(Pemerhati Umat)
Dalam program dialog Publika di TVRI Kaltim, Senin (21/4), Sekrov Kaltim sebagai nara sumber Sri Wahyuni, mengatakan pada peringatan hari Kartini memaknai perempuan punya peran dan kontribusi yang sama dengan laki-laki, dalam semua bidang pekerjaan.
Katanya perempuan harus ikut berperan, dalam pekerjaan yang selama ini banyak dilakukan laki-laki. Karena sudah terlihat saat ini pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki sudah banyak dilakukan perempuan, seperti menjadi supir angkutan, menteri bahkan presiden, dan peluang kearah yang dibidang apapun terbuka lebar untuk perempuan ambil bagian.
Fakta yang terlihat saat ini, bahwa perempuan mengalami banyak perubahan dalam kedudukannya atau fitrahnya dari sosok yang lemah, menjadi perempuan kuat tangguh dan siap bersaing dalam menyamai laki-laki dalam menghasilkan materi. Sebenarnya persamaan seperti apa yang ingin perempuan capai ?
Dominasi Peran Perempuan
Peringatan hari Kartini ini dijadikan momen yang pas bagi kaum feminis gender (kaum yang memperjuangan persamaan hak perempuan dan laki-laki) untuk mengkampanyekan atau memperjuangkan kesetaraan keduanya, mempunyai andil yang sama diruang publik. Ini didukung oleh sistem yang ada saat ini demokrasi kapitalisme, yang menganut sekularisme (menjauhkan peran agama dalam pengaturan kehidupan) yang hasilnya kebebasan dalam berprilaku dan berpendapat.
Perempuan saat ini banyak yang keluar dari fitrahnya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Mereka ikut ambil bagian dalam mencari nafkah dan sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu. ini yang sangat mengkhawatirkan. Banyaknya kasus-kasus kenakalan anak-anak yang terjadi karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya terutama ibunya. Hilangnya peran ibu untuk anak-anak merupakan permasalahan yang harus diperhatikan oleh banyak pihak.
Kalau kita lihat sebenarnya perempuan dan laki-laki sama-sama menjadi korban sistem karena sistem Kapitalisme ini menyebabkan banyaknya ketidakadilan dan ketimpangan sosial di masyarakat. Kemiskinan yang merajelela membuat perempuan ikut membantu mencari nafkah mencukupi kebutuhan keluarga. Sedangkan para laki-laki sulit mencari kerja dengan banyaknya PHK dimana-mana. Akibatnya kesejahteraan rakyat tidak terpenuhi.
Banyaknya sumberdaya alam yang melimpah didalam negeri sendiri namun tidak bisa mensejahterakan rakyatnya. Ini terjadi karena sistem kapitalisme ini menganut asas manfaat atau hanya memikirkan keuntungan. Menyerahkan bagi siapa saja yang mempunyai modal untuk mengambil sumber daya alam untuk dikelolanya. Padahal seharusnya itu milik umum yang harusnya dikelola pemerintah untuk dikembalikan kepada rakyatnya. Akhirnya perempuan didorong untuk ikut bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Dari sisi yang lain, karena prinsip ekonomi dalam kapitalis memperoleh untung yang besar-besarnya dengan modal yang sekecil- kecilnya, keterlibatan perempuan dalam produksi adalah keniscayaan, dengan dalih kesetaraan, keadilan pemberdayaan dan kemajuan perempuan. mereka dijadikan mesin-mesin ekonomi dalam rangka menggemukan harta pemilik modal. Slogan yang menjadikan isu kesetaraan sebagai senjatanya adalah "Perempuan Berdaya Ekonomi Maju". Slogan cantik yang membuat para perempuan terbuai.
Sejatinya Kemuliaan Ada Pada Islam
Kartini mengusahakan pengajaran dan pendidikan untuk anak-anak dan perempuan, bukan menjadikan perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Karena perempuan yang terampil dan cakap dalam melakukan kewajibannya sebagai istri dan ibu pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya merupakan fitrah yang diberikan Allah SWT. Perempuan harus cerdas untuk kapasitasnya dalam beramal sholeh, untuk memenuhi kewajibannya sebagai hamba Allah SWT. Perempuan punya kesempatan banyak untuk memastikan tugas dan fungsinya bisa berjalan baik, sehingga sejarah peradaban Islam melahirkan generasi tangguh dari tangan kaum perempuan. Yaitu sebagai fungsi politis strategis sebagai arsitek peradaban cemerlang.
Aturan dalam syariat Islam mengikat perempuan dalam rangka menjaga kemuliaannya sebagai pencetak generasi, karena dari generasi inilah penentu bangkit dan runtuhnya peradaban. Pemberdayaan perempuan dalam Islam adalah mengoftimalkan potensi dan peran publiknya dalam berdakwak amar ma'ruf nahi mungkar dengan tsaqofah Islam.
Hukum perempuan bekerja adalah mubah dan pekerjaan tidak boleh melalaikan dari tugas utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi. Dalam Islam kewajiban nafkah dibebankan oleh laki-laki dan negara memberikan lapangan kerja kepada laki-laki. Para wali nafkah yang lain sebagai wakil bila salah satunya tidak ada dan bila semua tidak ada negara wajib menjamin kebutuhannya sehingga perempuan tidak perlu mencari kerja. Dalam hal tertentu perempuan dilarang bekerja yang posisinya sebagai penguasa dalam mengambil kebijakan seperti menjadi presiden, mentri dan gubernur. Islam menjamin hak yang sama dalam menempuh pendidikan. Perempuan boleh menjadi guru, insinyur, dokter dan lain-lain untuk kemaslahatan umat. Bekerjanya bukan untuk mencari uang tetapi sebagai ibu arsitek perdababan untuk menyiapkan generasi cerdas dan saleh sholehah.
Hanya Islam yang mampu menempatkan perempuan ke fitrahnya pada kedudukannya yang mulia. Di dalam Islam tidak ada perempuan yang terpinggirkan dan terpojokkan karena perempuan juga tidak dibebani dengan persoalan mencari nafkah sampai meninggalkan tugas utamanya sebagai ummum warabatul bait.
Wallahu a'lam bissawab

No comments:
Post a Comment