Oleh : Hawilawati, S.Pd
(Muslimah Permata Umat)
Presiden Prabowo Subianto menerima 8 taipan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/3/2025) termasuk Sugianto Kusuma atau Aguan, pendiri Agung Sedayu Group hingga Tomy Winata, pemilik Artha Graha Group.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyinggung soal situasi global dan tanah air. Selain itu, kata Teddy, Prabowo juga menyampaikan perihal pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG), swasembada pangan dan energi hingga BPI Danantara.
(kompas.tv)
Apakah pemerintah telah menutup mata, bahwa segala proyek raksasa mengatasnamakan PSN (Proyek Strategis Nasional) yang melibatkan kaum kapital 8 Taipan tersebut, menyisakan luka dan penderita mendalam bagi rakyat.
Sebagaimana pembebasan di sejumlah lahan warga yang dilakukan secara paksa, bahkan dibayar dengan harga yang irasional. Pembangunan megah PIK 2 dengan segala fasilitasnya, membuat masyarakat sekitar hanya bisa melongok dari balik tembok besar pemisah PIK 2 dengan wilayah kabupaten Tangerang. Belum lagi polusi udara yang sangat dirasa saat musim kemarau, dari truk-truk besar pengangkut material bangunan PIK 2 yang memakai akses jalan warga, sehingga membuat jalan rusak berlubang akibat lalu lalang truk. Di musim hujan kampung tersebut pun kerap kali mengalami banjir. Sungguh kondisi sengsara warga sangat dirasakan saat proyek strategis taipai berdiri.
Belum proyek raksasa lainnya yang meninggalkan kesengsaraan serupa seperti kasus rempang, IKN, bahkan sejumlah pagar laut yang terbentang sepanjang perairan Nusantara seperti laut kabupaten Tangerang, Laut Bekasi dan laut Subang, tentu pemagaran laut yg membutuhkan modal besar melibatkan para konglomerat yang sudah memproyeksikan wilayah tersebut sebagai lahan komersial yang akan menghasilkan cuan lebih banyak.
Sungguh sebuah kebijakan mengatas namakan PSN (Proyek Strategis Nasional, penuh tanda tanya besar, Strategis untuk siapa?, jika realitanya justru membuat jutaan rakyat kian sengsara menjadi korban, hilangnya tempat tinggal, matinya mata pencaharian dan rusaknya ekosistem serta keadaan sosial masyarakat. sangat ironis.
Yang lebih menyesakkan dada adalah para kapital Taipan ini terus diberi karpet merah oleh pemerintah mengatasnamakan investasi untuk mengeksploitasi lahan Nusantara dengan undang-undang yang dapat melanggengkan setiap proyeknya.
Inilah performa oligarki yang terus bergandengan dengan 8 Taipan, dan fix ketika negeri mengadosi sistem Sekuler Kapitalis, maka kebijakan negara terkait pembangunan nasional pun lebih berpihak kepada kaum Kapital ketimbang rakyatnya, bahkan berbagai cara liberal dilakukan yang penting mendatangkan profit besar.
Paradigma kepemimpinan Islam adalah sebagai Ra'in (pelayan) dan Junnah (pelindung) rakyat, yang berkewajiban menjalankan amanah dengan keimanan dan takut kepada Allah, bukan dengan ambisi materi dunia. Dalam membangun perekonomian negaranya, ia wibawa dengan memiliki ilmu yang shohih yaitu sistem ekonomi Islam yang melahirkan kemaslahatan umat manusia serta independen tanpa dikendalikan oleh pemilik kapital.
Dalam pembangunan ekonomi tentu tidak boleh diserahkan kepada korporasi asing yang memiliki karakter ingin memonopoli dan ambisi bisnis untung rugi.
Sementara pemimpin sebagai Ra'in (pelindung) yang harus memastikan rakyatnya terpenuhi hajatul udawiyyah (kebutuhan primernya) seperti, sandang, pangan , papan, pendidikan , kesehatan.
Namun, bagaimana realita saat ini ketika berbagai proyek raksasa mengatasnamakan PSN yang digadang -gadang untuk memajukan perekonomian nasional, apakah kebutuhan primer rakyat semakin terpenuhi?
Sudah saatnya negara mengurusi rakyat dan mengelola kekayaan sumber daya alamnya serta memajukan perekonomiannya dengan kemandirian dan melibatkan para ahli (khubaro) yang amanah.Tidak memberi karpet merah kepada kapital Taipen, yang akan berpotensi negeri ini tergadaikan bahkan akan dikuasai demi kepentingan mereka saja.
Sebagai pijakan dalam memajukan ekonomi nasional maka sudah seharusnya negeri ini mengadonsi sistem ekonomi Islam yang bersumber kepada Al-Qur'an, yang clear mengatur urusan ekonomi yang mampu mensejahterakan dan membawa kemaslahatan bagi umat manusia . Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment