Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Barak Disiplin untuk Siswa Nakal: Solusi atau Tambal Sulam?

Thursday, May 22, 2025 | Thursday, May 22, 2025 WIB Last Updated 2025-05-22T03:25:22Z




Oleh. Delfiani 

Pegiat Literasi 


"Ketika pendekatan keras diterapkan untuk menertibkan siswa, sudahkah kita menyentuh akar persoalan kenakalan remaja?"


Belakangan ini, publik dihebohkan dengan berbagai video yang menampilkan aksi kenakalan hingga kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat, tak terkecuali pemerintah daerah. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, menyampaikan dukungannya terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat yang akan menempatkan siswa yang nakal ke dalam barak pembinaan. Ia juga mengimbau orang tua untuk lebih mengawasi pergaulan anak dan menerapkan pola hidup disiplin sejak di rumah (FOKUSSATU.ID,6/5/2025).


Namun, pertanyaannya, apakah pendekatan semacam ini mampu menyelesaikan persoalan kenakalan remaja secara tuntas? Ataukah hanya menjadi solusi sementara yang tidak mengatasi akar masalah?


Ketika Negara Gagal, Barak Jadi Jawaban?


Barak mungkin bisa meredam kenakalan sesaat. Tapi tidak menyentuh akar masalah.

Namun, kita perlu menilik lebih jauh mengapa kenakalan remaja terus terjadi, bahkan kian meluas.


Di sisi lain, sekolah pun sering kali lebih fokus pada capaian akademik ketimbang pembentukan karakter. Akibatnya, anak-anak kehilangan arah, mencari jati diri melalui lingkungan luar yang belum tentu sehat terlebih di era digital yang membuka akses terhadap berbagai konten negatif secara bebas.


Munculnya fenomena anak-anak berani melawan guru, siswa menganiaya temannya, hingga remaja membuat konten meresahkan, hanyalah gejala dari akar persoalan yang lebih dalam, hilangnya nilai-nilai moral dan spiritual dalam sistem pendidikan dan kehidupan. Ini semua bentuk dari keberhasilan penerapan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.


Sistem sekuler kapitalisme ini telah melahirkan generasi yang kehilangan arah, terputus dari nilai moral dan spiritual, serta tumbuh dalam lingkaran yang lebih menekankan kebebasan tanpa batas daripada tanggung jawab.


Di sisi lain, munculnya kebijakan pemerintahan sekuler untuk membawa anak yang bermasalah ke barak militer. Kebijakan barak pembinaan mungkin tampak tegas dan mendisiplinkan. Namun, jika tidak disertai dengan pembenahan sistemik, ia justru bisa menjadi pendekatan represif yang membentuk ketakutan semu bukan kesadaran moral. Dalam jangka panjang, kebijakan semacam ini berisiko menjauhkan anak dari lingkungan pendidikan dan memperparah luka psikologis yang mereka alami.


Menggali Solusi Islam: Pendidikan yang Membangun Akidah dan Akhlak


Islam memandang pendidikan bukan hanya sebagai transfer ilmu, tetapi pembentukan kepribadian Islam yakni kesatuan antara pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah. Anak adalah amanah yang harus dijaga dan dibina secara menyeluruh, jasmani, akal, dan rohaninya.


Rasulullah saw. bersabda,

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."

(HR. Bukhari dan Muslim).


Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anak, bukan hanya mencukupi kebutuhan materi, tetapi juga membentuk adab, akhlak, dan ketakwaan.


Mendidik Generasi Bukan dengan Barak, Tapi dengan Syari'at


Dalam perspektif Islam, ada tiga pilar utama pendidikan yang saling melengkapi dan membentuk karakter anak secara utuh yaitu:


Pertama, adalah keluarga. Keluarga adalah pilar pertama dan paling dasar. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Dari sini, nilai-nilai akidah, adab, dan cinta kepada Allah ditanamkan sejak dini.

Tanpa fondasi yang kuat dari rumah, pendidikan formal tak akan maksimal.


Kedua, adalah masyarakat. Dalam Islam, masyarakat yang baik adalah yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Budaya, pergaulan, dan pola komunikasi dalam masyarakat berperan besar dalam memperkuat atau merusak nilai-nilai yang ada di keluarga.


Ketiga, Negara sebagai pelindung dan pengarah sistematik. Negara memiliki peran strategis dalam menciptakan pendidikan yang mendidik. Negara juga menjamin kurikulum Islam, kesejahteraan guru, serta akses pendidikan yang merata.


Ketiganya saling menopang. Tanpa keluarga yang mendidik, masyarakat yang peduli, dan negara yang menjamin sistem yang benar, mustahil lahir generasi terbaik. Islam tidak hanya menawarkan teori, tapi telah membuktikan efektivitasnya dalam sejarah peradaban.


Mengatasi Kenakalan Remaja: Islam Punya Solusi 


Negara harus menyediakan sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam, kurikulum yang mendidik keimanan dan karakter, serta lingkungan sosial yang mendukung terbentuknya kepribadian mulia. Anak-anak tidak hanya diajari ilmu dunia, tetapi juga dikenalkan siapa dirinya sebagai hamba Allah, untuk apa ia hidup, dan bagaimana seharusnya ia berperilaku dalam kehidupan sosial.


Apabila anak melakukan penyimpangan, maka pendekatan Islam bukan semata hukuman, tetapi pembinaan menyeluruh melalui nasihat, keteladanan, dan lingkungan yang menyehatkan. Bahkan ketika sanksi harus diterapkan, ia dilakukan dalam kerangka pendidikan, bukan semata paksaan.


Dari Barak ke Perubahan: mungkinkah?


Mengirim siswa nakal ke barak bisa jadi pilihan sesaat dalam kondisi darurat, tetapi bukanlah solusi jangka panjang. Persoalan kenakalan remaja tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan teknis dan instan. Yang dibutuhkan adalah solusi fundamental yang menyentuh akar, pembentukan akidah, pembinaan akhlak, dan keterlibatan aktif keluarga serta negara dalam sistem pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.


Jika generasi yang kita bentuk hari ini adalah penentu masa depan bangsa, maka tak ada pilihan lain selain membentuk mereka dengan sistem yang benar-benar memanusiakan, membimbing, dan menumbuhkan kesadaran sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab atas hidupnya di dunia maupun di akhirat.


Untuk itu, Islam tidak menawarkan solusi tambal sulam, melainkan sistem kehidupan yang komprehensif yang membentuk manusia secara utuh sebagai pribadi beriman, beradab, dan bertanggung jawab. Maka, saatnya kita bertanya lebih dalam, apakah kita masih ingin terus sibuk memadamkan api, atau mulai membangun ulang rumah peradaban yang kokoh sejak pondasinya?


Maka, mendidik generasi bukan dengan barak dan ketakutan, melainkan dengan cinta, tuntunan syariat, dan kehadiran sistem yang benar. Di sinilah letak perubahan sejati bermula.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update