Oleh: Ummu Beryl
Jakarta (ANTARA) pada senin (23/9) sejumlah kasus hukum dan kriminal terjadi di Jakarta. Penemuan 7 jasad di kali Bekasi hingga polisi periksa tiga pria yang menyiram air keras pada anggota tim patroli perintis presisi Polda metro jaya saat membubarkan aksi tawuran di Kemangan, Jakarta Barat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi menjelaskan terdapat tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dari 22 remaja yang diamankan terkait dengan kasus penemuan tujuh jasad di Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Minggu (22/9) pagi.
“Ditetapkan tiga tersangka atas dugaan kepemilikan senjata tajam, dan ketiganya dilakukan penahanan oleh Polres Metro Bekasi Kota, ” katanya saat ditemui di Jakarta, Senin.
Ade Ary menjelaskan kronologi penetapan tiga orang tersangka tersebut terjadi pada saat Tim Patroli Perintis Presisi mendatangi lokasi tempat mereka berkumpul di sekitar Jalan Cipendawa di bedeng atau gubuk di depan perusahaan semen di Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (21/9).
“Dalam proses mendatangi kerumunan yang diduga merupakan lokasi tawuran yang dilakukan berhasil diamankan 22 orang, 21 orang diamankan langsung oleh petugas patroli Polres Metro Bekasi Kota dan satu orang diamankan satpam yang di sekitar TKP,” katanya.
Kemudian saat dilakukan penahanan tiga dari 22 orang yang diamankan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota dengan dugaan membawa senjata tajam tanpa hak.
Sungguh miris melihat dan mendengar berita saat ini. Kriminalitas dan tawuran yang dilakukan oleh pemuda terus terjadi dan terus berulang dan semakin mengerikan.
Ada banyak faktor pemicu, diantaranya lemahnya kontrol diri, krisis identitas, disfungsi keluarga dan tekanan ekonomi, lingkungan yang rusak, lemahnya hukum dan penegakannya.
Ini adalah salah satu dari buah penerapan sistem kapitalis saat ini, sistem saat ini sangat merusak budaya dan pemikiran manusia, bahkan tidak memanusiakan manusia. Menjadikan negara abai bahwa tugasnya adalah mencetak dan membentuk generasi berperadaban mulia.
Berbeda halnya dalam sistem Islam, Islam memiliki sistem pendidikan yang akan mampu menghasilkan generasi berkepribadian mulia, yang mampu mencegah dirinya dari berprilaku menyimpang dan dapat mencegahnya menjadi pelaku kriminalitas.
Islam juga memberikan lingkungan yang kondusif, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun kebijakan negara dalam menumbuhkan ketakwaan.
Negara Islam akan membangun sistem yang menguatkan fungsi keluarga dengan menerapkan aturan yang menjamin kesejahteraan dan sistem yang lain yang menguatkan fungsi kontrol masyarakat.
Negara juga menyiapkan kurikulum pendidikan dalam keluarga, sehingga terwujud keluar Harmonis yang senantiasa memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga dan memberikan pengaruh yang positif kepada lingkungan sekitar.
Wallahu ‘alam
No comments:
Post a Comment