Oleh Iin Rohmatin Abidah, S.Pd
Di awal tahun 2025, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan. Lagi-lagi publik dihebohkan dengan adanya kasus pelecehan seksual yang kembali muncul dan mencoreng nama baik dari instansi pendidikan itu sendiri. Pasalnya dari tahun ke tahun kasus pelecehan seksual terhadap anak jumlahnya terus meningkat. Dan jika dilihat berdasarkan jenis kekerasannya, maka korban kekerasan seksuallah yang jumlahnya paling banyak jika dibandingkan dengan kekerasan fisik maupun kekerasan psikis.
Sebagaimana yang terjadi di Kalideres, 40 siswi SMK diduga mengalami tindakan pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru di sekolahan tersebut (www.kompas.com, 07/03/2025). Tindakan yang dilakukan oleh oknum guru itu memang sangat tidak pantas dan tidak mencerminkan dirinya yang sebagai seorang pendidik. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang guru PJOK di sekolah dasar tega melakukan perbuatan keji mencabuli 8 siswa yang menjadi anak didiknya (www.tirto.id, 06/03/2025). Sungguh sangat mencengangkan dan sangat miris sekali memang, karena pada dasarnya kasus pelecehan yang seperti ini sudah terjadi berulang kali apalagi di lingkungan pendidikan.
Buah dari Sistem Demokrasi Sekuler
Maraknya kasus pelecehan seksual di tengah-tengah masyarakat khususnya di lingkungan pendidikan bukan sekedar kesalahan dari oknum semata. Hal ini dikarenakan peristiwa tersebut terjadi secara berulang-ulang dan tidak menjadikan masyarakat untuk belajar serta intropeksi diri dari kejadian yang ada. Kasus pelecehan seksual ini bisa terjadi akibat diterapkannya sistem yang salah, yaitu sistem demokrasi sekuler. Sehingga atas dasar kebebasan dan sanksi yang diberikan kurang tegas, maka menjadikan masyarakat tidak memiliki rasa jera untuk melakukannya.
Apalagi kasus seperti ini terjadi di dunia pendidikan, maka sungguh tidak pantas dan tidak layak terjadi. Sekolah sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan guru yang seharusnya berperan sebagai pendidik yang akan menjadi panutan dan teladan bagi anak didiknya justru melakukan tindakan asusila kepada mereka. Sehingga anak-anak pun akan merasa tidak nyaman berada di sekolah dan kepercayaan masyarakat pun akan menurun terhadap lembaga pendidikan yang ada. Hal ini sebenarnya tidak luput akibat dari tontonan media yang sangat liberal sekali, lingkungan pergaulan yang juga bebas serta sistem pendidikan yang sekuler. Sehingga sistem yang ada saat ini tidak mampu mewujudkan pribadi yang mulia.
Solusi Dalam Islam
Islam pada dasarnya adalah sebuah agama yang mengatur semua aspek kehidupan, termasuk kasus pelecehan seksual. Islam memiliki mekanisme atau cara untuk mencegah adanya tindakan pelecehan seksual. Islam juga akan diterapkan dalam sistem pendidikan dan sistem pergaulan. Selain itu, Islam juga akan memberikan sanksi yang tegas bagi masyarakat yang melanggar aturan-aturannya. Dalam hal ini negara memiliki peranan yang sangat penting sekali dalam penerapan hukum-hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Negara juga akan mengontrol tontonan media yang dilihat oleh masyarakat, sehingga negara akan menutup segala celah ada agar tidak terjadi tindakan pelecehan seksual.
Ketakwaan individu-individu dan kontrol dari masyarakat serta penerapan sistem Islam yang dilakukan oleh negara akan menjadi langkah konkrit dalam mengatasi persoalan pelecehan seksual yang saat ini tidak kunjung usai.
Wallahu a’lam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment