Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Remaja Sadar Moderasi, Hati-Hati!

Sunday, September 29, 2024 | Sunday, September 29, 2024 WIB

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Dikutip dari Republika.co.id,  menjelang purnatugas, Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Jokowi) bersama Ibu Wury Ma’ruf Amin menggaungkan Moderasi Beragama kepada kalangan pelajar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (11/9/2024). Kegiatan ini juga dihadiri para istri menteri yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Indonesia Maju (KIM). Kegiatan ‘Sosialisasi Moderat Sejak Dini’ ini mengangkat tema “Cinta Tuhan dengan Mencintai Indonesia”. Kegiatan ini diikuti sebanyak 500 pelajar lintas agama dari sekolah madrasah aliyah dan SMA se-Kota Balikpapan yang bernaung di bawah Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tentunya agenda ini bukan hanya agenda biasa. Ada harapan besar bagi pelajar yang hadir dalam acara tersebut dapat menjadi duta moderasi di sekolahnya masing-masing. Mereka diminta menjelaskan pentingnya moderasi beragama pada teman-temannya. Acara tersebut adalah yang ketiga kalinya, sebelumnya digelar di Bali dan Yogyakarta.

Tidak Menyasar pada Permasalahan Generasi 

Untuk diketahui, program moderasi beragama di sekolah di negeri ini sebetulnya sudah diluncurkan sejak 2016. Program yang bertujuan untuk menjaga sikap beragama warga negara agar tetap berada pada jalurnya ini merupakan program moderasi beragama yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pembangunan manusia yang diposisikan menjadi pilar utama dalam pembangunan peradaban bangsa menjadi sorotannya.

Hanya saja  program sosialisasi moderasi yang semakin gencar di kalangan remaja ini masih mengundang tanya. Sosialisasi moderasi terhubungkah dengan akar permasalahan generasi saat ini yang sarat dekadensi? Kasus perundungan, seks bebas, aborsi, narkoba, geng motor, kriminalitas, dan kenakalan remaja, yang tak ubah bagai  santapan harian generasi muda tidak tersolusi.

Sosialisasi moderasi beragama di kalangan remaja nyatanya tidak menjawab persoalan remaja.  Kasus intoleransi ataupun keengganan mengikuti tradisi lokal tidak menjadi takaran menonjol terjadinya kejahatan di kalangan remaja. Riilnya, penyebab terbesar dalam kasus kekerasan yang dilakukan pelajar bukanlah  karena SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tetapi budaya liberal yang meracuni generasi muda lah yang membuat mereka semakin bebas bertingkah sesuka mereka.

Sosialisasi moderasi beragama tidak menyasar generasi muda agar mereka tidak menjadi kasar, gahar, binal, mesum dalam kehidupannya. Moderasi malah semakin kental meracik pencampuradukkan pemikiran Islam dengan pemikiran yang batil hingga berujung kepada pluralisme dan sinkretisme yang sejatinya jauh dari konsep keshalihan remaja.

Moderasi untuk Generasi?

Jika diamati kelanjutan dari sosialisasi moderasi beragama, salah satunya pada institusi pendidikan,  menangkal radikalisme di kalangan pelajar tersirat dalam perealisasian materi ajar. Padahal  perlu kita ketahui, radikalisme adalah propaganda Barat yang sengaja dibuat untuk melabeli kaum muslim yang menginginkan penerapan syariat Islam kafah dalam kehidupan. Radikalisme seakan perlu disampaikan demi penyelamatan, padahal ini merupakan tuduhan menyakitkan yang ditujukan pada Islam.

Radikalisme yang dianggap berbahaya menjadikan sosialisasi moderasi beragama makin gencar. Generasi muda dibentuk agar memiliki sikap moderat dalam beragama. Beragama namun jangan sampai  bersebrangan dengan arah pandang sekuler Barat. Moderasi beragama membuat para pelajar tidak kental dengan Islam yang haq. Tidak membangun dirinya untuk berkepribadian Islam seutuhnya.

Moderasi Islam diluncurkan atas ketakutan yang sangat. Takut jika para pelajar paham Islam secara menyeluruh, menjadikan Islam sebagai ideologinya, para pelajar dikhawatirkan akan  menumbangkan ideologi kapitalisme yang telah terbukti rusak dan merusak.

