Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Biaya Pendidikan Tinggi dalam Sistem Kapitalisme Menyebabkan Banyak Anak Terpaksa Putus Sekolah Oleh: Aning Juningsih (Aktivis Muslimah)

Saturday, May 10, 2025 | Saturday, May 10, 2025 WIB Last Updated 2025-05-10T03:03:46Z

 

Bagi banyak keluarga di Indonesia, harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan hanyalah angan-angan yang sulit diwujudkan. Akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi kendala besar, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Padahal, sejatinya pendidikan adalah hak setiap individu, bukan hanya hak istimewa bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial. Namun, sistem kapitalis yang kini mendominasi telah mengubah pendidikan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dijangkau.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, rata-rata lama bersekolah penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas hanya 9,22 tahun, setara dengan tingkat SMP. Walaupun sedikit meningkat dari tahun sebelumnya, angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar penduduk belum mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau lebih tinggi. Artinya, masih ada persoalan mendalam dalam struktur pendidikan nasional.


Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa meski angka tersebut melebihi target RPJMN, realitasnya masih menunjukkan rendahnya pencapaian pendidikan masyarakat. Tercatat bahwa hanya sekitar 10% penduduk yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, sementara sebagian besar lainnya hanya sampai tingkat SMA atau bahkan lebih rendah.


Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program seperti KIP Kuliah, sekolah gratis, bantuan pendidikan, hingga pelatihan vokasi. Namun, upaya ini belum cukup mengatasi kesenjangan yang ada. Tiga penyebab utama anak-anak putus sekolah antara lain:


1. Masalah Ekonomi

Kemiskinan menjadi penyebab utama sulitnya akses ke pendidikan. Biaya yang tinggi—termasuk kebutuhan seperti seragam, buku, dan transportasi—membebani keluarga miskin. Sekolah negeri yang katanya gratis pun sering kali tetap memungut biaya tambahan. Akibatnya, banyak anak yang memilih bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.


2. Akses yang Sulit

Di wilayah pelosok, fasilitas infrastruktur yang buruk membuat anak-anak harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya demi bersekolah. Hal ini memengaruhi semangat dan keberlanjutan pendidikan mereka.


3. Fasilitas Sekolah yang Tidak Memadai

Banyak sekolah mengalami kerusakan parah. Hampir separuh sekolah dasar di Indonesia, menurut data Kemendikdasmen dan BPS 2024, berada dalam kondisi tidak layak. Sarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan akses internet sering kali tidak tersedia. Bahkan, ada sekolah yang terpaksa melakukan kegiatan belajar-mengajar di luar ruangan.


Dampak Kapitalisme terhadap Dunia Pendidikan

Dalam sistem kapitalis, pendidikan diperlakukan sebagai barang dagangan yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas. Mereka yang berasal dari keluarga miskin hanya bisa berharap pada pendidikan seadanya. Slogan "orang miskin dilarang sekolah" menjadi gambaran nyata ketimpangan ini. Pendidikan tidak lagi menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan, tapi justru memperlebar jurang sosial.


Walaupun konstitusi menjamin pendidikan sebagai hak semua warga, kenyataannya sistem kapitalisme menjadikan hal itu sulit diwujudkan. Kurikulum lebih diarahkan untuk mencetak tenaga kerja murah ketimbang membentuk generasi yang berpikir kritis dan berakhlak. Dulu, Indonesia dikenal sebagai negeri yang banyak menghasilkan guru dan pendidik berkualitas. Kini, lulusan sekolah banyak yang berakhir sebagai pekerja kasar atau asisten rumah tangga di luar negeri.


Masalah ini diperburuk oleh ketidakjelasan arah kebijakan pendidikan. Pergantian menteri seringkali diiringi dengan perubahan kurikulum, sehingga tidak ada kesinambungan dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan juga belum menjadi prioritas utama dalam anggaran negara.


Pandangan Islam terhadap Pendidikan

Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan pokok yang menjadi tanggung jawab negara. Dalam sistem Khilafah, pendidikan diberikan secara gratis dan merata kepada seluruh rakyat. Negara menanggung semua pembiayaan melalui Baitul Mal, yang sumber dananya berasal dari kekayaan negara seperti kharaj dan fai. Jika dana tidak cukup, pajak hanya dikenakan kepada warga kaya dan hanya dalam situasi darurat.


Islam tidak sekadar memfokuskan pada penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter Islami. Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah menciptakan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak tinggi. Negara juga bertanggung jawab menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai hingga ke pelosok negeri, sehingga tidak ada lagi kesenjangan antara kota dan desa.


Dalam sejarah, Khilafah Islam pernah mendirikan lembaga pendidikan ternama seperti Madrasah Nizamiyah dan An-Nashiriyah yang menyediakan fasilitas lengkap, asrama, dan gaji bagi tenaga pendidik. Semua layanan ini diberikan tanpa biaya kepada masyarakat.


Penutup

Permasalahan pendidikan hari ini bukan hanya soal teknis, tapi merupakan dampak sistemik dari kapitalisme yang abai terhadap hak rakyat. Hanya sistem Islam yang mampu menjamin pendidikan berkualitas secara merata tanpa diskriminasi. Maka sudah saatnya umat kembali pada sistem pendidikan Islam agar setiap anak bisa mengakses pendidikan yang layak dan membentuk peradaban yang gemilang.


Wallahu a’lam bish-shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update