By Fifi
E-sport kian diminati kalangan pelajar, terlihat dari munculnya komunitas-komunitas kecil di berbagai sekolah. Salah satunya adalah SMA Negeri 5 Balikpapan. Tim Mobile Legends mereka eksis ikut turnamen lokal untuk satu tahun terakhir ini.
Semangat dan kekompakan dalam bertanding menjadi modal utama mereka walaupun fasilitas dan dukungan formal dari sekolah masih minim. Fenomena ini menjadi cermin pertumbuhan komunitas e-sport pelajar di Balikpapan yang berkembang secara mandiri dan kolektif. Dengan meningkatnya penggelaran turnamen, para pelajar berharap aka nada perhatian lebih dari sekolah maupun pemerintah kota untuk mendukung jalur prestasi mereka di era kancah digital ini.
Generasi saat ini merupakan bentuk dari adanya penerapan Sistem Pendidikan yang sekuler. Pendidikan sekuler menjauhkan dari tujuan utama Pendidikan, yakni membentuk karakter dan akhlak mulia, serta mengarahkan potensi generasi untuk kemaslahatam umat. Sebaliknya, Pendidikan skuler mencetak genarasi yang hedon, materialistis dan memandangi prestasi sebagai materi. Hal ini diperparah oleh budaya kompetensi yang dangkalm Dimana penghargaan lebih sering diberikan kepada prestasi yang viral atau menghibur, bukan yang berdampak jangka Panjang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Disisi lain, sistem ekonomi kapitalisme juga ikut andil dalam membajak potensi generasi melalui industri game dan e-sport. Dunia game, yang awalnya hanya untuk hiburan, kini berubah menjadi industri besar yang sangat menguntungkan. Sayangnya, di balik eksisnya berisi konten-konten negatif yang berpotensi merusak mental dan perilaku generasi muda, seperti kekerasan, budaya komsumtif, hingga kencaduan. Mereka didorong untuk mengahabiskan waktu dan energi demi kesenangan sesaat, padahal masa muda adalah masa yang sangat penting dalam membangun fondasi kecerdasan, kreativitas, dan kepemimpinan.
Dalam Islam, pemuda memiliki posisi yang strategis dalam membangun dan membangkitkan peradaban. Mereka adalah pilar kekuatan umat yang harus diarahkan pada jalan yang benar dan bermanfaat. Islam bukan hanya mengakui potensi besar pemuda, tetapi juga memfasilitasi dengan sistem yang kokoh untuk mengembangkan potensi tersebut, salah satunya adalah sistem Pendidikan Islam. Sistem ini bukan hanya mendidik secara akademik, namun juga membina akidah, akhlak, dan kepribadian agar terbentuk generasi yang tangguh, berilmu, dan bertakwa. Inilah sistem yang pernah melahirkan generasi emas dalam sejarah islam. Melahirkan pemuda ilmuwan, pemikir, dan pemimpin hebat, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan Imam Syafi’i. Mereka adalah bukti nyata dari output pendidikan islam, yang bukan hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga bertakwa dan bermanfaat bagi umat.
Islam juga memberi ruang pada aktivitas fisik dan hiburan, termasuk olahraga dan permainan. Rasulullah bahkan menganjurkan olahraga seperti memanah, berkuda, dan berenang dalam beberapa hadisnya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang, memperhatikan kebutuhan ruhani dan jasmani manusia selama tidak melalaikan kewajiban atau mengandung kemaksiatan. Dengan demikian, game bisa menjadi hiburan selama masih batas syariat. Namun, saat ini ketika game justru mengandung konten negatif, menyebabkan kecanduan, dan menjauhkan dari hakikat pendidikan, maka perlu adanya pengendalian dan pengarahan yang tegas agar tidak menjerumuskan generasi pada kesia-siaan.
Sistem pendidikan Islam hadir bukan untuk membatasi kebebasan pemuda, tetapi untuk mengarahkan kebebasan itu agar berbuah manfaat besar bagi umat. Potensi mereka yang tidak berhenti pada pencapaian yang semu, tetapi diarahkan menjadi pionir dalam berbagai bidang penting seperti : sains, kedokteran, pendidikan , teknologi, dan pemerintahan. Inilah yang harusnya menjadi bentuk kebanggan generasi saat ini, mampu berkontribusi nyata bagi umat dan mampu mengembalikan kejayaan Islam ke tengah dunia. Oleh sebab itu, dalam islam pelajar dan pemuda bukan hanya aset masa depan, tetapi juga aktor utama perubahan yang harus dibina, dididik, dan diarahkan dengan sistem yang benar, yaitu sistem Islam yang telah terbukti melahirkan kejayaan peradaban selama berabad-abad.
Berkaca pada para generasi terdahulu, semua tokoh islam itu lahir ketika islam diterapkan secara sistematis dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pemerintahan. Ketika syariat Islam menjadi dasar dalam mengatur masyarakat, maka akan melahirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya pemikiran, keilmuwan, dan kemuliaan akhlak. Negara Islam saat itu bukan hanya memberikan fasilitas terhadap ilmu, tetapi juga dijadikan ilmu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Dalam lingkungan seperti inilah lahir generasi yang tidak hanya menguasai ilmu dunia, tetapi juga menjadikan ilmunya sebagai sarana membela agama dan melayani umat. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan umat Islam di masa lalu bukanlah hasil dari kebetulan, melainkan buah dari penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh). Wallahu a’lam bish shawwab.

No comments:
Post a Comment