Moderasi Islam digencarkan dengan kehendak mendasar, yaitu jangan buat Islam menjadi penghalang nafsu jahat imperialis kapitalis. Dengan moderasi Islam para pelajar diblok pemikirannya agar tetap didikte oleh pemikiran Barat. Alhasil sadar atau tidak,  moderasi Islam mampu mengokohkan hegemoni Barat di negeri-negeri muslim, termasuk di negeri ini. Islamophobia menjamur. Islam hakiki luntur. Generasi hancur.

Jika generasi muda menyadari pentingnya agama untuk menyelamatkan bangsa, mereka akan melindungi negaranya dari ideologi kapitalisme, bukan malah menjaga eksistensi ideologi sekuler tersebut. Moderasi beragama dipasang untuk menangkal kesadaran tersebut. Karena kalau saja  pelajar  memahami Islam kafah, mereka tidak hanya berusaha menumbangkan ideologi kapitalisme yang telah nyata menyengsarakan umat, namun mereka pun akan memperjuangkan ideologi Islam agar bisa diterapkan secara keseluruhan dalam sebuah institusi negara. Mereka akan menjadi pengemban dakwah Islam yang berjuang untuk menyampaikan kepada yang lainnya  tentang wajibnya penerapan syariat Islam dalam bingkai sebuah negara. Mereka akan memahamkan negara semacam apa yang harus ditegakkan. Mereka akan menggaungkan Khilafah sebagai institusi yang harus ditegakkan. Iniilah yang sangat ditakuti Barat dan kroninya.

Islam Kafah untuk Generasi 

Sesungguhnya kapitalisme telah sangat menjajah penduduk negeri ini. Saat bumi pertiwi ini dicurahi Allah Ta’ala dengan SDA berlimpah, penduduk negeri ini tidak bisa merasakan kenikmatan untuk mengolah ataupun memiliki. Pertambangan dan migas di negeri ini diprivatisasi dan dikapitalisasi oleh swasta/asing. Kapitalisme biang kerok atas segala penguasaan asing atas SDA negeri ini. Biang kerok jahat ini telah  menjadikan negara hanya berperan sebagai regulator saja. Negara menyerahkan seluruh urusan rakyatnya pada para kapitalis pemilik modal. Ironis!

Sejatinya syariat Islam kafah akan mengajarkan para pelajar untuk mengusir imperialis dari negeri ini. Para penjajah serakah tidak pantas hidup di ladang yang bukan haknya. Dengan Islam kafah para pelajar akan menjadi generasi yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat sekaligus sosok calon pemimpin negeri yang independen dan lepas dari kendali asing. Mereka akan mengantarkan negeri ini  pada kemuliaan bangsa. Dengan syari’at, mereka akan hidupkan cinta sejati pada tanah airnya dengan ketidakridaan tanah airnya direnggut oleh para penjajah serakah.

Tanpa syari’at Islam dunia remaja makin karut marut  akibat kebijakan yang kontraproduktif terhadap penyelesaian permasalahan remaja. Salah satu contohnya adalah wacana pembagian alat kontrasepsi pada pelajar baru-baru ini, yang katanya bertujuan mencegah kehamilan pada remaja. Juga UU TPKS yang memuat frasa “sexual consent”, yang artinya jika seks bebas dilakukan atas dasar suka sama suka, pelakunya tidak akan terjerat hukum.

Tanpa syari’at Islam pergaulan bebas makin bablas. BKKBN (2017) mencatat bahwa remaja pada usia 16-17 tahun, sekitar 60%-nya telah melakukan hubungan seksual. Sedangkan usia 14-15 tahun dan usia 19-20 tahun masing-masing sebesar 20%. Ditambah lagi angka kasus aborsi mencapai 2,5 juta kasus, dengan 1,5 juta di antaranya dilakukan oleh remaja. Bahkan sampai anak SD terbiasa  “Check in.”  Naudzu billaahi min dzaalik.

Tanpa syari’at Islam, menurut data BNN jutaan  remaja Indonesia menjadi penyalahguna narkoba, dan terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada 2021, lebih dari 3,66 juta jiwa baru terjun ke zona hitam narkoba. Total dari rentang usia 15-64 tahun di antara mereka, ada sekitar 4,8 juta penduduk desa dan kota pernah memakai narkoba sepanjang 2022-2023.

Tanpa syari’at Islam, kejahatan remaja lainnya seperti perundungan, geng motor, dan tawuran, yang telah menelan banyak korban jiwa juga semakin meningkat.  Remaja yang seharusnya bergelut dengan aktivitas belajar, membangun karakter bermartabat, malah menjadi sampah masyarakat yang jelas-jelas membuat rakyat resah. Catatan kelam kondisi generasi saat ini semakin menebalkan buku yang menampung berbagai kisah generasi yang rusak, merusak, dan dirusak oleh sistem saat ini.

