Oleh : Suryani
Dilansir dari CNBC Indonesia – Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menata mata rantai penjualan Liquefied Petroleum Gas (LPG) khususnya untuk jenis bersubsidi yakni LPG 3 Kg. Dengan Penataan ini, penyaluran LPG 3 Kg ini dinilai bisa tepat sasaran.
Pada hakikatnya gas LPG 3 Kg ini diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah tetapi kenyataannya banyak dibeli oleh masyarakat ekonomi menengah keatas dengan jumlah pembelian tidak terbatas hal inilah yang mengakibatkan terjadinya kelangkaan terhadap gas LPG 3 kg dimana ada sebaian besar orang tidak kebagian baik melakukan pembelian melalu agen ataupun enceran. Oleh karenanya, pemerintah membentuk sebuah kebijakan baru untuk mengatasi masalah tersebut. Akan tetapi kebijakan baru itu tidak menjadi solusi untuk masalah ini, dimana masih tetap terjadi kelangkaan yang bahkan memakan korban jiwa.
Gas LPG 3 Kg merupakan jenis gas yang paling banyak digunakan dalam rumah tangga karena memiliki harga yang terjangkau tetapi siapa sangka hal ini justru menjadikan beberapa konsumen memborong secara tidak wajar sehingga terjadi ketimpangan yang mengakibatkan kelangkaan, selain itu penyebab lainya yaitu adanya keterbatasan pasokan dari pemasok utama yaitu pertamina.
Pembelian secara tidak wajar oleh konsumen dikarenakan konsumen merasa bahwa apa yang merekan lakukan bukanlah sebuah tindakan yang tidak baik yang tidak merugikan orang lain, kurangnya rasa kemanusiaan antar sesama yang mengantarkan rasa hanya peduli terhadap diri sendiri tampa memikirkan orang lain. selain itu, tidak adanya pengaturan pasti mengenai batas jumlah pembelian setiap konsumen sehingga sanksi tidak dapat dikenakan kepada para konsumen yang melanggar dengan melakukan pembelian secara tidak wajar atau besar besaran.
Pemerintah terlalu fokus terhadap pembentukan kebijakan untuk mengatasi kelangkaan gas LPG 3 kg ini alih-alih mencari akar permasalahannya, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk pembatasan pendistribusian kepada agen sehingga agen juga membatasi penjualan kepada pengencer akibatnya terjadi kelonjakan harga terhadap konsemen yang melakukan pembelian secara enceran. Padahal sebenarnya yang harus diperbaiki yaitu jumlah penjualan terhadap konsumen. seringkali pemerintah membuat kebijakan-kebijakan tanpa melakukan musyawarah terlebih dahulu sehingga kebijakan baru yang dikeluarkan mengagetkan masyarakat tanpa terlihat secara nyata bahwa kebijakan yang dibuat dapat mengatasi masalah yang dialami tetapi justru menimbulkan masalah baru, suara rakyat seringkali dibalas dengan dalih seakan-akan semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu tampa memikirkan bahwa dampaknya bisa semakin melebar seperti ada pihak yang dirugikan dan protes dimana-mana yang berujung pengrusakan.
Pemerintah selalu mengacu pada paham sekulerisme yaitu paham yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan, bahkan dalam hal pembentukan kebijakan baru sehingga jika terjadi sebuah masalah pemerintahan sebuah negara tidak mau mengambil solusi yang berlandaskan agama, mereka lebih memilih melakukan pengaturan atau penyelesaian berdasarkan pemikiran mereka sendiri, akibat yang terjadi bukannya menyelesaikan masalah tersebut malah menambah permasalahan yang merambat kemana-mana. Dan mereka sadar terhadap tindakannya namun tetap saja mengulangi hal yang sama.
Islam sebagai solusi:
Dalam islam diatur bagaiman tata cara dalam pembentukan sebuah kebijakan tidak sembarangan semuanya berdasarkan pengaturan dalam al-qur’an seperti yang terdapat pada Q.S Al-Imran ayat 159, Q.S Asy-Syura ayat 38, Q.S An-Nisa ayat 58, sehingga menciptakan kebijakan yang disepakati bersama tampa merugikan pihak mana pun dan in syaa allah memberiakan solusi yang tepat.
Islam mengajarkan pentingnya kesetaraan dan keadilan, dalam islam sumber daya adalah milik bersama sehingga dalam penggunaan sumber daya diberlakukan secara merata dan adil.
Setiap individu harus memiliki rasa kasih sayang antar sesama, menjauhkan diri dari sikap egois, dan penduli kepada orang lain. Dan itu hanya didapat dari pendidikan karakter dengan nilai-nilai agama. Islam menjamin setiap pendidikan individu, membangun karakter yang agamis, bertaqwa, sehingga melahirkan individu yang jauh dari perilaku menyimpang perilaku yang tidak disukai oleh allah SWT. Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment