Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd
alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Khusus bagi kaum ibu tentunya Ramadhan akan dipersiapkan dengan menu spesial dan menarik pada waktu sahur dan berbuka. Sayangnya harga beberapa bahan di pasar mengalami kenaikan, tentu ini mengganggu dan berpengaruh pada kekhusyukan untuk beribadah karena beban ekonomi.
Memang seakan sudah menjadi tradisi harga naik menjelang Ramadhan hingga lebaran nanti. Sebut saja beberapa pasar di Samarinda, seperti Pasar Segiri, Pasar Pagi, dan Pasar Sungai Dama pada Selasa (25/2/2025), menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Harga cabai melonjak dari Rp 70.000 menjadi Rp 90.000 per kilogram, sementara bawang merah naik dari Rp 32.000 menjadi Rp 42.000 per kilogram. Telur ayam juga mengalami kenaikan, dari Rp 50.000 menjadi Rp 60.000 per papan. Di sisi lain, harga beras mengalami kenaikan tajam, dengan harga 25 kilogram kini mencapai Rp 480.000 per karung. (Kompas.co, 25/2/2025)
Meski pemerintah sudah melakukan sidak dan pasar murah jelang Ramadhan, namun ini tidak memberikan solusi. Ketidakstabilan harga masih saja terjadi, inilah kondisi sistem ekonomi kapitalistik dengan kekhasannya.
Sistem Ekonomi Kapitalisme Gagal
Peradaban maju tidak hanya ditandai oleh teknologi atau pencapaian ilmu pengetahuan saja, tetapi juga bagaimana aktivitas ekonominya seperti perdagangan di pasar. Pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli. Lebih dari itu, pasar adalah cerminan peradaban suatu masyarakat.
Cara sebuah pasar dikelola mencerminkan bagaimana nilai-nilai hukum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk harga berlaku stabil dan tidak memberatkan masyarakat di sana. Di sanalah sistem ekonomi berlaku yang berakar dari sistem kehidupan.
Dalam sistem pendidikan pun juga terdapat kekeliruan dalam memahami makna puasa. Sistem Kapitalisme Sekuler membuat pemahaman Islam jauh, sehingga puasa hanya sebatas bergeser waktu makan. Menu makanan malah naiknya permintaan dan berburu takjil. Ini pun mendorong pasar semakin menaikkan harga karena rumusnya sistem ekonomi demikian.
Negara gagal mengantisipasi kenaikan harga. Pasalnya kesyahduan Ramadhan diganggu oleh perkara-perkara duniawi yang seharusnya diselesaikan oleh penguasa, mengingat posisinya sebagai urusan publik. Stok, pasokan, serta fluktuasi harga komoditas pangan jelas membutuhkan regulasi sistemis. Artinya sistem ekonomi kapitalis saat ini terbukti gagal.
Ramadhan dalam Islam
Ramadhan pada masa Rasulullah saw. Sungguh penuh dengan suasana ibadah, perjuangan, dan taqorub kepada Allah Swt.. Sebabnya, Ramadhan adalah bulan ketika Allah Swt. Melipatgandakan pahala ibadah dan amal saleh kaum muslim, baik itu berupa ibadah mahdhah (salat tarawih, membaca Al-Quran, sedekah, dan zikir), dakwah maupun aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir.
Islam menjaga stabilitas harga di pasar. Negara yang mengatur semua ini untuk berjalan dengan baik. Mulai dari petani hingga ke pabrik, dari distributor hingga konsumen semuanya berjalan lancar tanpa adanya mafia penimbun hingga membuat lonjakan harga begitu tinggi.
Penguasa dalam Islam pun akan ciptakan suasana muamalah sesuai syariat. Semua transaksi akan dipastikan halal, yang haram seperti riba, transaksi dua akad, ataupun penipuan dalam jual beli pasti akan ditiadakan dan akan dihukum agar mereka jera.
Negara juga memberikan pemahaman akidah melalui pendidikan. Salah satunya puasa sehingga Ramadhan tidak difokuskan pada banyak makan, berburu takjil dan sibuk belanja pakaian baru untuk lebaran. Tapi semuanya memfokuskan untuk memperbanyak amal ibadah dari bulan-bulan sebelumnya. Surport sistem dalam Islam akan membuat Ramadhan penuh keberkahan, termasuk sistem ekonominya. Ramadhan dalam Islam pun khusyuk tanpa terusik oleh kenaikan harga. Wallahu’alam bissawab

No comments:
Post a Comment