Oleh : Novia Roziah
(Anggota Komunitas Muslimah Rindu Jannah)
Aktivitas Zionis di Indonesia sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Jejak zionis di Indonesia hingga kini masih sangat kentara. Adanya lembaga Rahim atau The Ibrahim Heritage Study Center For peace yang berkantor di daerah Depok, juga Museum Holocaust di Minahasa, Sulawesi Utara sebagai sebuah lembaga strategis yang menjadi pusat propaganda zionis ini menjadi bukti nyata.
Meski Aktivitas zionis Yahudi di Indonesia cukup masif, namun sejak awal sikap Pemerintah Indonesia Pada negara haram Israel adalah jelas, menolak penjajahan. Hal ini berkesesuaian dengan pembukaan UUD 1945 bahwa “Penjajahan diatas dunia, harus di hapuskan”. Sehingga pendudukan Zionis Israel terhadap Palestina, tidak sesuai dengan mandat konstitusi yakni bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Fenomena Yahudi Pesek, Duri Dalam Daging Bagi Umat
Sayangnya ditengah isu panas genosida warga Gaza Palestina, publik di kejutkan dengan kabar lima orang kader Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin yang bertemu dengan presiden negara haram Israel, Isaac Herzog. Kelima orang Nahdliyin ini diantaranya, Zainul Maarif, Munawar Aziz, Nurul Bahrul Ulum, Syukron Makmun, dan Izza Annafisah Dania, yang di gelar pada 3 juli lalu. cnnindonesia.com
Akhirnya identitas asal organisasi lima nahdliyin yang bertemu Isaac Herzog juga terungkap. Zainul Maarif misalnya, merupakan dosen tetap di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) sekaligus pengurus lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta. Kemudian Munawar Aziz merupakan sekretaris Umum (Sekum) PP Pagar Nusa, ikatan pencak silat NU. Izza Annafisah dan Bahrul Ulum adalah pengurus aktif di PP Fatayat NU, Organisasi Pemudi atau Perempuan otonom dibawah PBNU. Kemudian Syukron Makmun adalah pengurus PWNU Banten.republika.com
Belakangan juga terkuak bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar ternyata pernah menghadiri undangan American Jewish Committee (AJC) dalam rangka studi banding dan diskusi lintas agama di Amerika Serikat. Beberapa bentuk kerjasama AJC dengan masjid Istiqlal Jakarta diantaranya;
1. Program Beasiswa (fellowship) yang diselenggarakan oleh AJC selama 6 Minggu di Amerika Serikat. Di laman resmi ajc.org di sebutkan bahwa Nasaruddin di sebut mengikuti program fellowship ini bersama AJC dan Jewish Theological Seminary.
2. Program PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang dilaksanakan rabu 10 Juli 2024 di masjid Istiqlal Jakarta. Yang memberikan kuliah adalah Dr Ari Gordon sebagai director of muslim-jewish relation di AJC.
3. Program seminar di Masjid Istiqlal Jakarta, pada 17 juli 2024 yang bertema Relations Among Abrahamic Religious Communities In History and Today, yang juga menghadirkan Dr Ari Gordon, namun akhirnya gagal terlaksana.
American Jewish Commite merupakan lembaga global yang berpusat di Amerika Serikat yang misinya adalah untuk membela Israel dalam menghadapi anti semitisme dan mempromosikan zionisme ke dunia Internasional, khususnya di dunia islam. Basis AJC bukan hanya di Amerika serikat melainkan juga di wilayah Uni Emirat Arab. Sementara itu di Indonesia, Penetrasi AJC banyak melalui jalur dialog antar iman dan budaya. Israel sebagai entitas yang masih belum di akui sepenuhnya oleh dunia internasional, membuat berbagai macam propaganda agar keberadaannya diterima. Salah satunya mereka melancarkan proyek Hasbara. Hasbara adalah sebuah proyek diplomasi yang menargetkan diplomat, politisi, berbagai lembaga dan badan pemerintah, Universitas, LSM, serta Masyarakat melalui media massa. Tujuan dari program hasbara ini sudah pasti untuk kepentingan strategis Israel, yakni menjaga citra Israel tetap positif di mata dunia.
