Oleh Rani R
Aktivis Muslimah
Bulan mulia telah menyapa kita semua. Rasa syukur harus terucap sebagai bentuk kebahagiaan, karena masih diizinkan beribadah di bulan mulia, Ramadan. Banyak target yang harus dituntaskan, walaupun berat sekali untuk melakukannya. Hanya saja, hikmah yang didapatkan adalah rasa cinta kepada syariat-Nya.
Ya, memupuk dan memelihara cinta itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan yang kuat demi meraih tingkat tertinggi dalam cinta. Begitulah cinta, sesuatu yang tidak asing di telinga siapapun, pasalnya ini bermula dari fitrah manusia. Fitrah manusia yang terdiri dari naluri dan kebutuhan jasmani, semuanya perlu dipenuhi sesuai syariat Islam.
Nah, tepat sekali, mumpung di bulan yang mulia dan berpahala, waktunya meng-upgrade diri menjadi lebih baik dengan meraih cinta hakiki, yaitu cinta Illahi, Allah Swt. Caranya bagaimana?
Pertama, niatkan semua aktivitas kita hanya untuk mendapatkan rido Allah Swt. Ada satu hadist yang terkenal, dari Amirulmukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya." (HR Bukhari dan Muslim). Ini penting banget, karena bisa membedakan satu amal dengan amal yang lain.
Kedua, menuntut ilmu. Dengan ilmu, Allah Swt. akan meninggikan derajat manusia. Jadi, sebaiknya selama ramadan sering-sering hadir ke kajian-kajian ilmu atau taman-taman surga, jangan cuman sibuk mencari takjil untuk berbuka puasa. Dan jangan lupa ilmu yang dicari pun harus sesuai syariat, tidak hanya mengandalkan dari youtube, googling, atau media sosial lainnya, tetapi harus talaqiyyan fikriyan.
Ketiga, berkumpul dengan orang-orang solih. Inipun penting sekali, karena sebagai bentuk penjagaan iman kita. Jadi, kalau kondisi iman sedang kacau, ada teman yang akan menasihati, sehingga bisa istikamah lagi dalam kebaikan.
Sayangnya, semua itu akan sulit tercapai jika negara tidak mendukungnya. Apalagi yang diterapkannya masih aturan sekuler alias kebebasan. Dalam sekuler semua idividu bebas berekspresi sesuai hawa nafsunya. Individu diizinkan untuk berpacaran walaupun di bulan puasa, boleh berikhtilat (campur baur laki-laki dengan perempuan) yang dibalut pakai acara buka bersama, ataupun boleh tidak berpuasa sesuka hati. Astagfirullah.
Akhirnya, bulan puasa berlalu begitu saja. Yang ada hanya menahan lapar dan dahaga. Selebihnya belum bisa menikmati manisnya beribadah di bulan ramadan. Padahal seharusnya dijadikan momen untuk memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Memang betul, manusia diberikan akal oleh Allah Swt., tetapi fungsinya untuk mengagungkan ciptaan-Nya, dan taat kepada aturan-Nya, bukan membuat aturan sendiri. Karena kelak akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah Swt. Manusia yang menggunakan akal pikiran dengan tuntunan syariat pasti akan mampu memposisikan cinta yang ada pada dirinya.
Terakhir, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus senantiasa kita pupuk dibandingkan cinta kepada dunia.
Rasulullaah saw bersabda, yang artinya, "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tua, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari). Yuk, saatnya memupuk cinta di bulan mulia ini, memaksimalkan waktu untuk beribadah, mengkaji Islam, dan berkumpul dengan orang-orang solih. Lets Go!
Wallahu'alaam Bishshawwab.

No comments:
Post a Comment