Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Invasi Budaya Asing di Balik Program SEA Teacher Project

Monday, October 07, 2024 | Monday, October 07, 2024 WIB

Salamatul Fitri

Dunia mahasiswa selalu menarik untuk diperhatikan. Salah satunya dengan adanya Program SEA Teacher Project. Program tersebut merupakan program pertukaran mengajar mahasiswa indonesia dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Selama satu bulan mereka belajar di universitas yang dituju guna mendapatkan ilmu serta pengalaman berada di negara yang ditempatkan. Mahasiswa yang berasal dari negara di Asia Tenggara juga belajar di universitas yang menjalin kerjasama di Indonesia.

Sebanyak sembilan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi (UNJA) siap mengajar di sekolah-sekolah di Filipina melalui program Sea Teacher Batch 10. Kepala UPT LI (Layanan Internasional) Universitas Jambi Sri menyampaikan bahwa sembilan mahasiswa akan ditempatkan di tiga universitas yang berbeda. Tiga universitas dimaksud adalah Mariano Marcos State University (MMSU), Don Mariano Marcos Memorial State University (DMMMSU) dan Presiden Ramon Magsaysay State University (PRMSU). (m.antaranews.com, 15/09/2024). Keberangkatan mahasiswa akan dimulai pada Oktober 2024.

Program SEA Tecaher gelombang 10 ini akan berlangsung selama satu bulan. Program ini bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa FKIP untuk praktik mengajar di negara lain, memberikan peluang kerja dan kesempatan yang lebih luas. Akan ada 12 mahasiswa dari Filipina yang akan bergabung di Sea Teacher di UNJA untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah-sekolah mitra Universitas Jambi.

*Apa itu Sea Teacher Project*

SEA Teacher Project atau juga biasa disebut dengan Pre-Service Student Teacher Exchange in Southeast Asia, adalah sebuah program yang bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari universitas yang ada di Asia Tenggara untuk memiliki pengalaman praktik mengajar di sekolah-sekolah di negara-negara lain di Asia Tenggara.

Program SEA Teacher Project ini diinisiasi Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Sebuah organisasi yang didirikan pada 1965 yang melibatkan negara di Asia Tenggara untuk mempromosikan kerja sama di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di negara-negara anggota. Salah satu program dari SEAMEO ini adalah SEA Teacher Project yaitu program pertukaran mahasiswa jurusan kependidikan untuk melakukan praktik mengajar di negara-negara ASEAN.

Program ini baru dilaksanakan tahun 2016 dan berhasil dilaksanakan dalam 10 gelombang. Selanjutnya program akan terus berjalan dengan mengirimkan calon tenaga pendidik belajar dan mengajar di negara ASEAN. Berbagai Universitas ternama Indonesia bergabung dalam program ini dan mengirimkan mahasiswanya belajar mengajar di luar negeri. SEA Teacher Project merupakan ajang untuk saling bersinergi dan berkolaborasi di Era Globalisasi terutama dalam sektor pendidikan.

*Invasi Masuknya Budaya Asing*

Saat ini barat memang menjadi acuan bagi pendidikan indonesia. Setiap PTN/PTS akan berusaha guna menunjang keberhasilan pendidikan di kampus dengan kerjasama dalam dan luar negeri. Apa lagi kampus dibebaskan untuk melakukan pengelolaan sendiri tanpa pengaturan dari pemerintah. Makanya, Rektor berusaha bagaimana cara kampusnya menjadi yang terbaik di Indonesia, jalannya menjalin hubungan baik dengan pihak luar negeri yang notabene sudah memiliki kualitas pendidikan terbaik.

