Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Infrastruktur Jalan Kewajiban Negara

Thursday, March 06, 2025 | Thursday, March 06, 2025 WIB

 



Oleh Nuni Toid 

Pegiat Literasi 



Jalan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang penting dalam melakukan aktivitas untuk menuju tempat yang diinginkan. Namun apa jadinya bila keadaan akses tersebut mengalami kerusakan. Tentu akan menghambat lajunya tempat yang yang dituju. Seperti yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat yang mengalami kerusakan. 


Dilansir dari bandung, kompas.com (8/2/25), Dadang Supriatna akan memperbaiki jalan-jalan yang ada di Kabupaten Bandung selama lima tahun dengan anggaran 500 miliar. Hal itu selaras dengan program gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akan menargetkan pembangunannya selesai dalam jangka dua tahun. Jalan-jalan tersebut nantinya akan terhubung pada lokasi wisata Bandung Selatan, seperti Ciwidey dan Pangalengan. Tujuannya untuk menarik pengunjung yang hadir agar merasa nyaman. 


Sayangnya dengan anggaran sebesar itu kenyataannya masih ada warga, dalam hal ini opang yang harus mengeluarkan kocek pribadinya untuk memperbaiki jalan yang berlubang dengan melakukan Gerakan Tutup Jalan Berlubang (GTJB). Mereka mendapatkan semen, pasir dari sumbangan sejumlah toko, kios material, dan kas Gabungan Motor Cileunyi (GMC) 5. Tujuan  utama dari gerakan tersebut untuk keselamatan para pemotor, khawatir terjerembab serta tersandung ke jalan berlubang, (kejakimpolnews.com, 3/2/25).


Infrastruktur jalan salah satu kebutuhan publik rakyat yang keberadaannya harus dipenuhi oleh negara. Tapi faktanya banyak jalan yang rusak di negeri ini. Padahal fasilitas ini merupakan urat nadi ekonomi masyarakat. Dengan jalan yang rusak, tentu akan berdampak pada banyak hal, termasuk perekonomian. Kegiatan ekonomi masyarakat seperti bekerja, belanja, perdagangan, dan layanan jasa akan menjadi terganggu. 


Pun distribusi barang antar wilayah akan membutuhkan waktu yang lama sehingga biaya transportasi makin besar. Begitu pula resiko rusaknya barang, serta kecelakaan tak bisa dielakkan lagi. Para pengusaha juga akan membebankan peningkatan biaya transportasi ini pada konsumen. Akibatnya bisa berimbas terhadap kenaikan harga barang-barang. Hal tersebut akan berkontribusi terhadap kenaikan angka inflasi. Bukan itu saja, karena jalan banyak yang rusak, tentu menjadi lambat dalam aktivitas ke sekolah, berobat, atau bila ada ibu yang sedang hamil, maka akan memerlukan waktu lama untuk ke rumah sakit bersalin. 


Semestinya negara  memprioritaskan infrastruktur jalan karena merupakan salah satu akses yang penting bagi laju tumbuh kembangnya perekonomian negeri. Jalan yang bagus tentu akan memberikan kenyamanan, kelancaran bagi pengendara, dan yang tidak dilupakan juga, akan memberikan kemudahan dalam menghubungkan satu wilayah dengan wilayah yang lain. Hal itu tentu saja bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas serta keselamatan bagi pengguna jalan yang lain. 


Tapi realitanya tidak demikian, selama negara masih menerapkan sistem kapitalis-sekuler, dimana penguasa seolah cuci tangan dan menyerahkan pembangunan tersebut kepada para pemilik modal, maka lihat saja hasilnya, sebagian dana yang digelontorkannya untuk infrastruktur jalan seakan hilang menguap, karena mungkin saja dikorupsi oleh para pemangku jabatan. Sehingga bahan yang disediakannya kurang, dan perbaikan jalan pun hanya sekadar tambal sulam saja. Mereka tidak takut bahwa perbuatannya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt. Seperti firmanNya:

“Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapatkan siksaan yang pedih,” (TQS: Asy-syura: 42).


Berbeda dengan sistem Islam. Dimana pemimpin sangat memperhatikan umatnya. Karena setiap pemimpin-pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dari semua yang menjadi urusannya. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.:

“Dan Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengatur dan pengelola) dan ia dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya itu,”  (HR: Muslim). 


Sungguh indah kepemimpinan yang berdasarkan Islam. Hal yang bisa dilakukan adalah mengambil ibrah dari gambaran kepemimpinan pada masa Khulafaur Rasyidin, yakni Umar bin Khattab. Beliau dikenal tegas dan tegar dalam memimpin umatnya. Beliau pun sangat berhati-hati dalam menjalankan pemerintahannya. Begitulah bila kepemimpinan berlandaskan syariatNya. Semua akan terlindungi, terjaga, dan Allah Swt akan menurunkan rahmatNya kepada seluruh penghuni bumI. 


Maka sudah saatnya umat mencampakkan aturan buatan manusia (kapitalisme-sekuler) digantikan dengan sistem sahih yang datangnya dari Allah Swt yaitu Islam kaffah yang diterapkan dalam segala aspek kehidupan. 


Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update