Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Sungguh, berbagai pelanggaran yang dilakukan terhadap perempuan, laki-laki, dan anak-anak Palestina sejak 7 Oktober 2023 oleh Zion*s Yahudi, menunjukkan tindakan genosida membabi buta. Penghancuran sistematis fasilitas perawatan kesehatan perempuan selama perang di Jalur Gaza dan penggunaan kekerasan seksual sebagai strategi perang telah dilakukan oleh penjahat terjahat sedunia, Zion*s laknatullaah.
Tindakan-tindakan yang meliputi penghancuran infrastruktur kesehatan dan pusat reproduksi dan fertilitas untuk mencegah kelahiran, pembunuhan ibu dengan membatasi akses ke pasokan medis, dan pencegahan perawatan kesehatan reproduksi dengan menahan obat-obatan dan peralatan yang diperlukan untuk memastikan kehamilan, persalinan, perawatan pascanatal, dan perawatan neonatal yang aman, begitu lancarnya mereka lakukan.
Berapa lama lagi kehinaan ini akan berlanjut? Syawal kita sudah berjalan, genosida terhadap saudara kita belum terselesaikan. Saudara kita belum terselamatkan.
Kekuatan VS Kekuatan
Saat ini aum Zion*s Yahudi terus saja mengamuk di negeri-negeri muslim. Mereka unjuk kekuatan demi kekuatan, memberangus dan membumihanguskan Palestina tanpa rasa. Mampukah kita tetap bungkam dengan pengkhianatan para penguasa di negeri ini Dan negeri Muslim lainnya dengan berbagai kegagalan tanpa upaya. Masih tetap kelu kah untuk turunkan cara lain untuk melawan kekuatan jahat Zion*s dengan turunkan kekuatan tandingan? Apakah ada yang dapat menghentikan entitas Zion*s Yahudi selain kekuatan pasukan [kaum muslim]?”
Masih berharap pada sistem internasional agar mendukung rakyat Palestina? Padahal selama ini kita telah melihat bagaimana sikap rezim kriminal ini terhadap rakyat Bosnia dan Irak, serta muslim Rohingya dan Uyghur sebelumnya. Lalu kita tetap berharap padanya. Nonsense. Sebuah ketidakwarasan untuk selalu bergantung pada sistem yang tak pernah berpihak pada Islam dan kaum Muslimin.
Kekuatan itu harus dilawan kekuatan. Palestina butuh pasukan yang mampu tandingi pasukan Zion*s jahannam. Pasukan yang mengemban risalah perdamaian hakiki bukan eliminasi nyawaanusia. Pasukan yang membawa Nur Ilahi, bukan pasukan raja pati pennghancur bumi yang tak nanusiawi.
Kebiadaban Zion*s memang kian binal. Saat kaum muslim tengah merayakan hari istimewa, serangan brutal terus dilancarkan hingga menewaskan setidaknya 35 orang, termasuk anak-anak yang masih dengan pakaian Idulfitri mereka. Gazamedia menyebutkan, jumlah korban tewas saat serangan saat Hari Raya mencapai 76 orang.
Serangan brutal terakhir ini sebenarnya sudah mulai dilancarkan pihak Zion*s sejak 29 Ramadan. Sore itu, tembakan rudal menyasar beberapa tempat di Jalur Gaza, seperti di kamp pengungsian Khan Younis, Deir al-Balah, Rafah, Jabalia, dan kota-kota lain di Gaza Selatan.
Untuk semua itu, cukuplah sudah hanya cakap yang berbicara. Butuh kekuatan yang super untuk melawan kejahatannya. Tak cukup kecam dan hanya sejimpit do'a. Namun butuh effort pasukan Muslim terbina mafhum siyasi untuk melawannya. Jihad difahami. Melawan Zion*s menjadi pasti.
Butuh Solusi Pasti
Negara Zion*s yang diinisiasi Inggris, didukung AS, dan dilegalisasi PBB telah menjadi poros masalah Palestina dan Timur Tengah yang menyebabkan ketakstabilan. Palestina adalah jantung dunia Islam serta barometer kondisi umat Islam. Jika Palestina terpuruk, negeri-negeri muslim juga dalam kondisi yang sama. Ketika kaum muslim Palestina terjajah, kaum muslim di belahan bumi lainnya juga bernasib sama, yaitu terkungkung dalam penjajahan, baik secara fisik maupun ideologi.
Untuk ini butuh supra sistem kekuatan yang pasti menandingi. Nation state (negara bangsa) telah mengubah wajah dunia Islam tanpa ukhuah Islamiah dan ikatan akidah Islam. Ini bermula dari perjanjian rahasia yang disepakati oleh Inggris dan Prancis pada 1916. Selama Perang Dunia I, terbentuklah dua aliansi, yakni Poros dan Sekutu. Saat itu Daulah Khilafah terseret dalam Aliansi Poros yang diprakarsai oleh Jerman, Austria, dan Hungaria. Sementara itu, blok Sekutu terdiri dari Inggris, Prancis, dan Rusia.
Butuh kekuatan besar yang mampu menandingi. Dan Islam telah menunjukkan selama berabad lamamya. Di bawah perlindungan Khilafah, selama ratusan tahun Palestina terjaga dari rongrongan orang-orang kafir. Khilafah adalah perisai dan rumah berlindung umat dari ancaman penjajahan, perampasan, kezaliman, dan berbagai konspirasi yang dilakukan orang-orang kafir.
Riil. Sosok seperti Sultan Abdul Hamid II yang begitu gigih dan tegas menolak tawaran Theodor Herzl, penggagas gerakan Zion*s sekaligus pendiri negara Yahudi. Pada 1896 ia memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu dijawab Sultan dengan penolakan. “Sesungguhnya negara Khilafah ini adalah milik rakyat. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Oleh sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” jawab Sultan.
Pada 1901 Herzl kembali menawarkan bantuan keuangan untuk negara Khilafah Utsmani agar sang khalifah menyetujui permintaannya membangun komunitas Yahudi di tanah Palestina. Namun, Sultan Abdul Hamid II menolaknya dengan tegas melalui pernyataannya yang ditujukan kepada Herzl, “Sampaikan kepada teman Anda dan nasihatilah dia agar tidak berusaha untuk main-main dalam hal itu selamanya. Aku tidak akan menjual bagian dari negeri tersebut walau satu telapak kaki pun karena negeri itu bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah sampai ke negeri itu dengan mengucurkan darahnya dan mereka pun akan kembali menumpahkan darahnya esok hari. Pada masa depan kami tidak akan pernah membiarkan seorang pun untuk merampasnya dari kami. Adapun jika negara Khilafah telah runtuh dan telah sempurna tercerai berai, Yahudi akan sampai ke Palestina secara gratis. Kami tidak akan pernah membagi-bagikan negara ini kecuali kepada anak cucu kami dan aku tidak akan pernah menerima penjelasan apa pun untuk tujuan tersebut.”
Sungguh ketiadaan Khilafah membuat negeri-negeri muslim terjajah dan terisolasi. Oleh karenanya, penegakan Khilafah sebagai solusi atas Palestina dan negeri muslim lainnya adalah perkara mendesak dan penting. Tegaknya Khilafah harus terus diperjuangkan dan diserukan hingga kaum muslim memiliki kesadaran menjadikan Islam sebagai aturan bernegara. Umat harus memiliki kesadaran politik bahwa nasib Islam dan kaum muslim tidak akan mulia dengan ikatan kebangsaan. Kemuliaan dan kehormatan Islam dan kaum muslim hanya akan terwujud dalam ikatan akidah Islam serta penyatuan negeri-negeri muslim dalam naungan Khilafah.
Dengan demikian, untuk membentuk kesadaran politik secara kolektif membutuhkan perjuangan kelompok dakwah ideologis yang konsisten menyampaikan kebenaran Islam, membongkar makar kafir penjajah, dan menyuarakan bahwa solusi hakiki bagi Palestina adalah tegaknya Khilafah Islamiah yang mampu melindungi negeri-negeri Islam dari kezaliman dan penjajahan. Kelompok dakwah ini senantiasa melakukan pembinaan intensif kepada umat untuk membersihkan pemikiran-pemikiran kufur yang menjauhkan umat dari Islam. Mereka bekerja bersama umat untuk mewujudkan kembali Daulah Islam (Khilafah) sebagaimana yang pernah didirikan oleh Rasulullah ﷺ di Madinah.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment