Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketahanan Keluarga dalam Islam

Saturday, April 26, 2025 | Saturday, April 26, 2025 WIB




Oleh. Delfiani 

Pegiat Literasi


Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah dan masa depan suatu bangsa. Ketahanan keluarga menjadi pondasi utama dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat, harmonis dan berdaya saing. Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan krisis moral yang semakin kompleks, peran keluarga semakin krusial.


Sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan di tingkat daerah, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat, Tia Fitriani, kembali menegaskan komitmennya dalam memperkokoh institusi keluarga sebagai elemen kunci ketahanan sosial. Bertempat di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Tia menyelenggarakan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosperda) Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2014 mengenai Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga. (tribunnews.id, 16/4/2025)


Disisi lain, Peraturan daerah ini lahir dari kebutuhan untuk memperkuat struktur sosial melalui pendekatan keluarga. Di dalamnya mencakup isu-isu strategis seperti pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta penyelenggaraan program keluarga berencana yang semuanya memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan keluarga adalah bagian dari urusan wajib yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh elemen pemerintahan, termasuk pemerintah daerah.


Keluarga dan Krisis Sosial


Kita menyaksikan berbagai persoalan sosial yang kian kompleks, seperti banyaknya kekerasan dalam rumah tangga, penyimpangan seksual, disorientasi peran gender, hingga kasus perceraian. Semua ini bukan sekedar angka statistik, tetapi gejala dari rusaknya pondasi utama masyarakat yaitu keluarga.


Ketika nilai-nilai liberalisme dan hedonisme merasuk ke dalam pola pikir masyarakat, ikatan keluarga menjadi longgar. Ketika orang tua disibukkan oleh tuntutan karier, anak-anak tumbuh tanpa arahan yang memadai, sementara peran pendidikan secara perlahan tergeser oleh penggunaan gadget. Akibatnya, keluarga yang seharusnya menjadi madrasah pertama justru kehilangan fungsinya sebagai tempat pembinaan karakter dan iman.


Membangun Ketahanan keluarga dengan Syari'ah Kaffah 


Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh, memberikan perhatian besar terhadap pembinaan keluarga sebagai institusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis dan sosial, tetapi juga spiritual. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan konsep ketahanan keluarga dalam perspektif Islam menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan berakhlak mulia.


Islam hadir bukan hanya sebagai agama ibadah ritual, tetapi sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh termasuk dalam membina keluarga. Allah Swt. berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)


Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan sekedar memberi nafkah, tetapi mendidik keluarganya agar taat kepada Allah. Rasulullah saw. juga menunjukkan contoh nyata dalam memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, komunikasi yang hangat, serta penuh hikmah.


Dalam perspektif Islam, keluarga bukan sekedar institusi sosial, melainkan lembaga rabbani yang berperan sebagai tempat ibadah, pendidikan dan penjaga moral generasi. Keluarga memiliki peran krusial dalam membentuk kepribadian seseorang, menanamkan prinsip-prinsip moral dan membangun suasana yang harmonis serta penuh rasa aman. Adapun, Islam memiliki 3 pilar utama dalam mewujudkan keluarga yang tangguh, yaitu:


Pertama, akidah yang kokoh, yaitu keluarga harus dibangun atas dasar iman kepada Allah Swt. Ini menjadi pondasi untuk membentuk visi hidup yang lurus, orientasi yang jelas, serta sikap yang bertanggung jawab dalam menjalani peran sebagai suami, istri, maupun anak. 


Kedua, peran gender yang jelas dan terhormat. Islam menetapkan peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan bukan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan dalam tanggung jawab. Suami berperan sebagai qawwam atau pemimpin keluarga, sementara istri menjadi pendamping sekaligus pendidik generasi penerus; keduanya saling melengkapi dalam kehidupan yang harmonis.


Ketiga, negara sebagai pelindung dan pendukung. Dalam sistem Islam, negara tidak netral terhadap keluarga. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan Islam, menyediakan lapangan kerja, menstabilkan harga kebutuhan pokok, serta memberantas kemaksiatan yang merusak moral masyarakat.


Oleh karena itu, jika negara benar-benar ingin membangun masyarakat yang kuat, maka harus dimulai dari penguatan keluarga. Namun bukan hanya dengan regulasi teknis dan pendekatan sekuler, melainkan dengan menerapkan Islam secara total (kaffah), yang menjadikan keluarga sebagai lembaga ibadah, pendidikan, dan penjaga moral.


Maka itu, masyarakat pun harus kembali kepada nilai-nilai Islam dalam membina keluarga. Mereka seharusnya menjadikan rumah sebagai tempat untuk berdzikir dan mengingat Allah serta mempererat hubungan dengan-Nya, bukan semata-mata sebagai tempat melepas lelah. Al-Qur’an pun seharusnya dijadikan sebagai panduan hidup, bukan hanya hiasan di atas rak. Karena keluarga yang kuat bukan dibentuk oleh program pemerintah semata, tetapi oleh keimanan yang hidup dalam hati setiap anggotanya.


Khotimah 


Ketahanan keluarga bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan pondasi strategis dalam membentuk peradaban yang luhur dan bermartabat. Dalam Islam, keluarga memiliki posisi sentral sebagai tempat pembentukan akhlak, penanaman nilai, dan penguatan iman. Oleh karena itu, setiap elemen masyarakat baik individu, keluarga, maupun negara harus bersinergi dalam membina dan menjaga institusi keluarga. Dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh, diharapkan terwujud keluarga-keluarga yang tangguh, harmonis, dan berkontribusi nyata dalam membangun bangsa yang kuat dan diridhai Allah Swt.


Untuk membentuk keluarga tangguh butuh sebuah sistem yang mendukung terealisasinya ketahanan keluarga dalam Islam, yakni sistem yg berasal dari Sang Maha Pencipta Alam semesta yaitu sistem Islam. Dan semua ini harus ditopang oleh negara sebagai institusi efektif mewujudkan tujuan tersebut.


Wallahu a’lam bii ash-Shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update