Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pertanggung jawaban Sebagai Pemimpin

Tuesday, October 29, 2024 | Tuesday, October 29, 2024 WIB

Oleh : Neng Sri
(Ibu Rumah Tangga)

Akhirnya Prabowo dan Gibran dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Keduanya disumpah di bawah Kitab Suci al-Quran pada Sidang Paripurna MPR RI di Gedung Nusantara. Sejumlah media asing menyoroti pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dengan beragam narasi. Reuters menyebut pemerintahan Prabowo dibayang-bayangi oleh politik dinasti dan meningkatnya patronase lama.

Dalam pidatonya yang berapi-api, Prabowo bertekad akan memberantas korupsi. Namun, disinyalir para menteri dalam Kabinet Merah Putih ini justru banyak yang terjerat kasus korupsi. Pidato Prabowo cukup panjang karena menyentuh berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya, pidato tersebut belum menyentuh secara spesifik masalah kekuatan oligarki kapitalis yang justru menjadi biang masalah di negeri ini.

Ada juga aspek lain yang sangat penting, yang juga tidak disebutkan Prabowo dalam pidatonya, yakni ihwal beratnya pertanggungjawaban kepemimpinan kelak di akhirat. Tentu di hadapan pengadilan Allah SWT.
Dalam Islam, kepemimpinan atau kekuasaan memang sangat penting. Begitu pentingnya, Allah SWT mengajarkan kepada Rasulullah saw. suatu doa agar beliau diberi kekuasaan. Tentu bukan sembarang kekuasaan, tetapi kekuasaan yang bisa digunakan untuk menolong agama-Nya. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (agama Allah).” (TQS al-Isra’ [17]: 80).
Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Imam Ibnu Katsir tersebut bisa disimpulkan bahwa ada dua fungsi kekuasaan yang utama: Pertama, untuk menegakkan agama Islam. Inilah yang sekaligus menjadi motif utama Rasulullah saw. untuk berdoa kepada Allah SWT agar diberi kekuasaan. Kedua, untuk mengurus berbagai urusan dan kepentingan masyarakat. Tentu dengan menggunakan syariah Islam. Inilah juga yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. sebagai penguasa (kepala negara).

Dengan demikian, dalam pandangan Islam, tidak ada artinya kekuasaan jika tidak digunakan untuk menegakkan Islam dan menyebarluaskan dakwah Islam. Tidak ada artinya pula kekuasaan jika tidak digunakan untuk mengurus berbagai urusan dan kepentingan rakyat dengan syariah Islam.

Karena itu dalam Islam, pemimpin haruslah orang yang adil dan amanah. Demikian pula para pembantunya. Mereka haruslah orang-orang yang amanah sekaligus memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya. Selain itu Islam juga menekankan pentingnya sistem yang baik untuk menjalankan kekuasaan. Sistem yang baik merujuk pada sistem pemerintahan yang berlandaskan aqidah dan syariah Islam. Bukan yang didasarkan pada aqidah dan sistem sekuler sebagaimana saat ini.

Dalam Islam, amanah kepemimpinan sejatinya merupakan sesuatu yang sangat menakutkan. Rasulullah saw. telah menegaskan: “Sungguh kalian akan berambisi terhadap kekuasaan. Padahal kekuasaan itu bisa berubah menjadi penyesalan pada Hari Kiamat kelak” (HR al-Bukhari).

Demikianlah, betapa besar kekhawatiran para pemimpin Islam atau para khalifah pada masa lalu atas amanah kepemimpinan dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak di Akhirat. Tidak aneh jika mereka benar-benar menjalankan amanah kepemimpinan mereka dengan sebaik-baiknya. Tentu agar kekuasaan atau kepemimpinan yang mereka emban di dunia ini tidak berubah menjadi penyesalan di akhirat kelak. Bagaimana dengan para pemimpin saat ini?

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update