Tidak hanya kalangan intelektual, program Hasbara ini disinyalir juga di sukseskan oleh yahudi pesek di platform media sosial. Sebut saja abu janda, yang selalu menebar pernyataan dukungan kepada entitas zionis, juga monic yang sering membuat publik geram atas sikapnya. Istilah yahudi pesek ini awalnya di populerkan oleh Kh. Lutfi Bashori melalui twitternya pada mei 2021 yang lalu. Istilah ini untuk menggambarkan karakteristik masyarakat asli Indonesia yang pro-zionis. Para yahudi pesek ini seharusnya di beri sanksi tegas karena keberadaan dan kiprah mereka bertentangan dengan arah kebijakan Negara Indonesia yang menentang penjajahan.
Pemerintah Lembek pada Zionis
Sikap tidak tegas pemerintah pada yahudi pesek ini, menjadi problem tersendiri. Sebagaimana disampaikan oleh KH. Muhyiddin Junaidi, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI; “ Saya mengusulkan agar pemerintah membuat Undang-Undang bagi siapa saja yang berkunjung ke zionis supaya diberikan sanksi pidana, sehingga tidak ada lagi dimasa depan yang berbuat hal serupa. Jika cuma dipecat atau sanksi moral itu tidak menimbulkan Syok therapy..” Ungkap nya geram dalam sebuah diskusi di kanal youtube UIY official.
Meski Indonesia tidak memiliki hubungan secara diplomatis dengan entitas zionis, namun pada faktanya hubungan perekonomian antara pemerintah Indonesia dengan Israel tetap terjalin. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang dari Israel meningkat. Buktinya sejak Januari hingga April 2024 saja, jumlah komoditas impor Kementerian Perdagangan dari israel meningkat hampir 4 kali lipat. Di tahun 2023, impor Indonesia dari negara haram Israel sekitar USD 6,7 juta, namun pada 2024 meningkat menjadi USD 29 juta. Ini pada komoditas alat pertanian, teknologi, mesin-mesin elektronik dan lain-lain.
Saat masyarakat mempertanyakan terkait kerjasama antara Kementerian Perdagangan dengan pihak negara penjajah, pemerintah “ngeles” dengan mengatakan jumlah impor dari Israel terhitung kecil jika dibandingkan dengan total nilai impor Indonesia yang menembus angka USD 18,45 Miliar pada Juni 2024, hal ini diungkapkan oleh Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. “Impor Asal Israel sangat kecil dibandingkan total impor Indonesia, karena saking kecilnya ini menjadi tidak berarti jika dibandingkan total impor”, ucap Amalia.
Adanya standar yang tidak jelas, berdampak pada sikap pembenaran pemerintah yang tetap menjalin hubungan ekonomi dengan penjajah. Disatu sisi pemerintah mengecam penjajahan. Di sisi lain, pemerintah bergandengan tangan mesra dengan penjajah di aspek yang dianggap menguntungkan. Sikap ini bersumber dari sistem politik demokrasi yang lahir dari asas sekularisme, pemisahan agama dengan negara. Sehingga jika ada aspek tertentu yang di anggap menguntungkan, maka semua perbedaan dan pertentangan bisa dibicarakan, inilah watak ideologi kapitalisme.
Zionisme dari Dimensi Teologis Ke Dimensi Ideologis Politis
Untuk memuluskan rencana Israel dalam meraih dukungan dunia, mereka merambah berbagai dimensi, awalnya memang dari dimensi teologis, misalnya dengan menebar opini bahwa pembentukan negara Israel bagi bangsa yahudi adalah untuk merealisasikan kepercayaan mereka di kitab Torah (Talmud). Kemudian tidak cukup dengan itu, dukungan tidak dapat diraih kecuali zionis ini merambah dimensi politik bahkan ideologis untuk memudahkan cita-cita besar mereka. Sehingga kaum yahudi yang berpaham zionisme ini berupaya untuk memasukkan pengaruhnya ke ranah politik. Kita lihat di Amerika serikat misalnya, dimana semua calon Presiden berusaha untuk mendapat simpati dari kalangan yahudi, karena yahudi punya kekuatan lobbying dalam perpolitikan di AS.
