Oleh : Nina Iryani S.Pd
Bergulirnya era kepemimpinan dengan ajang pemilu sebagai perantara terus digencarkan dari periode satu menuju periode berikutnya. Tambal sulam terhadap masalah tidak menyentuh akar masalah. Cita-cita luhur bahkan visi misi pemilu yang notabene harapan bagi rakyat berujung bagi-bagi kursi, bukan lagi memikirkan masa depan rakyat tapi masa depan individu dan golongan semata. Realisasi janji-janji hanya bualan saja. Lagi-lagi drama derita rakyat terus dipertontonkan nasib pilu kian mencekik.
Benarkah ucapan Indonesia bangkit terwujud? Benarkah generasi emas jadi kenyataan?
Sayangnya masalah menggunung ditambah kemiskinan semakin menjadi-jadi.
Jumlah orang miskin di Indonesia per Maret 2024 mencapai 25,22 juta orang (Setkab.go.id). Jumlah itu mengacu pada kriteria Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan garis kemiskinan di Indonesia ada Maret 2024 sebesar Rp 582.932 perkapita perbulan (Finance.detik.com). Jika kriteria kemiskinan itu dinaikkan sesuai dengan kriteria Bank Dunia sebesar US$ 3 perhari, maka jumlah rakyat miskin naik menjadi 40 persen dari total penduduk Indonesia (CNBCIndonesia.com). Artinya dari jumlah total penduduk Indonesia sekitar 282 juta jiwa, sebanyak 112,8 juta terkategori miskin.
Faktanya para kandidat terpilih pengganti pemimpin sebelumnya seolah sudah diatur membentuk dinasti kerajaan turun temurun, belum lagi koalisi dengan berbagai partai politik lainnya, sibuk mempertahankan kekuasaan menutupi kinerja buruk pemerintahan lama dengan orang pengganti namun dengan penerapan sistem yang sama mustahil bangkit. Apalagi dengan sistem sekarang yang memisahkan agama dari kehidupan. Dimana agama hanya sebagai ritual semata. Tidak diikutsertakan dalam urusan ekonomi, politik, hukum bahkan peradaban. Adanya agama saja kriminal, kasus kejahatan bahkan pemerasan rakyat melalui undang-undang sudah terang-terangan. Apalagi jika agama dikriminalkan, dianggap aneh bahkan dibuat narasi dalang kejahatan demi mempertahankan unsur duniawi maka hancurlah harapan apapun apalagi bangkit.
Rasulullah SAW bersabda :
“Kepemimpinan itu awalnya bisa mendatangkan cacian, kedua bisa berubah menjadi penyesalan dan ketiga bisa mengundang azab dari Allah pada hari kiamat kecuali orang yang memimpin dengan kasih sayang dan adil.”
(H.R Ath-Thabarani).
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri wewenang untuk mengatur rakyat pada hari dia mati, sementara dia dalam kondisi menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga bagi dirinya.”
(H.R Al-Bukhari).
Allah SWT berfirman:
“Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan membukakan bagi mereka aneka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka akibat perbuatan mereka.”
(TQS. Al-‘Araf ayat 96).
Allah SWT berfirman:
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an) maka bagi dia kehidupan yang sempit dan diakhirat kelak dia dibangkitkan dalam keadaan buta.”
(TQS. Thaha ayat 124).
Dalam Islam, pemimpin haram mendzalimi rakyatnya apalagi memeras bahkan menyengsarakan rakyat berlarut-larut seperti sekarang.
Dalam Islam:
1. Aturan Islam diterapkan diseluruh aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, berbudaya, kesehatan, pendidikan, hukuman bahkan kehidupan berumah tangga.
2. Dalam Islam tidak ada bagi-bagi kursi dengan menguras rakyat melalui pajak.
3. Tidak diperbolehkan satu pun rakyat yang lapar.
4. Pendidikan dan kesehatan diutamakan bagi generasi muda hingga tua dengan fasilitas lengkap dari negara melalui pengelolaan SDA tanpa campur tangan asing dan aseng (tidak ada sistem kontrak, jual saham apalagi jual pulau).
5. Pengelolaan SDA 100 persen dikembalikan untuk kepentingan rakyat, sedangkan kepala negara dan pejabat lainnya dicukupi kebutuhannya oleh negara diambil dari pengelolaan SDA namun sesuai kebutuhan saja bukan untuk ‘flexing’ apa lagi hura-hura berfoya-foya.
Dengan demikian kerusakan, kejahatan, dan kemiskinan hingga masalah-masalah lainnya teratasi hingga ke akarnya dengan sistem yang pasti yaitu sistem Islam hingga terbentuklah negeri yang berdaulat, berkah dan layak mendapat ampunan Allah.
Wallahu’alam bissawab.
No comments:
Post a Comment