Oleh Mauriz, S.T.P.
Gaes, gen Z tiap hari kerjaannya ngapain sih? kalau nggak kerja, ya OVT tentang masa depan, galauin doi, kalau nggak gitu ya sibuk ngisi keranjang kuning, terus kalau dah capek ya rebahan di pulau kapuk, iya nggak? wkwkwk. Canda gaes, canda…kalian pasti sekarang nyiapin masa depan yang lebih cerah kan, biar secerah matahari Teletubies? hehehe.
Dulu yang scrollingnya cuman random, sekarang sambil cari-cari juga soal persiapan pernikahan ditambah soal parenting. Soal parenting aja kita dibikin resah, jenis parenting apa yang bakal kita terapkan sama pasangan buat anak kita?
VOC Parenting VS Gentle Parenting
Gimana nggak resah coba? Ngelihat parenting di sekitar kita dibandingkan sama parentingnya seorang artis yang beda banget? Selama ini, kita tahu dari postingan Instagram dan channel YouTube, artis ini menerapkan gaya parenting yang berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Secara umum orang Indonesia menerapkan parenting yang tegas kan gaes, yang baru-baru ini di TikTok disebut dengan VOC Parenting. Asal-usul VOC sendiri, diambil dari kata “VOC” yang merujuk pada singkatan dari Vereenidge Ooostindische Compagnie, perusahaan dagang Belanda yang diktator, kejam dan suka memerintah dengan paksa pada rakyat. Pola asuh ala VOC parenting ini dijadikan istilah yang menggambarkan sikap orang tua yang tegas dan nggak tabu buat menunjukkan sikap marah dalam mendidik anak-anaknya gaes (goodformom.id, 27/05/2024).
Berbeda dengan VOC Parenting, parenting yang dilakukan artis tersebut lebih mengedepankan empati tanpa emosi. Parenting ini dalam istilah psikologi disebut dengan Gentle Parenting gaes. Krista Erinda, seorang pakar pengasuhan anak yang mendalami studi infant toddler development family engagement di New York mengatakan bahwa gentle parenting sendiri merupakan hasil dari pengaruh budaya barat (goodformom.id, 27/05/2024).Dalam artikel ilmiah yang diterbitkan tahun 2024 oleh Konsorsium Psikologi Ilmiah Nasional (KPIN) menyatakan Gentle Parenting sebagai sebuah cara parenting yang mengedepankan tiga prinsip yaitu respek, empati serta memahami. Pola parenting yang tenang mampu memberikan ruang kepada anak untuk merespon segala macam masalah yang terjadi pada lingkungan mereka.
Penyebab Munculnya VOC Parenting dan Gentle Parenting
Hmm…sebenernya kalau ditelisik lebih dalam nih gaes, baik VOC Parenting ataupun Gentle Parenting ini nggak muncul secara tiba-tiba loh gaes, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah karena status ekonomi. Maccoby & McLoyd (Sigelman & Shaffer,1995: 396-397) pernah melakukan penelitian dengan membandingkan orangtua kelas menengah dan atas dengan kelas bawah atau pekerja, hasilnya menunjukan bahwa orangtua kelas bawah cenderung sangat menekankan kepatuhan dan respek terhadap peraturan yang telah diterapkan. Lebih keras dan otoriter, kurang memberikan alasan kepada anak, kurang bersikap hangat dan memberikan kasih sayang kepada anak.
Vera Itabiliana, Psi., seorang psikolog anak mengatakan bahwa faktor tekanan ekonomi dapat melatarbelakanginya dimana kekerasan terhadap anak bisa terjadi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak menyebabkan kekerasan pada anak (sahabatsetara.id, 25/22/2021). Jadi simplenya, tingkat kewarasan ibu itu berbanding lurus dengan keadaan ekonomi keluarganya gaes.
Realita Pengasuhan di Sekitar Kita
Hal ini terbukti dari apa yang dilakukan oleh seorang ibu muda di Palembang berinisial SK. SK merasa kesal pada anaknya karena tekanan ekonomi di keluarganya. Karena kondisi tersebut, SK tega melakukan pembunuhan terhadap anak sendiri BR yang masih berusia empat tahun (sahabatsetara.id, 25/22/2021).
Apa yang dialami SK ini berbanding 180 derajat dengan sang artis. Netizen selama ini begitu penasaran kok bisa mbak artis ini berani menerapkan parenting yang berbeda dengan orang kebanyakan? Usut punya usut nih…meskipun sudah tidak aktif di dunia entertaiment, tetapi artis ini nggak pernah sepi job gaes, dia masih dipercaya untuk beberapa brand untuk melakukan endorsment. Selain itu, sang suami adalah seorang pengusaha yang membawahi beberapa perusahaan. Jadi secara ekonomi, sang artis ini sangat berkecukupan gaes.
Apa yang dialami oleh SK dan sang artis tersebut adalah bukti real bagaimana kondisi negara kita sekarang. Ini baru dua kasus yang terungkap dan tertangkap media, belum lagi yang ada di lapangan. Urusan perut aja belum bisa terpenuhi sudah disusul kebutuhan lain seperti pembayaran BPJS, listrik, air, pendidikan anak dan wacana kenaikan pajak di beberapa lini. Bagaikan bumi dan langit yang memiliki jarak yang sangat jauh. Sungguh, ironi kehidupan yang pahit di depan mata kita gaes. Orang tua mana yang nggak pening memikirkan kebutuhan keluarganya?Ada ketimpangan yang nyata antara si kaya dan si miskin. Apakah yang layak hidup secara layak hanyalah keluarga pengusaha?
Kemiskinan Struktural di Negeri Wakanda
Sayangnya problem ekonomi yang ada di Indonesia ini bersifat struktural karena hasil dari sistem yang diberlakukan gaes. Saat ini negara kita menggunakan Sistem Demokrasi yang mana sistem ini adalah anak kandung dari Sistem Kapitalisme. Sistem Kapitalisme dalam bahasa arab disebut dengan Ra’su Maliyah. Asas dari Sistem Kapitalisme sendiri memisahkan agama dari dunia. Kata raksun berarti kepala, dan mal adalah harta. So, sistem kapitalisme ini emang ambisinya cari harta sebanyak-banyaknya gaes. Saat kehidupan menggunakan Sistem Kapitalisme, maka kekayaan sebuah negara akan hanya berputar pada segelintir para orang-orang yang memiliki modal atau para kapitalis. Jadi sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa,
“Imam (Khalifah) raain (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad, Bukhari) ditepis dalam sistem ini.
Kita bisa melihatnya dari lepasnya tanggungjawab para pejabat pemerintahan dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Para pejabat tidak melakukan pengelolaan kekayaan negara seperti SDA dengan kekuatan sendiri, tetapi malah mengundang investor masuk untuk menguasai ekonomi negeri kita. Akhirnya rakyat yang menjadi korbannya. Rakyat hanya menjadi buruh yang mudah saja di-PHK kapan saja ketika perusahaan sedang melakukan efisiensi seperti sering terjadi akhir-ahir ini. Akibatnya, pengangguran semakin banyak dan menambah jumlah orang yang memiliki masalah ekonomi.
Melalui hal ini jangan heran gaes, kalau mayoritas rakyat tidak bisa merasakan bagaimana kekayaan Indonesia meskipun Indonesia disebut negeri yang kaya gaes. Akhirnya, muncul lah jurang kemiskinan yang begitu dalam antara rakyat kebanyakan dan para korporat. So, dari sini kita bisa tau ya gaes kalau nggak ada lagi solusi buat memutus kemiskinan struktural selain dengan cara memutus penerapan sistem kapitalisme di negeri ini. Caranya adalah dengan cara mengubah dasar sistem ekonomi kita. Hanya saja, perubahan dasar terhadap sistem ekonomi butuh juga perubahan dalam sistem politik. Hal ini dikarenakan yang menerapkan sistem ekonomi kan hanya negara gaes.
Islam Siap Tuntaskan Segala Permasalahan Kehidupan
Nggak perlu tengok kanan kiri kayak mau nyebrang rel kereta buat cari solusinya, cukup lurus melihat pada Islam. Karena Islam punya solusi atas semua masalah yang ada dalam hidup manusia. Islam mengatur urusan dari bangun tidur hingga bangun negara. Islam bukan hanya agama yang ngatur ibadah aja,tapi juga jadi pandangan hidupnya manusia.
Dalam Islam, himpitan ekonomi terkait dengan tiga hal, yakni SDA, SDM, dan lapangan kerja. Untuk menyelesaikannya dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Terkait SDA, Islam mengatur bahwa SDA adalah kategori kepemilikan umum, seperti tambang, hutan, laut, sungai, dsb. Kekayaan SDA ini tidak boleh dikuasai individu (korporasi) loh gaes. Karena SDA ini adalah milik seluruh rakyat dan wajib dikelola oleh negara. Hasil yang didapatkan dari pengelolaan SDA ini nantinya bakal digunakan untuk kepentingan rakyat dalam bentuk layanan pendidikan dan kesehatan gratis dengan kualitas terbaik, penyediaan pangan yang terjangkau dsb.
Terkait lapangan kerja, dalam Islam laki-laki dewasa yang sehat wajib untuk bekerja. Islam juga mewajibkan negara untuk menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi rakyatnya. Negara akan mengefektifkan industri, pertanian dan perdagangan sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara maksimal dan tidak akan ada lagi yang namanya pengangguran.
Untuk golongan yang lemah yang sudah tidak mampu bekerja seperti lansia, janda, anak yatim, dan penyandang disabilitas yang tidak memiliki wali atau kerabat yang menanggung nafkahnya, Islam mewajibkan negaralah yang akan menanggung mereka. Dengan memberikan mereka santunan rutin dari baitulmal sehingga kebutuhan pokok mereka dapat terpenuhi dengan baik. Pemberian santunan ini akan diberikan secara terus-menerus selama mereka masih terkategori pihak yang lemah dan belum ada yang memberikan nafkah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. bersabda,
“Carilah ridaku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (HR Abu Dawud)
Dengan cara ini maka nggak ada lagi tuh ketimpangan antara si kaya dan si miskin. Semua akan mendapatkan kesejahteraan secara merata. Sehingga nggak ada lagi juga emak-emak yang stress ngurusin anaknya karena himpitan ekonomi di keluarganya. Emak-emak yang suaminya bukan pengusaha pun bakal happy buat merawat anak mereka. Sehingga anak-anak mereka akan mendapatkan kasih sayang yang sempurna.
Which One is Better, VOC Parenting or Gentle Parenting?
Eits…tapi nggak berhenti dengan memperbaiki sistem ekonominya aja loh gaes. Karena setiap jenis pola pengasuhan punya keunggulan dan kelemahan masing-masing. Nggak terkecuali VOC Parenting dan Gentle Parenting.Krista Erinda, seorang pakar pengasuhan anak yang mendalami studi infant toddler development family engagement di New York mengatakan tidak ada satu pun gaya pengasuhan yang paling benar. Ketegasan orang Asia itu memiliki maksud yang baik, orang tua di Asia berharap anaknya mampu menjadi pribadi yang kuat. Sebaliknya, Gentle Parenting itu cenderung sedikit tricky, kalau salah dalam menerapkan justru bisa menjadi permissive parenting dan malah menciptakan generasi stroberi yang bagus diluar namun mudah rapuh didalam (goodformom.id, 27/05/2024).
So, baik VOC Parenting or Gentle Parenting nggak ada yang better ya gaes. Terus mesti gimana? Parenting seperti apa yang nantinya kita terapkan pada anak kita. Jawabannya adalah parenting ala Islam gaes. Terdapat perbedaan yang sangat jauh loh gaes dalam parenting ala Barat dan Islam. Dalam pandangan Barat sebagai negara sumber Sistem Kapitalisme persoalan mendidik anak-anak di era sekarang dipandang sebagai “suatu penyebab”. Sehingga harus ada pola asuh yang tepat menurut ilmu parenting Barat. Jadi nggak heran kalau sampe muncul Gentle Parenting sebagai problem solver masalah pengasuhan.
Hal ini berbeda dengan Islam yang memandang bahwa persoalan pengasuhan anak justru adalah “suatu akibat”. Penyebabnya sendiri adalah karena semakin jauhnya manusia dari tuntunan Allah, buah diterapkannya Sistem Kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan kebebasan berperilaku yang menyebabkan berbagai informasi dapat diakses tanpa batas.
Dalam masalah pengasuhan, Islam memiliki pola asuh yang menjadikan Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai suri tauladannya. Penanaman akidah Islam adalah hal yang paling mendasar dalam pengasuhan sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk memilih akidah yang lain. Orang tua memiliki peran utama dalam mengenalkan tauhid dan syariat Islam secara bertahap sesuai jenjang usia. Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhati).
Jika dalam Gentle Parenting tidak boleh memberikan larangan bagi anak tetapi dialihkan pada kata yang positif, maka dalam Islam justru sebaliknya gaes. Kita bisa lihat dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang menganjurkan menerapkan larangan pada anak sebagai bentuk penegasan agar tidak melakukan sesuatu. Seperti larangan menyekutukan Allah yang ada dalam surah Lukman ayat 31:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Khatimah
MasyaAllah keren banget ya gaes konsep dalam Islam. Gimana nggak keren coba? Kan yang bikin aturannya Dzat yang Maha SegalaNya? Dah saatnya sih para penguasa negeri ini noleh ke sistem Islam. Tapi bukan hanya sekedar noleh, tapi juga mau menerapkan Sistem Islam di negeri ini. Dengan cara ini semua ibu dapat memberikan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Dan anak mereka dapat tumbuh dengan baik sesuai Syariat-Nya.
No comments:
Post a Comment