Oleh: Ummu Hanif
Empat pemuda diringkus polisi setelah kedapatan pesta miras di sebuah kafe di Jalan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto Rabu (8/1/2025/ radarmojokerto) dini hari. Mereka membuat keributan dengan berteriak hingga mengganggu warga yang sedang istirahat.
Kasatsamapta Polres Mojokerto Kota AKP Anang Leo Afera mengatakan, pihaknya menerima laporan melalui Call Center 112 terkait adanya sekumpulan pemuda yang mabuk-mabukan di teras kafe. Para pelaku menggelar pesta miras sejak dini hari hingga subuh sekitar pukul 04.00. ”Mereka berteriak-teriak dan membuat keributan, sehingga warga di sekitar yang tidur tertanggu,” jelasnya, kemarin.
Lima pelajar terlibat tawuran di kawasan Alun-Alun Wiraraja, Kota Mojokerto, Minggu (12/1/2025 /radarmojokerto) dini hari. Aksi tersebut dibubarkan polisi dan kelimanya yang didapati dalam kondisi mabuk dikenakan sanksi tipiring.
Informasi yang dihimpun, aksi tawuran ini melibatkan para remaja laki-laki dari Kecamatan Prajurit Kulon. Mereka berusia 15-16 tahun dan duduk di bangku SMK. Tawuran yang terjadi di alun-alun sisi timur itu dibubarkan polisi sekitar pukul 03.30 atau saat waktu hampir subuh. Kanit Turjawali Satsabhara Polres Mojokerto Kota Ipda Iswahyuda membenarkan kejadian itu. Menurutnya, tidak ada korban maupun senjata tajam yang diamankan dari lokasi. Sedangkan kelima pelajar dikenai sanksi tindak pidana ringan (tipiring) karena masih di bawah umur. ’’Kami serahkan ke dinsos dan orang tua serta sekolah mereka akan kita panggil supaya anak-anaknya dapat pembinaan,’’ ujarnya, kemarin
Puluhan pemuda diamankan saat hendak melakukan aksi balap liar di Jalan Raya Lengkong-Domas, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Senin (12/1/2024/beritajatim.com) dini hari. Satu diantaranya merupakan perempuan. Bersama anggota Polsek Trowulan, Sooko, Jatirejo dan Puri, operasi gabungan dipimpin langsung Kabag Ops Polres Moiokerto, Kompol Hendro Susanto. Sekira pukul 02.00 WIB, petugas yang melakukan penyisiran berhasil menemukan keberadaan para pelaku.
Hasil Sistem Sekuler
Sederat kasus di atas merupakan masalah dari sistem pendidikan kita yang diterapkan saat ini, beragam kasus yang terjadi pada remaja atau pelajar masalah tawuran, balapan liar atau pesta miras dan masalah yang lainnya hal itu karena terjadi dekadensi moral, metal illes, emosi labil, rendahnya adab, dan minimnya akhlak masih menjadi masalah yang tidak terurai.
Pendidikan yang berbasis sekuler menghasilkan output yang kosong dari keimanan, jika ada siswa berpresetasi secara fisik saja hanya masalah akademis, seni atau olahraga tidak menyentuh pada keimanan.
Orang tua yang kurang perhatian terhadap anak mereka, pasrah saja kepada sekolah tanpa memonitor perkembangan pendidikan anak-anaknya di sekolah. Guru kurang memberi perhatian karena tersibukkan dengan berbagai syarat administrasi. Orang tua kurang memberi kasih sayang tersebab belum paham atas tugasnya. Ditambah, negara tidak menjamin pelayanan pendidikan yang dibutuhkan.
Sistem sekuler liberal yang jahat telah berkurangnya iman setiap insan. Islam tidak lagi dijadikan pedoman dalam kehidupan. Keimanan pun dinomorduakan. Islam hanya sebagai agama ritual sekadar mewujudkan rukun Islam. Rukun Iman hanya terucap di lisan, tetapi minim dalam perbuatan. Jika terus seperti ini, jangan berharap generasi membaik. Jika sekularisme masih diterapkan, jangan pula berharap lahir generasi cemerlang yang memiliki kepribadian mulia dan bertakwa.
Sistem Pendidikan Islam Sebagai Solusi
Sistem pendidikan Islam memiliki karakteristik yang didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam pada peserta didik. Kepribadian islami (asy-syakhshiyyah al-islâmiyyah) sebagai hasil dari pendidikan Islam memiliki dua karakter utama, yakni pola pikir islami (al-‘aqliyyah al-islamiyyah) dan pola sikap islami (an-nafsiyyah al-islâmiyyah).