Tanpa syari’at Islam, program moderasi beragama dari pusat hingga daerah beserta stigmatisasi terhadap ajaran Islam kafah akan terus berlangsung. Walhasil kriminalisasi terhadap ulama yang menyuarakan kebenaran, dan  membubarkan ormas yang mengajarkan Islam kafah, bahkan represif pada semua pihak yang bersuara kritis di media sosial akan terus berlanjut.

Miris. Kekhawatiran negara bukan lagi pada  kerusakan moral remaja dan kehilangan generasi penerus bangsa, tetapi takut pada munculnya  kebangkitan Islam yang dapat mengancam kepentingan syahwat kekuasaan. Penguasa tidak benar-benar peduli pada nasib generasi yang kian hari moralnya kian bobrok. Penguasa lebih fokus pada  menjalankan perannya sebagai penjaga sistem sesuai arahan Barat. Segala upaya untuk menjaga eksistensi ideologi kapitalisme produk Barat sungguh-sungguh direalisasi.

Sudah sangat urgen bagi para pelajar untuk mengambil Islam secara murni dan tidak bercampur dengan pemikiran Barat. Memahami Islam secara kafah, akan mengarahkan mereka pada tujuan hidup di dunia adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Perbuatan mereka senantiasa terikat dengan aturan Allah saja. Dengan  iman dan takwa, para pelajar akan terhindar dari kenakalan remaja. Hari-harinya terisi dengan amal saleh. Mereka akan berkontribusi untuk umat. Mereka juga akan teguh kukuh menyampaikan Islam ke tengah-tengah umat, terkhusus kepada teman-teman mereka.

Bagai Mush’ab bin Umair ra. yang Rasulullah saw. utus untuk berdakwah di Madinah, mereka akan mewujudkan Islam dari pintu ke pintu. Mereka menjadi sosok seteguh para sahabat untuk menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana firman Allah Taala,

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS Fussilat [41]: 33).

Sebagaimana pula hadits riwayat Bukhari dan ulama hadits lainnya meriwayatkan,

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda: Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.”

Demikianlah dengan syari’at Islam, generasi muda menjadi produktif dalam melahirkan beragam kebaikan. Mereka selalu berupaya menjadi manusia yang bermanfaat. Berbekal akidah Islam, generasi muslim akan tangguh, tidak mudah putus ada, Dan memiliki kesehatan mental yang tinggi hingga kuat dalam menghadapi kenyataan hidup. Mereka mewujud menjadi orang-orang yang gigih memerangi ideologi kapitalisme dan berbagai pemikiran sekuler turunannya. Dan tentunya butuh supporting system untuk membangun karakter bermartabat seperti itu.

Moderasi Islam tidak mampu mewujudkannya. Dan realitas telah membuktikannya. Butuh sistem pengganti bukan moderasi. Bukan duta moderasi yang dinanti. Tapi duta dakwah Islam harus terjadi. Untuk itu Khilafah adalah jawabannya, karena Khilafah akan hadirkan sistem yang senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas remaja dengan ideologi Islam melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam.

Segala sarana akan menjadi wasilah untuk mengantarkan wujud generasi mumpuni. Media pun  dalam Islam akan menjadi alat untuk menjaga suasana keimanan. Mengondisikan generasi muda yang memiliki energi besar untuk terus menghidupkan aktivitas dakwah menuju Islam sebagai rahmatan lil alamin, bukan menjadi mesin pembunuh generasi yang dari waktu ke waktu mengintai dan memangsa generasi. Mencabiknya, menjadikan generasi tak berarti.

Oleh karena itu untuk melahirkan generasi yang siap membangun peradaban tidak relevan dengan gaung moderasi beragama yang merupakan proyek politik untuk menghadang kebangkitan Islam, dan menjaga eksistensi ideologi kapitalisme. Ideologi kapitalisme beserta seluruh turunannya sudah saatnya dibinasakan dan diganti dengan sistem Islam.

Jika memang benar-benar ingin generasi selamat, Maka wujudkan sistem Khilafah yang penuh berkat. Dengannya atas ijin Allah Ta’ala akan terwujud generasi penjaga Islam yang tepercaya, yang mampu membangun negeri ini sejahtera.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update