Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir: Bencana Alam Langganan

Tuesday, March 11, 2025 | Tuesday, March 11, 2025 WIB Last Updated 2025-03-11T05:07:16Z

Banjir: Bencana Alam Langganan

Oleh : Ermalianti, M.Pd

 (Akademisi)


Banjir kembali melanda kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) terjadi pada Ahad hingga Kamis, 2 - 6 Maret 2025. Dikatakan oleh Yus Budiono seorang peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, bahwa ada empat faktor banjir di wilayah Jabodetabek, yakni penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem. (TribunJabar.id) 


Banjir tersebut mengakibatkan beberapa fasilitas umum rusak, tanah longsor, hingga korban jiwa. Sedikitnya tujuh unit jembatan terdampak bahkan menyebabkan seorang warga meninggal dunia akibat hanyut. Selain itu, bencana hidrometeorologi juga berdampak terhadap 1.399 jiwa dari 381 keluarga. (Tempo.com)


Diakui atau tidak terjadinya banjir berulang bukan semata karena curah hujan tinggi dan pendangkalan sungai. Namun, akar masalahnya adalah kebijakan pembangunan kapitalistik yang pro pengusaha sehingga mengabaikan lingkungan dan dampaknya terjadi pada masyarakat. 


Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Suci Fitria Tanjung, menyoroti tata ruang yang rusak di wilayah Jakarta dan penyangganya sebagai penyebab permasalahan banjir. Suci menyebut banyak wilayah mengalami "alih fungsi yang luar biasa". Hal ini, dikatakan tidak lepas dari pola pembangunan yang lebih fokus pada faktor ekonomi. (bbc.com)


Perusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan di kawasan Puncak sangat masif terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Forest Watch Indonesia (FWI) melaporkan sekitar 5.700 hektare hutan di kawasan Puncak dan sekitarnya lenyap sepanjang 2000-2016. Gencarnya perambahan hutan dan pembangunan vila di kawasan tersebut membuat gundul ratusan hektare hutan lindung di hulu aliran sungai menuju Jakarta itu. (Tempo.com)


Keadaan ini tentu sangat kritis, karena pemerintah yang memberikan izin pembangunan masif di hulu. Demi mengejar peningkatan pendapatan daerah, pemerintah memberi izin deforestasi dan alih fungsi lahan. 


Para pejabat memang sudah melakukan kunjungan setiap kali banjir terjadi dan menjanjikan banyak hal untuk mencegahnya. Namun, janji-janji itu hanya berujung survei, janji - janji politik. Sebaliknya masyarakat berada dalam ketidakpastian.


Hal ini tentu berbeda dalam sistem Islam. Kita tentu sebagai seorang muslim harus mengembalikan pengaturan alam termasuk dalam mengatasi banjir merujuk kepada Pencipta. 


Sebagaimana kutipan dari artikel Ustaz Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy (2020), Khilafah Islamiah mengatasi banjir dan genangan perlu  kebijakan canggih dan efisien.

Pertama, jika kasus banjir disebabkan keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletser, rob, dan lain sebagainya, sehingga Khilafah akan menempuh upaya-upaya seperti membangun bendungan-bendungan dengan berbagai tipe, yakni yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi.


Kedua, dalam aspek undang-undang dan kebijakan, Khilafah membuat kebijakan bahwa pembukaan pemukiman baru harus menyertakan variabel-variabel drainase, penyediaan daerah serapan air, serta penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya. Hal ini bertujuan mencegah kemungkinan terjadinya banjir atau genangan.


Ketiga, dalam menangani korban-korban bencana alam, Khilafah akan bertindak cepat sembari melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana. Khilafah juga menyediakan logistik berupa tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita sakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai.


Selain itu, Khalifah akan mengerahkan para alim ulama untuk memberikan tausiyah bagi para korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah Taala.


Dengan banjir yang berulang, dengan berharap pada pemerintah yang mementingkan pihak kapitalistik, tentu solusi tuntas tidak akan pernah terjadi. Sudah saatnya kita bangkit mempelajari Islam, mendakwahkannya dan merealisasikannya di dalam sistem Islam. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update