Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Saatnya Gen Z Bangkit dan  Bersiap Menjadi Agen Perubahan Hakiki

Sunday, January 26, 2025 | Sunday, January 26, 2025 WIB Last Updated 2025-01-26T09:18:06Z

 




Oleh : Rizka Meilina

Fakta mengejutkan baru-baru ini mengungkap bahwa Gen Z atau Generasi Z tengah menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari seharusnya. Studi mengungkapkan bahwa sebanyak 38% dari mereka mengalami krisis paruh baya akibat tekanan finansial yang luar biasa. Generasi Z tidak benar-benar dalam kondisi baik yang mana saat ini menunjukkan bahwa kesehatan holistik di semua kelompok usia karyawan mengalami penurunan, tetapi penurunan terbesar terjadi pada Generasi Z. Generasi ini merasa terjebak dalam kecemasan, kelelahan, dan ketidakpuasan hidup.  Mereka mengaitkan banyak hal ini dengan beban finansial yang dialami mereka. Berdasarkan hasil survei, kesehatan holistik di kalangan pekerja Gen Z mengalami penurunan yang signifikan sebesar 6% dibandingkan tahun lalu. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia yang sama pada lima tahun yang lalu. Survei kesejahteraan global yang menemukan bahwa usia 15 hingga 24 tahun semakin kurang bahagia dibandingkan generasi yang lebih tua. Generasi Z atau Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 – 2012, kerap menjadi sorotan karena mereka lebih rentan terhadap masalah mental ketimbang generasi sebelumnya. Melansir dari BTPN, banyak penelitian dan survei menunjukkan bahwa Gen Z mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Masalah gangguan jiwa atau mental pada Gen Z disebabkan oleh Teknologi dan Media Sosial, tekanan Karier dan Akademis, tidak Stabilnya politik dan ekonomi, serta perubahan sosial dan kultural. 

Berbagai persoalan yang dihadapi Gen Z hari ini sejatinya adalah buah busuk penerapan sistem kapitalisme yang rusak, yang tercermin pada sistem ekonomi kapitalistik, sistem politik demokrasi, sistem sosial liberal dan matrealistik, sistem pendidikan mahal dll. Tata kelola dunia ala kapitalisme yang diaruskan negara-negara maju dan dipaksakan pada negara dunia ketiga telah mengonsentrasikan kekayaan dunia di tangan segelintir kapitalis pemilik perusahaan multinasional yang berpusat di negara-negara maju. Mereka mengisap kekayaan negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia) dan menumpuknya untuk kemakmuran negara-negara maju. Hal ini tentu berdampak kemiskinan bagi negara-negara dunia ketiga. Kapitalisme juga memformat lahirnya penguasa yang abai terhadap rakyat, termasuk dalam penyediaan lapangan kerja. Jumlah pengangguran makin pesat ketika negara membuka keran impor lebar-lebar demi keuntungan para kapitalis, padahal dampaknya adalah bergugurannya industri manufaktur dalam negeri yang berujung PHK massal.

Dengan sederet persoalan yang disebabkan kapitalisme ini, Gen Z diposisikan untuk ikut menyelesaikan. Ibarat para kapitalis yang berpesta, Gen Z yang mencuci piringnya. Di sektor ekonomi, Gen Z diarahkan untuk mengoptimalkan ekonomi kreatif melalui platform digital. Data Kemenparekraf menunjukkan bahwa pada 2022 produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif Indonesia mencapai Rp1.280 triliun dengan kontribusi terhadap total PDB nasional sebesar 6,54%. Bisnis kreatif ditargetkan membantu mengurangi angka pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Miris, pada saat Gen Z disuruh proaktif dalam bisnis kreatif, negara malah terus membuka lebar investasi asing untuk mengeruk SDA, padahal nilai ekonomi tambang berkali-kali lipat dibandingkan ekonomi kreatif. Pada saat yang sama, negara juga melakukan relaksasi impor yang menyebabkan meningkatnya pengangguran.

Berbagai persoalan itu menjerat Gen Z akibat sistem rusak ini. Oleh karena itu,  Gen Z harus disadarkan akan realita hari ini dan akar masalahnya.  Gen Z perlu dibangun pemahamannya akan hakekat kehidupan, sehingga dapat memahami realita kehidupan dengan tepat , juga menyadari potensi dirinya. Gen Z memiliki potensi besar yang penting bagi perubahan dunia dari karut-marut persoalan yang diakibatkan kapitalisme. Sebagai penduduk asli dunia digital, mereka terbiasa melakukan interaksi lintas negara sehingga memiliki perspektif dan jangkauan global. Mereka piawai menggunakan teknologi digital dan memanfaatkannya untuk mengaruskan perubahan di tengah masyarakat dunia. Potensi ini mendukung Gen Z untuk menjadi calon pemimpin peradaban global. Potensi Gen Z ini harus diarahkan untuk mewujudkan perubahan hakiki menuju solusi sahih, yaitu Islam ideologis. Caranya adalah membekali para pemuda dengan akidah Islam dan ilmu pengetahuan yang penting untuk mengoptimalkan potensi mereka. Hal ini hanya mungkin terwujud dalam sistem Islam kafah.

Oleh karena itu, gen Z wajib didorong untuk terus berjuang survive dalam situasi hari ini dengan landasan keimanan, dan dimotivasi agar  berperan dalam menyelesaikan persoalan umat dengan menegakkan aturan Allah secara kaffah melalui tegaknya Khilafah.  Mereka juga perlu dipahamkan pentingnya generasi muda melek politik  agar dapat memimpin umat menuju perubahan hakiki sesuai tuntunan Nabi, mengambil peluang menjadi pejuang kemuliaan Islam, sesuai dengan yang Allah SWT firmankan dalam QS. Ali Imran ayat 104 yang berbunyi, 

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. 

Serulah pemuda menjadi agent of change, untuk dicetak menjadi motor perubahan hakiki dan penegakan Khilafah, dibutuhkan pembentukan kepribadian Islam dan kesadaran politik Islam melalui penanaman tsaqafah Islam yang bersifat siyasiyah (politis). Hal ini bisa dilakukan melalui proses halaqah Islam oleh jemaah Islam ideologis. Oleh karenanya, penting untuk melibatkan pemuda Gen Z dalam aktivitas dakwah Islam ideologis, baik sebagai objek maupun subjek dakwah. Mereka akan mengopinikan Islam kafah secara global sehingga menjadi kesadaran umum umat. Wallahualam bissawab. 




No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update