Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Meneladani Rasulullah Saw Secara Totalitas

Friday, September 20, 2024 | Friday, September 20, 2024 WIB

Oleh: Jumiran, SH (pegiat literasi sabulakoa)

 

Bulan Rabiul awal merupakan bulan kelahiran Rasulullah Muhammad Saw. Kaum muslimin senantiasa memperingati momentum kelahiran Rasulullah Saw. Sosok pembawa risalah Islam dan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

 

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi semesta alam”. (TQS. Al-Anbiyah [21]:107).

 

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah Hasanah) bagi kalian, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari akhir dan ia banyak menyebut Allah”. (TQS. Al-Ahzab [33]:21).

 

Momentum ini selalu diadakan pada setiap tahunnya untuk memberikan kita peringatan akan keteladanan terhadap beliau sebagai uswah Hasanah bagi kaum muslim.

 

Sayangnya, fakta hari ini begitu menyakitkan. Sebagian besar Kaum muslimin hanya mengaku cinta pada nabi, namun tidak menampakkan dalam perbuatannya. Yang ada justru ajaran Islam dimusuhi, Islam dijadikan sebagai sumber konflik, bahkan mereka keras dan memusuhi kaum muslim. Sebaliknya, justru mereka berkasih sayang pada orang kafir. Padahal, karakter umat Muhammad adalah keras pada orang kafir dan lemah lembut pada sesama muslim.

 

Apalagi momentum peringatan kelahiran Rasulullah hanya sebatas Ramai-ramai ke masjid, menyiapkan berbagai macam aneka makanan dan di isi dengan berbagai macam hiburan seperti Qosidah. Adapun penyampaian isi ceramah hanya sebatas membahas pribadi Rasulullah Saw saja, tanpa membahas sisi perjuangan Rasulullah Saw hingga tegaknya daulah Islam di Madinah.

 

Padahal, jika dikaji lebih mendalam, masyarakat akan tahu bahwa meneladani bukan hanya sebatas pribadi Rasulullah, tahu silsilah keluarga Rasulullah saja. Namun, masyarakat akan lebih memahami sisi politis perjuangan Rasulullah Saw dari Mekkah hingga beliau hijrah ke Madinah. Bagaimana Rasulullah membangkitkan pemikiran umat dari pemikiran bodoh hingga menjadi umat yang terbaik. Bagaimana Rasulullah membangun masyarakat hingga pemikiran, perasaan dan peraturan di ikat oleh akidah Islam.

 

Seharusnya, ketika mengaku cinta pada Rasulullah Saw, maka sebagai wujud dari rasa cintanya adalah mengikuti sunnahnya. Bahkan mencintai Rasulullah Saw, melebihi kecintaannya pada segala sesuatu. Beliau saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia “. (HR. Al-Bukhari).

 

Sebagai wujud kecintaan pada Rasulullah Saw, maka pembuktian itu perlu. Seperti, apapun yang dibawah oleh Rasul, diterima atau tidak, masuk akal atau tidak, disaksikan indra atau tidak, wajib diyakini kebenarannya. Sebab, ucapan Rasulullah adalah Wahyu dari Allah SWT.

 

Begitupula dengan menaati semua perintahnya dan meninggalkan larangannya. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwasanya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS. Muhammad:33).

 

Kemudian, menjadikan Rasul Saw, sebagai hakim dalam segala urusan dan menerima segala keputusannya. Allah SWT berfirman: ” maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hinggah mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa:65).

 

Demikianlah, sikap kaum muslim dalam meneladani Rasulullah Saw. Bukan hanya pribadi Rasul Saw, namun meneladani secara totalitas, termasuk urusan politik dan pemerintahan. Hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan Sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga”. (HR. At-Tirmidzi, Ath-Thabrani).

 

Kata “Sunnah” bermakna “jalan hidup Rasul” atau minhaj kenabian. Sunnah Rasulullah Saw mencakup semua ajarannya. Mulai dari perkara ibadah sampai pada urusan politik pemerintahan. Sistem pemerintahan yang harus diikuti adalah yang merujuk pada summah Rasulullah dan contoh para Khalifah pengganti beliau dari khulafaurasyidin. Beliau juga memerintahkan untuk taat pada pemimpin, selama pemimpin itu berpegang teguh pada Islam. Sebaliknya, jika jauh dari Islam dan tampak dari mereka kemungkaran, maka mereka diperingatkan dan diingatkan.

Oleh karena itu, mengaku cinta pada Nabi Saw, maka siap meneladaninya secara totalitas. Tanpa tebang pilih. Tanpa asas manfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh: Jumiran, SH (pegiat literasi sabulakoa)

Bulan Rabiul awal merupakan bulan kelahiran Rasulullah Muhammad Saw. Kaum muslimin senantiasa memperingati momentum kelahiran Rasulullah Saw. Sosok pembawa risalah Islam dan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi semesta alam”. (TQS. Al-Anbiyah [21]:107).

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah Hasanah) bagi kalian, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari akhir dan ia banyak menyebut Allah”. (TQS. Al-Ahzab [33]:21).

Momentum ini selalu diadakan pada setiap tahunnya untuk memberikan kita peringatan akan keteladanan terhadap beliau sebagai uswah Hasanah bagi kaum muslim.

Sayangnya, fakta hari ini begitu menyakitkan. Sebagian besar Kaum muslimin hanya mengaku cinta pada nabi, namun tidak menampakkan dalam perbuatannya. Yang ada justru ajaran Islam dimusuhi, Islam dijadikan sebagai sumber konflik, bahkan mereka keras dan memusuhi kaum muslim. Sebaliknya, justru mereka berkasih sayang pada orang kafir. Padahal, karakter umat Muhammad adalah keras pada orang kafir dan lemah lembut pada sesama muslim.

Apalagi momentum peringatan kelahiran Rasulullah hanya sebatas Ramai-ramai ke masjid, menyiapkan berbagai macam aneka makanan dan di isi dengan berbagai macam hiburan seperti Qosidah. Adapun penyampaian isi ceramah hanya sebatas membahas pribadi Rasulullah Saw saja, tanpa membahas sisi perjuangan Rasulullah Saw hingga tegaknya daulah Islam di Madinah.

Padahal, jika dikaji lebih mendalam, masyarakat akan tahu bahwa meneladani bukan hanya sebatas pribadi Rasulullah, tahu silsilah keluarga Rasulullah saja. Namun, masyarakat akan lebih memahami sisi politis perjuangan Rasulullah Saw dari Mekkah hingga beliau hijrah ke Madinah. Bagaimana Rasulullah membangkitkan pemikiran umat dari pemikiran bodoh hingga menjadi umat yang terbaik. Bagaimana Rasulullah membangun masyarakat hingga pemikiran, perasaan dan peraturan di ikat oleh akidah Islam.

Seharusnya, ketika mengaku cinta pada Rasulullah Saw, maka sebagai wujud dari rasa cintanya adalah mengikuti sunnahnya. Bahkan mencintai Rasulullah Saw, melebihi kecintaannya pada segala sesuatu. Beliau saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia “. (HR. Al-Bukhari).

Sebagai wujud kecintaan pada Rasulullah Saw, maka pembuktian itu perlu. Seperti, apapun yang dibawah oleh Rasul, diterima atau tidak, masuk akal atau tidak, disaksikan indra atau tidak, wajib diyakini kebenarannya. Sebab, ucapan Rasulullah adalah Wahyu dari Allah SWT.

Begitupula dengan menaati semua perintahnya dan meninggalkan larangannya. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwasanya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS. Muhammad:33).

Kemudian, menjadikan Rasul Saw, sebagai hakim dalam segala urusan dan menerima segala keputusannya. Allah SWT berfirman: ” maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hinggah mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa:65).

Demikianlah, sikap kaum muslim dalam meneladani Rasulullah Saw. Bukan hanya pribadi Rasul Saw, namun meneladani secara totalitas, termasuk urusan politik dan pemerintahan. Hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan Sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga”. (HR. At-Tirmidzi, Ath-Thabrani).

Kata “Sunnah” bermakna “jalan hidup Rasul” atau minhaj kenabian. Sunnah Rasulullah Saw mencakup semua ajarannya. Mulai dari perkara ibadah sampai pada urusan politik pemerintahan. Sistem pemerintahan yang harus diikuti adalah yang merujuk pada summah Rasulullah dan contoh para Khalifah pengganti beliau dari khulafaurasyidin. Beliau juga memerintahkan untuk taat pada pemimpin, selama pemimpin itu berpegang teguh pada Islam. Sebaliknya, jika jauh dari Islam dan tampak dari mereka kemungkaran, maka mereka diperingatkan dan diingatkan.

Oleh karena itu, mengaku cinta pada Nabi Saw, maka siap meneladaninya secara totalitas. Tanpa tebang pilih. Tanpa asas manfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update