Program SEA Teacher Project perlu dikritisi. Mengapa demikian? Mahasiswa mempunyai peran strategis yang akan melakukan perubahan. Mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang dikirim keluar negeri pasti akan bersinggungan dengan pemikiran asing, budaya asing yang notabene bertentangan dengan syariat islam. Pemikiran dan budaya tersebut pasti akan di bagikan dan disampaikan kepada teman-temannya serta anak didiknya. Tatkala kelak menjadi guru maka sistem pendidikan sekuler-liberal lah yang akan menjadi rujukannya. Pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan jelas bertentangan dengan prinsip hidup seorang muslim. Mahasiswa secara tidak sadar telah menjadi agen guna penanaman pemikiran asing dan budaya asing di negeri mayoritas muslim ini.

Pemikiran liberal yang bebas akan menjadi acuan para calon tenaga pendidik ini. Mereka pasti akan menanamkan pemikiran tersebut ke peserta didik. Akhirnya akan melahirkan generasi muslim tetapi berpemikiran liberal (bebas). Begitulah jika barat sudah mulai mendominasi pendidikan, mereka tidak mungkin hanya kerjasama atau hubungan baik pasti ada keinginan yang dicapai setelahnya.

Globalisasi dalam pendidikan tinggi memang terjadi. Universitas di dorong untuk bersaing memajukan kampusnya, sumber daya manusianya dan juga kualitas pendidikannya agar mampu bersaing dengan kampus-kampus ternama di luar negeri. Beginilah jika sistem pendidikan sekuler-liberal yang dijalankan. Maka tidak mengapa belajar dari barat asalkan dapat manfaat dibaliknya. Padahal kehidupan disana yang jauh dari kehidupan islami sungguh bertentangan dengan nilai-nilai islam.

*Sistem Pendidikan Islam Menjadi Mercusuar Dunia*

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW menerapkan Islam dalam institusi negara di Madinah Al-Munawarrah. Dalam sistem islam, lahir banyak ilmuwan Muslim dengan berbagai karya yang spektakuler dan membuat dunia berdecak kagum. Bahkan, pada masa keemasannya, islam membuat sinarnya sampai di bumi Eropa. Islam betul-betul menunjukkan diri sebagai pusat peradaban yang maju dan menjadi mercusuar dunia.

Saat islam yang dijalankan dalam kehidupan bernegara maka sistem pendidikannya menjadi rujukan dunia. Banyak masyarakat eropa yang belajar dan menimba ilmu di Universitas-Universitas yang ada di dalam negara islam. Pendidikannya menjadi rujukan negara-negar kafir saat itu. Pendidikan di Cordova, contohnya. Melahirkan Ilmuwan ternama dengan ditunjang perpustakaan yang menyimpan ratusan jumlah buku. Tidak kah kita rindu ketika islam yang menjadi mercusuar dunia? Sejarah telah mencatat bahwa Raja George II dalam suratnya mengakui kehebatan islam, bahkan menitipkan putera-puterinya menimba ilmu dalam negara islam.

Walhasil, islam akan kembali menjadi mercusuar dunia karena keagungan syariah-Nya. Islam jika diterapkan secara kafah dalam bingkai kehidupan akan mendatangkan rida Allah SWT. Islam akan kembali menguasai sains dan teknologi dan akan menjadi rujukan dunia. Maka diperlukan usaha bersama untuk mewujudkannya kembali. Ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Al-Haytam, Abbas Ibnu Firnas, Maryam Al-Astrulabi tidak akan tercatat dalam sejarah jika tidak ada sistem islam. Para ilmuwan terbaik yang menorehkan tinta emas peradaban islam dengan penemuannya yang menjadi cikal bakal keilmuan modern saat ini.

Kemenangan islam sudah di depan mata. Mari singsingkan lengan, pertajam analisa guna menyampaikan kebenaran islam. Islam menanti peran mu, para mahaiswa yakni generasi muslim sebagai garda terdepan perubahan. Kota Roma menanti untuk ditaklukan. Semangat perubahan harus ditanamkan dalam jiwa-jiwa muda. Jangan sampai terjebak dengan kebijakan ala kapitalis yang membuat generasi muslim menjadi generasi apatis, pragmatis dan permisif. Wallahu’alam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update