Sistem pendidikan Islam dimulai oleh Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum muslim, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Islam mendidik setiap generasi dan angkatan. Rasulullah saw. dan para sahabat mengislamkan hampir semua kalangan. Mereka mengajarkan Al-Qur’an dan Sunah kepada segenap lapisan masyarakat. Dengan itu lahirlah generasi ululalbab yang cerdas dan saleh.
Meski demikian, Islam tetap memperhatikan ilmu pengetahuan umum (sains). Rasulullah saw., misalnya, pernah mengizinkan dua orang sahabat beliau pergi ke Yaman untuk mempelajari teknik membuat senjata yang bernama dabbabah. Rasulullah saw. juga mendorong kaum muslim untuk mengembangkan teknik pembuatan busur panah dan tombak. Beliau pun menganjurkan para wanita saat itu untuk mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang-orang sakit (pengobatan). Beliau juga memerintahkan para orang tua agar mengajarkan kepada anak-anak mereka olahraga memanah, berenang, dan menunggang kuda. Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman mengeluarkan hadits ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “ajarkanlah anak-anak kalian renang, melempar dan ajari kaum wanita kalian memintal”.
Dari sistem pendidikan Islam yang dipelopori oleh Rasulullah saw. inilah kelak lahir generasi emas yang berkualitas, baik dari sisi intelektualitas maupun spiritualitas.
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukanlah sekadar media transfer ilmu pengetahuan, tapi merupakan pencetak dan pembentuk kepribadian islami, yakni pembentuk pola pikir islami dan pola sikap islami pada peserta didik. Pola pikir islami berkaitan dengan pemahaman peserta didik terhadap hukum-hukum Islam (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram). Pola sikap islami berkaitan dengan perilaku peserta didik yang sesuai dengan hukum Islam di semua aspek kehidupan.
Dalam pandangan Islam, orang tua di tengah keluarga wajib menjalankan fungsi pendidikan Islam kepada anak-anak mereka. Pemerintah pun wajib menjalankan sistem pendidikan Islam yang melahirkan generasi berkepribadian islami. Pemerintah juga wajib menerapkan sistem sanksi yang adil dan tegas sesuai dengan hukum dan ketetapan Allah Taala. Di sisi lain, kontrol masyarakat akan menguatkan apa yang telah dilakukan oleh keluarga. Budaya beramar makruf nahi munkar di tengah masyarakat serta menjauhi sikap permisif terhadap semua bentuk kemunkaran akan membuat semua tindakan kriminalitas anak dapat diminimalisir.
Sinergitas antara keluarga, guru, dan masyarakat yang ditopang oleh negara dalam melaksanakan sistem pendidikan Islam terbukti pernah melahirkan generasi emas sepanjang sejarah peradaban dunia. Kondisi ini berlangsung sejak penerapan sistem pendidikan Islam yang dimulai pada masa kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai kepala Negara Islam di Madinah, lalu dilanjutkan hingga pada masa kepemimpinan Khulafaurasyidin dan para khalifah setelah mereka sepanjang era Kekhilafahan Islam selama 13 abad.
Sistem pendidikan Islam di dalam Negara Khilafah mengintegrasikan ilmu agama (seperti akidah, fikih, tasawuf/akhlak, dll) dengan ilmu duniawi (seperti kedokteran, sains, dan teknologi). Tujuannya adalah untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam urusan dunia, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan.
Sesuai sabda Rasulullah saw. terkait tanggung jawab pemimpin negara yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad, “Imam (kepala negara) itu adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.”
Lahirnya generasi emas sepanjang sejarah peradaban Islam dalam institusi Khilafah pada masa lalu semestinya menjadi petunjuk dan pelajaran yang berharga bagi umat Islam di negeri ini, khususnya pemerintah. Petunjuk bahwa hanya Islam sebagai sistem kehidupan yang lurus dan benar yang akan melahirkan kebaikan bagi bangsa dan negara ini.
Allah Swt berfirman, “Inilah jalanku yang lurus (yakni Islam). Oleh karena itu, ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang bisa mengakibatkan kalian tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan kepada kalian agar kalian bertakwa.”
(QS Al-An’am [6]: 153).
Dari petunjuk dan pelajaran ini, akan lahir sebuah kesadaran ideologis pada bangsa ini untuk berjuang bersama menegakkan syariat Islam secara kafah dalam semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan.
Yakinlah, hanya sistem Islam—termasuk di dalamnya sistem pendidikan Islam—yang akan melahirkan generasi emas. Itulah generasi yang beriman, bertakwa, cerdas, dan berprestasi.
Allah Swt berfirman, “Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Oleh karena itu, Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka itu.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Wallahu a’lam bishawab
No comments:
Post a Comment