Oleh Triana Amalia S.Pd.
(Aktivis Muslimah)
Tatkala anak-anak di negara-negara lain menyiapkan hari raya Idulfitri dengan membeli baju baru, membantu ibu membuat ketupat, bersih-bersih rumah dengan sukacita, dan beberapa kegiatan yang menyenangkan. Pada waktu yang sama, anak-anak di Palestina harus ketakutan dengan bom, peluru tajam, dan berbagai kejahatan Zionis laknatullah alaih. Hal ini seharusnya menjadi fokus utama umat Islam dalam memperjuangkan kebenaran di dunia.
Menurut artikel berita dari Media Indonesia (mediaindonesia.com 05/04/2025), kurang lebih 39.384 anak Palestina telah kehilangan satu atau kedua orangtua mereka, disebabkan lebih dari 500 hari, penyerangan Zionis yang tak pernah berhenti. Setiap hari, anak-anak itu harus berhadapan dengan maut dari peluru-peluru biadab. Zionis telah menewaskan 18.000 anak-anak di Palestina, tak sedikit juga yang diamputasi tanpa anestesi dan bermandikan cairan merah. Masalah genosida ini menjadikan kegentingan anak yatim piatu terbesar dunia di era modern.
Usaha Masyarakat Dunia untuk Membela Kehidupan Damai Anak-Anak Palestina
Artikel yang dimuat Antara Kalbar (antarakalbar.com, 31/12/2023), menjelaskan bahwa Masyarakat dari 145 negara tersebut menyerukan standar ganda Hak Asasi Manusia (HAM), dan pertanggungjawaban Israel atas pembantaian warga Palestina, khususnya anak-anak tak berdosa. Aktivis Negara Belanda, menggelar aksi dengan menaruh 14.000 pasang sepatu anak-anak di Lapangan Vredeburg Plein, Utrecht Belanda. Makna aksi tersebut ialah setiap pasang sepatu, melambangkan perkiraan satu anak Palestina terbunuh setiap sepuluh menit, akibat serangan Zionis.
Aksi bela Palestina juga sering dilakukan di Indonesia. Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina, membawa poster pemimpin Amerika dan Israel di depan Gedung Kedubes Amerika. Aksi itu dilaksanakan pada 7 April 2025.
Sementara itu di Jepang, ada aksi “The Intifada March,” yakni gerakan untuk menyadarkan masyarakat perihal kekejian Israel terhadap warga Palestina. Aksi tersebut rutin dilaksanakan di Shibuya.
Seluruh aksi bela Palestina memberikan tuntutan kepada Mahkamah Internasional untuk menghukum aksi keji Israel. Ada tuntutan gencatan senjata, pemutusan hubungan diplomatik, dan tindakan boikot perusahaan yang mendukung penyerangan Israel terhadap Palestina. Namun, apakah seluruh tuntutan masyarakat dunia kebanyakan ini akan mengetuk pintu para penguasanya masing-masing untuk pembebasan Palestina?
Tindakan Para Pemimpin Dunia terhadap Anak-Anak Korban Genosida di Palestina
Para pemimpin negara-negara di dunia termasuk negara muslim turut mengecam tindakan keji Israel terhadap Palestina. Mereka mendukung gencatan senjata sebagai upaya memberikan kedamaian bagi warga Palestina.
Qatar, Mesir, dan Amerika bermediasi dengan hasil berupa gencatan senjata. Solusi ini membuat masyarakat Palestina yang mengungsi, dapat kembali ke rumahnya masing-masing. 600 truk bantuan kemanusiaan, dan pembebasan masing-masing tawanan.
Gencatan senjata hanya solusi sementara. Tentunya tidak membuat masyarakat Palestina bernapas lega. Mereka masih harus memasang raga waspada, khawatir ada serangan mendadak di tengah kesepakatan gencatan senjata. Tentara, pria sipil tanpa senjata, wanita, orang tua, anak-anak, bahkan bayi baru lahir, wajib siap memasang badan untuk menyelamatkan diri dari serangan senjata perang para tentara Zionis.
Selain gencatan senjata, para pemimpin negara juga sudah melaksanakan beberapa perjanjian untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Di antara banyaknya perjanjian diplomatik itu, yakni: Perjanjian Camp David tahun 1979, Pernjanjian Oslo I tahun 1993, Pertemuan Puncak Camp David tahun 2000, Prakarsa Perdamaian Arab dari KTT Beirut tahun 2002, Peta Jalan Kuartet Timur Tengah tahun 2003, dan Prakarsa Perdamaian Trump tahun 2020. Namun, perjanjian-perjanjian tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
PBB menurunkan UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine), lembaga ini menjalankan sekolah, pelayanan sosial, pusat kesehatan hingga menyebarkan bantuan makanan kepada pengungsi Palestina. Keberadaan lembaga tersebut dianggap mengganggu oleh Zionis, sehingga mereka melarang UNRWA beroperasi. PBB pun bergeming.
Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) juga hanya bertindak melaporkan jumlah korban anak dalam serangan Israel. Mereka hanya melihat dan melaporkan keprihatinan para masyarakat dunia.
Nasionalisme Penyebab Bungkamnya Para Pemimpin Negara-Negara Muslim
Media Al Jazeera memaparkan bahwa negara-negara Arab dan negara mayoritas muslim lainnya sudah terpecah belah. Hal ini membuat Israel yakin, mereka tak akan bisa membantu Palestina dengan benar. Bahkan enam negara Arab menormalisasi hubungannya dengan Israel. Hal inilah yang membuat mereka, sekadar mengecam kebiadaban Zionis.
Kini, dunia sedang dikuasai oleh ideologi yang memegang erat kebahagiaan materi, yakni kapitalisme. Para pemimpin dunia termasuk negara-negara muslim menilik bahwa konflik Palestina-Israel tidak menguntungkan secara materi, karena Amerika Serikat memegang kuasa atas mereka.
Kapitalisme juga melahirkan sekat nasionalisme. Batas-batas kenegaraan tersebut membuat negara-negara mayoritas muslim sibuk dengan masalah di negerinya sendiri.
Sudah waktunya, umat Islam yang tidak punya kekuasaan mulai mempelajari solusi hakiki konflik Palestina dan Zionis, serta menggedor pintu para penguasa agar mau menjalankan. Cara ini harus lekas dilakukan, sebab sudah terlalu banyak korban kebiadaban Zionis yang menghiasi beranda media sosial masyarakat dunia.
Sebuah video mengiris hati, ketika tubuh anak-anak, wanita, orangtua dan masyarakat sipil tanpa senjata terlempar ke udara yang disebabkan pengeboman oleh Zionis. Syawal yang hendaknya disambut dengan kebahagiaan, berlaku sebaliknya di Palestina. Tidakkah seorang pemimpin muslim teriris hatinya?
Hanya Sistem Pemerintahan Islam yang Mampu Selamatkan Anak-Anak di Palestina
Sejarah mencatat, hanya sistem pemerintahan Islam yang mampu membebaskan Palestina. Shalahuddin al-Ayyubi dan Umar bin Khaththab yang membebaskan Palestina. Pemimpin sekaligus pejuang Islam ini merebut kembali Palestina dari Pasukan Salib sampai mundur dari Baitulmaqdis dengan kekalahan yang hina.
Zionis melakukan penyerangan terhadap Palestina karena semangat dari doktrin agama. Hal itulah yang membuat mereka tidak menyerah dalam merusak kehidupan di Palestina. Anak-anak yang seharusnya menikmati waktu bermain, justru tak bisa mengelak dari senjata para Zionis.
Palestina adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Rasulullah saw melaksanakan Isra Mikraj, dan tanah yang ditaklukan umat muslim oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Tanah tempat Masjidil Aqsa ini tak bisa dibebaskan dengan cara memberi kecaman, tetapi harus jihad sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 190:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Dari ayat di atas sudah jelas, untuk membebaskan Palestina butuh kesadaran para pemimpin negeri-negeri muslim untuk mengirimkan tentaranya ke medan jihad.
Selain mengirimkan tentara, umat Islam harus menyadari perlunya satu komando, yakni persatuan Islam di bawah naungan sistem pemerintahan Islam dengan satu pemimpin muslim (Khalifah).
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment