah buah dari sistem hidup saat ini
yang berlandaskan kapitalisme. Sistem kapitalis menjadikan ukuran kebahagiaan berorientasi
pada hasil/ materi.
Kurikulum pendidikan yang sekuler memberi
porsi amat sedikit pada materi pendidikan agama Islam. Pada madrasah memang
porsinya lebih banyak, meski tidak sebanyak pelajaran umum, tetapi konten
materinya makin sekuler seiring dengan arus moderasi pendidikan.
Materi Islam disampaikan hanya sebagai hafalan demi mendapatkan nilai bagus, bukan untuk diamalkan sebagai karakter muslim bertakwa. Akibatnya, materi agama Islam tidak membekas pada perilaku siswa, termasuk ketika mengerjakan ujian. Ditambah lagi para guru disibukkan dengan mengejar jumlah jam mengajar demi memperoleh tunjangan dan kewajiban administrasi yang banyak dan rumit sehingga kurang memperhatikan aspek kepribadian siswa.
Islam menjadikan ukuran kebahagiaan adalah keridaan
Allah. Negara Islam akan menjaga agar setiap individu senantiasa terikat dengan
aturan Allah. Sistem Pendidikan Islam berasas akidah Islam akan mencetak
generasi unggul berkepribadian Islam, terikat pada syariat Allah, memiliki
ketrampilan yang handal, dan menjadi agen perubahan. Dengan kuatnya kepribadian
Islam, kemajuan teknologi pun akan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah,
dan untuk meninggikan kalimat Allah Swt. Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment