Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tren Bunuh Diri Meningkat, Indikasi Masyarakat Sakit?

Friday, July 19, 2024 | Friday, July 19, 2024 WIB

Penulis: Chusnatul Jannah

Masalah hidup bisa membuat mental tidak kuat. Istri sakit, utang melilit, seorang karyawan pabrik tewas tergantung di Jembatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Diketahui, aksi nekat ini dilakukan karena korban depresi karena istri sakit kanker rahim dan memiliki utang banyak. Tren bunuh diri kian meningkat di tengah kondisi ekonomi masyarakat sulit. Merasa buntu mencari jalan keluar, jalan instan pun dipilih untuk mengakhiri kesulitan hidup yang dihadapi.

Berdasarkan data Polri, selama periode Januari-Juni 2023 terdapat 585 laporan kasus bunuh diri di seluruh Indonesia. Kasus bunuh diri tertinggi terjadi di Jawa Tengah dengan jumlah 224 kasus. Disusul Jawa Timur 107 kasus, Bali 56 kasus, Jawa Barat 35 kasus, DI Yogyakarta 28 kasus, Sumatera Utara 26 kasus, Sumatra Barat 17 kasus, Lampung 16 kasus, Sulawesi Utara 13 kasus dan Bengkulu 12 kasus. (Inews, 11-9-2023)

Ngeri! Ratusan kasus bunuh diri makin meninggi. Alasan ekonomi kerap menghiasi motif bunuh diri. Inikah definisi masyarakat sedang sakit?

Darurat Kesehatan Mental
Faktor yang paling memengaruhi seseorang nekat bunuh diri adalah faktor internal, yakni kondisi kesehatan mental yang lemah. Mental lemah karena tidak terbentuk dalam dirinya keimanan yang kuat. Mengapa iman bisa lemah? Ini karena kehidupan sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan. Peran agama mengatur kehidupan terpinggirkan. Manusia yang fondasi imannya lemah lebih rentan terganggu kesehatan mentalnya.

Jika bunuh diri sudah menjadi tren, maka hal ini bukan lagi masalah kesehatan mental semata, tetapi ada faktor lain yang turut andil menjadikan seseorang mudah depresi, lemah menghadapi masalah hidup, gampang tersulut emosi sesaat, dan pikiran menjadi bimbang. Seakan solusi akhir dari peliknya kehidupan adalah kematian.

Akibat Kapitalisme
Selain faktor internal, terdapat faktor eksternal yang memicu seseorang melakukan aksi bunuh diri, di antaranya:

Pertama, impitan ekonomi. Kondisi ekonomi yang serba kurang dalam memenuhi kebutuhan pokok kerap menjadikan seseorang kalap. Ia bisa melakukan segala cara agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Adakalanya mengambil jalan utang melalui pinjaman online. ada pula yang nekat main judol demi mendapat cuan yang lebih besar. Kebanyakan, karena terjerat pinjol dan judol, bunuh diri dipilih sebagai solusi keluar dari masalah.

Ditambah, jika pendapatan tidak sebanding dengan besaran utang. Pemasukan kurang, utang makin membengkak, akhirnya stres, depresi, lalu berakhir dengan bunuh diri.

Kondisi ini terjadi karena penerapan sistem kapitalisme menjadikan negara tidak memberi jaminan pemenuhan kebutuhan pokok. Semua biaya hidup ditanggung sendiri oleh individu. Sebut saja harga pangan mahal, beli tanah dan rumah juga makin mahal, tarif pajak naik, retribusi naik, biaya pendidikan mahal, kesehatan juga tidak gratis. Sementara, ada segelintir orang mendapatkan semua kebutuhan itu dengan mudah. Kesenjangan sosial pun tidak terelakkan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin merana.

Kedua, gaya hidup hedonis dan budaya konsumtif menuntut pemenuhan kebutuhan tersier dengan ragam cara, dari yang halal hingga haram. Demi kepuasan materi, seseorang rela melakukan pinjaman untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. Standar kebahagiaan bagi mereka adalah kekayaan materi. Bahkan, perilaku hedonistik mendorong seseorang berada dalam situasi ‘besar pasak daripada tiang’, pengeluaran tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

Hedonisme dan konsumerisme adalah turunan dari penerapan sistem kapitalisme sekuler dalam kehidupan. Maka dari itu, untuk menyelesaikan secara tuntas angka bunuh diri haruslah disolusikan secara sistemis, bukan tambal sulam atau hanya memperhatikan kesehatan mental semata. Lalu, bagaimana pandangan Islam?

Solusi Islam
Islam memiliki mekanisme preventif dalam mencegah perilaku bunuh diri, di antaranya:

Pertama, negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Tidak dimungkiri, salah satu faktor internal masalah bunuh diri adalah krisis keimanan dan identitas sebagai hamba Allah. Dengan kurikulum berbasis akidah Islam, setiap individu akan memahami hakikat ia diciptakan adalah untuk beribadah dan melakukan amal saleh. Keimanan yang kuat akan mendorong seseorang lebih sabar dan tawakal dalam menjalani ujian kehidupan.

Kedua, menerapkan sistem sosial berbasis syariat Islam.Nnegara wajib menciptakan suasana iman dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, negara bisa turut terlibat dalam pembinaan masyarakat yang akan menambah ketaatannya kepada Allah Taala. Negara juga akan melarang perilaku khalwat, ikhtilat, pacarana, serta aktivitas maksiat lainnya yang menghambat terwujudnya suasana iman secara komunal.

Ketiga, negara menetapkan kebijakan politik ekonomi Islam, semisal menetapkan harga pangan murah untuk rakyat, melarang praktik judi dan riba, melarang penimbunan barang yang merugikan pedagang, memberantas mafia pangan, kemudahan akses dan layanan kesehatan secara gratis, dan pendidikan gratis untuk semua, serta kebijakan lainnya yang tidak menzalimi rakyat.

Semua ini bisa terwujud dengan syarat negara tidak melakukan liberalisasi kekayaan alam milik rakyat, semisal tambang dan SDA diserahkan kepada swasta/ asing. Negara menggenjot pemasukan dari pajak dan utang, tetapi mudah melakukan jual beli aset-aset strategis yang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Inilah yang menjadikan negara tidak bisa mandiri dalam membiayai kebutuhan asasi rakyat. Pada akhirnya, kebutuhan rakyat tidak terjamin sepenuhnya.

Penutup
Tren bunuh diri hanyalah salah satu dampak dari masalah yang ditimbulkan akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler. Butuh berapa lama lagi untuk menyadari bahwa sistem kapitalisme sekuler benar-benar merusak kehidupan kita, baik dalam hal politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, mental, dan pola hidup. Kita benar-benar membutuhkan solusi Islam dalam memanusiakan rakyat dan memahami kebutuhan mereka dengan penanganan dan pengelolaan yang tepat. Di tangan pemimpin amanah dan sistem syariat kafah yang berkah, bunuh diri pasti dapat dicegah lebih dini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update