Oleh Ernita S
Viral belakangan ini ramai warganet menyerukan tagar #KaburAjaDulu dalam unggahan di media sosial terutama di platform X. Fenomena seperti ini tidak akan muncul dengan begitu saja tanpa adanya rasa kecewa yang dirasakan oleh netizen. Sehingga adanya tagar ini menjadi wadah ekspresi warganet atas sistuasi yang terjadi di Indonesia.
Tagar #KaburAjaDulu belakangan ramai diserukan warganet melalui media sosial, termasuk di X atau Twitter. Jika tagar #KaburAjaDulu dilihat di X, media sosial itu akan memunculkan unggahan warganet terkait kesempatan studi atau bekerja di luar negeri untuk "kabur" dari Indonesia. Warganet meramaikan tagar #KaburAjaDulu karena ingin kabur dari tekanan pekerjaan, pendidikan, maupun masalah sehari-hari di Indonesia. (Kompas.com, 13/2/2025)
Meski terlihat sederhana, menguatnya tagar ini menjadi indikasi bahwa kenyataannya banyak masyarakat Indonesia yang sungguh-sungguh berniat meninggalkan negara kelahirannya untuk mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Dalam tren #KaburAjaDulu ini, banyak warganet merekomendasikan sejumlah negara seperti Jerman, Jepang, Amerika, hingga Australia sebagai negara yang tepat untuk pindah. Masifnya penggunaan tren #KaburAjaDulu juga menjadi sinyal kekecewaan masyarakat yang begitu besar terhadap pemerintah Indonesia. (Cnnindonesia.com, 13/2/2025)
Munculnya kondisi seperti ini tentu tidak lepas dari pengaruh digitalisasi yang menggambarkan tentang kehidupan negara lain lebih menjanjikan yang berada di sosial media. Disisi lain, di dalam negeri memiliki kualitas pendidikan yang rendah ditambah dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri di negara maju semakin memberikan peluang untuk "kabur". Selain itu, banyaknya tawaran kerja diluar negeri baik pekerja terampil maupun kasar dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju dibandingkan di negeri ini mencari kerja sulit semakin membenarkan untuk “kabur”.
Kondisi sekarang ini seperti #KaburAjaDulu berkaitan dengan fenomena brain drain yang telah terjad sudah lama. Adapun brain drain atau bisa disebut juga dnegan capital flight merupakan suatu kejadian disaat orang pintar maupun berbakat lebih memilih bekerja di luar negeri. Fenomena brain drain sering terjadi di negara-negara yang masih berkembang.
Brain drain menjadi persoalan yang vital dalam konteks globalisasi atau liberalisasi ekonomi. Dimana arus brain drain yang semakin menguat dan makin memperlebar kesenjangan antara negara berkembang dengan negara maju. Brain drain juga menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap kesempatan dan sumber daya.
Keadaan seperti ini hakikatnya menggambarkan kebijakan politik ekonomi negeri yang gagal dalam memberikan jaminan kehidupan sejahtera. Kegagalan yang diperoleh tidak lepas dari peran penguasa yang mengatur sistem negara. Apabila difikirkan secara mendetail kepemimpinan penguasa sekarang menggunakan asas kapitalisme.
Sistem kapitalisme yang dijadikan sebagai asas negeri ini adalah akar masalah yang terjadi saat ini. Mereka telah menciptakan sampai melegalkan berbagai kebijakan yang pro kepada para capital. Hal ini berdampak pada kesenjangan ekonomi tidak saja terjadi di dalam negeri tetapi juga di tingkat dunia, antara negara berkembang dan negara maju.
Berbagai masalah yang terjadi dapat diselesaikan oleh Islam pasalnya Islam mempunyai syariat
mewajibkan negara membangun kesejahteraan untuk rakyatnya. Selain itu, mewajibkan negara memenuhi kebutuhan asasi setiap warga negara individu per indvidu. Diantara bentuknya seperti pemeliharaan atas urusan rakyat dan perlindungan atas yang terjadi kepada mereka.
Ada banyak mekanisme yang harus dilakukan oleh negara termasuk diwajibkan menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh. Apalagi ada syariat bagi setiap laki-laki yang mukallaf memiliki kewajiban untuk mencari nafkah. Tentu saja kewajiban ini sangat membutuhkan dukungan dari negara yang dibentuk lapangan seperti seperti jaminan pekerjaan membuat mereka tidak harus melakukan “kabut”.
Dalam sistem Islam kesempatan bekerja dibuka sangat luas misalnya dari sektor ekonomi riil saja. Dimana negara juga peduli dan menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara baik di sektor pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Ada lagi pengelolaan sumber daya manusia yang Allah limpahkan kepada kaum muslimin pastinya membutuhkan tenaga ahli dan terampil dengan jumlah yang banyak.
Selain itu, strategi pendidikan dalam sistem Islam dapat menyiapkan sumber daya manusia yang beriman dan siap membangun negara. Pendidikan yang diperoleh layak dan berkualitas agar dapat memperoleh akses layanan pendidikan semakin baik. Hal ini dikarenakan pedidikan dalam Islam menjadi kebutuhan dasar public yang harus diperoleh oleh masyarakat.
Dalam sistem Islam pemimpin menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap strategi pendidikan untuk menjamin warga negara. Dimana pendidikan harus diberikan secara gratis tanpa mengurangi kualitas pendidikan itu. Adapun tujuan pendidikan Islam mencetak generasi yang mempunyai kepribadian Islam yang meliputi pola pikir dan sikap berdasarkan Islam.
Generasi ini juga akan dicetak lebih peka terhadap persaolan yang dihadapi oleh umat sehingga mudah diselesaikan problematikanya. Dimana orang berbakat dan pintar menjadi garda terdepan yang siap untuk membangun negara. Oleh sebab itu, tegaknya daulah Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment