Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menggalang Kekuatan Global untuk Membebaskan Palestina

Monday, April 28, 2025 | Monday, April 28, 2025 WIB




Oleh Ummu Kholda

Pegiat Literasi 



Penderitaan kaum muslim di Gaza, Palestina belum juga berakhir. Serangan demi serangan terus membombardir warga Gaza, hingga banyak korban berjatuhan baik yang luka-luka maupun meninggal dunia. Tidak berhenti sampai di situ, kondisi warga Gaza juga sangat memprihatinkan, salah satunya adalah krisis kemanusiaan. 


Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk terutama di jalur Gaza. Tercatat setidaknya dua juta orang pengungsi yang tidak memiliki pendapatan hingga sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan dalam pernyataan yang dirilisnya selama beberapa jam terakhir, WFP membunyikan alarm atas meningkatnya kebahayaan bagi ratusan ribu penduduk Gaza. (Metrotvnews.com, 20/4/2025) 


Krisis makanan juga membuat warga Gaza tidak punya pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Di pasar, sebagai satu-satunya tempat mendapatkan bahan makanan, persediaannya kurang serta harganya melonjak, bahkan bahan makanan segar hampir tidak ada. Oleh karena itu, tidak sedikit dari mereka yang mulai memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein, imbas krisis makanan akibat pengepungan dan genosida oleh Zionis. Mereka juga harus membujuk anak-anaknya untuk makan daging kura-kura, karena bukan makanan yang biasa dimakan sehingga mereka takut untuk memakannya. (CNN Indonesia.com, 19/4/2025) 


Nasionalisme, Racun Penghambat Persatuan Umat


Kondisi di atas menggambarkan Gaza yang semakin mengerikan. Zionis secara brutal menyerang tanpa belas kasih menghabisi warga Gaza hingga di luar batas kemanusiaan. Meski dunia sudah mengecam, bahkan seruan jihad pun sudah dilontarkan sebagai solusi, akan tetapi para penguasa negeri-negeri muslim masih bergeming. Belum satupun di antara mereka yang melakukan  aksi nyata mengirimkan pasukan militernya mengusir penjajah Zionis. 


Padahal Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam untuk memberikan pertolongan kepada saudaranya sesama muslim. Karena umat muslim adalah bersaudara, maka sudah sepantasnya harus saling tolong menolong. 


Sayangnya, hari ini umat muslim terbelenggu oleh ikatan nasionalisme warisan penjajah. Paham negara bangsa yang menjadikan kaum muslim tersekat-sekat menjadi bangsa-bangsa yang sulit untuk bersatu karena ego masing-masing. Mereka lebih mementingkan urusan dalam negeri sendiri, tanpa ikut campur dengan urusan negara lain meski hal itu sangat dibutuhkan sebagaimana yang dibutuhkan Palestina. Para penguasa muslim menganggap urusan bangsa Palestina adalah urusan dalam negerinya. Sehingga mereka enggan membantu secara fisik mengirimkan tentaranya, kecuali sebatas dukungan perlawanan penjajahan dengan diplomasi, solusi dua negara,  bantuan kemanusiaan, dan boikot. Solusi yang disukai Barat namun tidak sesuai syariat. 


Begitupun dengan negeri ini, tidak jauh berbeda solusi yang ditawarkan untuk rakyat Gaza. Karena pada prinsipnya negara-negara di bawah sistem kapitalisme akan mempunyai pemikiran dan pola sikap yang sama. Prinsip nasionalisme sebagai turunan dari kapitalisme juga sangat lekat di negeri ini. Ditambah lagi sekularisme sebagai asas dari sistem kapitalis telah menjauhkan umat dari agama, termasuk dalam menyelesaikan permasalahan Palestina. Padahal jelas, penjajahan secara fisik harus dibalas dengan fisik. Alhasil, tidak ada jalan lain untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan Palestina kecuali dengan jihad fii sabilillah dan persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. 


Jihad dan Persatuan Umat 


Sebagai agama yang sempurna diturunkan Allah Swt., Islam memandang masalah Palestina bukan sekedar masalah kemanusiaan. Akan tetapi masalah penjajahan yang membutuhkan penyelesaian serius dan tuntas. Penjajah Zionis harus diusir dari bumi Palestina dengan dukungan kekuatan besar, yakni kekuatan global yang tidak akan terkalahkan. 


Untuk itu, kaum muslim sudah seharusnya mencampakkan ide nasionalisme yang lahir dari sistem kapitalisme. Sebaliknya, umat muslim harus bersatu menggalang kekuatan untuk membebaskan Palestina di bawah satu kepemimpinan yakni khalifah. 


Khalifah adalah pemimpin dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah), ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya sekaligus sebagai perisai (junnah). Dia akan melindungi nyawa rakyatnya dengan segenap kekuatannya, melawan siapapun yang berani merampas hak rakyat. Oleh karena itu, seruan akan persatuan umat wajib dikumandangkan di seluruh penjuru bumi, agar umat Islam menyadari jika penjajahan ini hanya bisa dihentikan dengan persatuan umat di bawah komando khalifah. 


Selain itu juga karena Allah Swt. telah memerintahkan agar tolong menolong sesama muslim, karena sesama muslim bersaudara. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."


Karena tolong menolong sesama muslim merupakan perintah Allah Swt., maka sudah seharusnya kaum muslim menyambutnya, termasuk menyeru kepada semua muslim di seluruh dunia untuk bersatu dan melakukan kewajiban tersebut. Umat juga harus bergerak menuntut penguasa muslim menolong Palestina dengan melaksanakan jihad dan menegakkan khilafah. Namun gerakan ini harus ada yang mengarahkan dan memimpin. Dakwah jamaah ideologis lah yang akan bergerak mempersatukan umat, menggalang kekuatan global, menyeru untuk menegakkan khilafah. Para pengemban dakwah akan mengerahkan segenap kemampuannya agar persatuan terwujud dan bersama-sama berjuang menegakkan sistem Islam agar persoalan demi persoalan dapat diselesaikan termasuk masalah Palestina. 


Demikianlah persoalan Palestina diselesaikan, tidak cukup hanya sekedar retorika, mengecam, melakukan perlawanan dengan solusi yang tidak berdasarkan syariat. Namun, persoalan Palestina butuh persatuan umat dan perlawanan secara militer, yang ini hanya dapat dilakukan jika aturan Islam diterapkan secara totalitas (kafah) oleh pemimpin Islam, karena hanya dia lah yang mampu menggerakan umat untuk membela kaum muslim dengan jihad fii sabilillah. 


Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update