Oleh Ummu Abror
Pendidik Generasi
Tahun ini Kabupaten Bandung genap memasuki usia ke 384, tentu bukan angka yang sedikit. Pada momen ini, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengungkapkan rasa syukurnya dalam sebuah acara rapat Paripurna di Gedung DPRD Kabupaten Bandung, Soreang.
Moment istimewa tersebut dimanfaatkan Pemkab Bandung untuk memperkuat komitmen peningkatan pembangunan daerah. Bupati Dadang Supriatna yang akrab disapa DS itu juga menekankan pentingnya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan memfokuskannya sebagai fondasi utama di masa depan. Selain itu menurutnya pembangunan infrastruktur juga mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi pada satu daerah. Sehingga nantinya SDM berkualitas akan mampu meningkatkan ketahanan, serta terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan. (Tribunjabar.com 21/4/2025).
Maju mundurnya sebuah peradaban tentunya akan ditentukan oleh persiapan SDM juga sarana yang unggul. Wajar jika sebagian orang menilai apa yang diupayakan oleh Pemkab tersebut perlu untuk diapresiasi, mengingat saat ini kita tengah mengalami bonus demografi yang konon akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 nanti. Berdasarkan data Badan pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia memiliki sekitar 272 juta penduduk, di mana lebih dari 70% di antaranya berada dalam usia produktif, yaitu sekitar 190 juta jiwa pada tahun 2024.
Sayangnya angka itu tidak diimbangi dengan kualitas SDM yang unggul, sehingga hal itu menjadi tantangan yang serius bagi pemerintah dalam menghadapi tuntutan dari kemajuan zaman. Terbukti dengan berbagai permasalahan yang ada saat ini. Banyak masyarakat yang berpendidikan rendah, bahkan tidak mengenyam bangku sekolah sama sekali, menyebabkan mereka tak mampu bersaing dalam dunia kerja. Ditambah lagi dengan minimnya lapangan pekerjaan, biaya hidup dan kesehatan yang mahal, berimbas pada tingginya angka stunting, kemiskinan, kelaparan, serta maraknya kejahatan.
Fakta buruk ini tidak hanya terjadi pada kalangan rakyat biasa, orang yang berpendidikan tinggi pun tidak segan-segan menjadi pelaku korupsi, pelecehan seksual, kekerasan dan berbagai kasus tindak kriminal yang lainnya. Hal itu membuktikan bahwa saat ini kita mengalami berbagai krisis, baik moral maupun kualitas SDM rendah yang bersifat sistemis. Jika pembangunan SDM tidak berdasarkan pada landasan yang mendasar, maka hasilnya tidak akan sesuai harapan. Seperti upaya-upaya yang telah ditempuh oleh pemerintah sebelumnya, nyata-nyata telah gagal dalam membangun dan mencetak generasi yang unggul.
Semua itu disebabkan karena landasan yang dipakai adalah sudut pandang dari sistem kapitalisme sekulerisme, yang memandang SDM adalah salah satu dari komponen alat produksi yang orientasi pembangunannya hanya untuk kebutuhan dunia kerja atau bernilai ekonomi semata bukan pembangun peradaban. Dalam bidang pendidikan berubah-ubah nya kurikulum, pelatihan bagi guru di daerah tertinggal, penyediaan sarana dan prasarana sekolah, yang nyatanya semua itu belum membuahkan hasil yang signifikan.
Upaya meningkatkan keterampilan melalui Program Kartu Prakerja dan pelatihan berbasis teknologi, nyatanya tidak mampu diakses oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan kerap disalahgunakan oleh para oknum yang tidak bertanggungjawab untuk meraup keuntungan.
Untuk menghadapi bonus demografi agar menjadi berkah, terwujudnya SDM unggul dibutuhkan sistem alternatif. Sistem itu tidak lain adalah yang berasal dari Zat yang Maha Baik yaitu Islam. Hal itu menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar lagi, di mana akidah menjadi pondasi dalam berpikir dan beramal, serta menjadikan rida Allah sebagai tujuan.
Islam memandang penduduk bukan sebagai aset ekonomi, melainkan sebagai umat yang akan mengelola bumi dengan hukum Allah dan mengemban dakwahnya ke seluruh penjuru dunia. Maka mempersiapkan generasi yang terbaik merupakan suatu keharusan. Dimulai dari pengkondisian individu-individu agar mereka paham akan tujuan hidupnya, tugas serta kewajibannya sebagai hamba Allah Swt.
Para pemuda haruslah menyadari filosofi dasar menuntut ilmu sebagai kewajiban, yakni sebagai sarana untuk menjadi hamba Allah yang mampu memperkuat kemampuannya dalam mengurus bumi. Maka hal ini harus didukung dengan sistem pendidikan yang berbasis pada kemanfaatan bagi umat bukan untuk melangengkan kapitalisme.
Pada level masyarakat, akan tercipta suasana yang mendukung tumbuh kembang generasi serta kesadaran melakukan amar makruf nahi mungkar. Sedangkan pada tataran negara, harus ada jaminan terpenuhinya kebutuhan rakyatnya dengan menerapkan seluruh aturan Islam pada semua aspek kehidupan, seperti: pendidikan, kesehatan, ekonomi, sanksi, dan pemerintahan. Sehingga kesejahteraan akan terwujud karena didukung oleh sistem yang tepat. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf: 96)
Jika seluruh sistem Islam itu diterapkan secara menyeluruh maka bonus demografi akan menjadi berkah, bukan musibah, dan predikat sebagai sebaik-baik umat akan kembali disematkan pada umat nabi Muhammad saw. saat ini.
Wa’llahu a’lam bi as shawwab.
No comments:
Post a Comment