Begitu halnya di wilayah yang lain, entitas zionis akan terus berupaya untuk menancapkan pengaruhnya di negeri-negeri muslim. Diawali dengan diskusi ilmiah di kalangan intelektual dan ulama misalnya. Kedepan tidak bisa di pungkiri zionisme ini akan merambah ke ranah Politik, karena tujuannya adalah untuk menormalisasi hubungan antara zionis israel dengan negara-negara di dunia. Di Asean saja, dari 10 negara anggota Asean, sudah ada 6 negara yang mengakui negara haram Israel. Hanya tersisa Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. Sementara Laos masih belum menentukan keberpihakannya.
Simbiosis antara Yahudi, zionisme dan kapitalisme menjadi hal yang perlu di waspadai. Di negara kampium Kapitalisme yang menjunjung tinggi demokrasi saja, prinsip demokrasi di khianati. Buktinya, ditengah masifnya demontrasi mahasiswa yang mengecam kejahatan Israel, dua kandidat calon presiden AS justru “mengemis” dukungan dari kelompok zionis.
Berkaca dari Amerika sebagai negara penganut demokrasi. Sikap Indonesia yang masih memegang erat ideologi kapitalis dengan sistem politik demokrasinya, membuka celah pengkhianatan antara penguasa dengan umat islam khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya semua untuk kepentingan syahwat penguasa dan zionis
Desain Politik Indonesia Mengikuti Konstruksi Barat
Jika Palestina sedang di duduki oleh penjajah Zionis, maka sesungguhnya Indonesia juga sedang terjajah. Bedanya Indonesia terjajah secara Pemikiran baik politik maupun Ideologi. Jika kita jeli melihat kondisi Indonesia, selama 79 tahun ini semua rezim penguasa mengemban ideologi kapitalisme. Secara sistemik, desain politik dan ekonominya, merupakan Konstruksi Barat.
Melalui sistem Kapitalisme, negara dipaksa untuk melepaskan tanggung jawab kepada rakyat yang sudah diamanatkan oleh konstitusi. Masyarakat bisa merasakan, berbagai kebijakan penguasa tidak berpihak kepada mereka, justru hanya menguntungkan segelintir orang bahkan saat ini penguasa di duga kuat sedang menyiapkan dinasti politik untuk keluarganya. Kondisi ini tidak berubah, meski penguasanya silih berganti. Sejak era soekarno dengan demokrasi terpimpinnya, era soeharto dengan corak kepemimpinan militeristik yang terpancar dari ide demokrasi Pancasila, hingga Kini era Jokowi dengan masih mengusung ide demokrasi yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme liberal, yang semuanya berujung pada ketimpangan. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa Indonesia masih terjajah.
Bagi barat dalam hal ini Amerika, sistem yang diberlakukan di Indonesia sangat menguntungkan dan habitat yang bagus untuk penjajahan. Sehingga sistem ini harus dipertahankan. Keberadaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di jantung ibukota Jakarta menjadi indikator kuatnya pengaruh AS di Indonesia.
Amerika sebagai pendukung negara zionis pasti akan senantiasa menebarkan opini zionisme baik secara diplomatis maupun dengan kebijakan strategis kepada negara-negara jajahannya. Jadi, Selama Indonesia masih terjajah oleh sistem Kapitalisme demokrasi, maka selama itu juga jejaring dan kiprah zionasi di Indonesia akan tetap ada dan pengaruhnya akan menguat. Allahua’lam bisshowab
No comments:
Post a Comment