Oleh: Nadia Salsabyla
Potret keluarga ideal nan berkualitas merupakan pilar bagi kemajuan suatu negara. Kondisi ini tentu sulit diraih jika mengandalkan invidu rakyat saja, terlebih dalam krisis di berbagai bidang saat ini. Maka dukungan pemerintah sangat penting untuk mewujudkannya. Hal ini selaras dengan yang dikatakan Menko PMK pada puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024 dengan tema “Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”, yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Muhadjir Effendy Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengatakan, “Keluarga merupakan penentu dan kunci dari kemajuan suatu negara. Maka dari itu, pemerintah saat ini tengah bekerja keras untuk menyiapkan keluarga Indonesia yang berkualitas dan memiliki daya saing”. [kemenkopmk 30/6/24]
Program ini dimulai dari remaja putri yang diberikan tablet tambah darah untuk memastikan mereka betul-betul sehat dan kelak setelah menikah siap hamil, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, cek kesehatan sebelum menikah, cek HB darah, cek lingkar lengan, dan memberikan intervensi gizi untuk ibu dan bayi sampai 1000 hari pertama kehidupan.
Jika yang diinginkan adalah kemajuan negara hingga menjadi Indonesia emas, tentu indikator keberhasilannya bukanlah sekedar materi sebagaimana yang tercantum pada SDGs (Sustainable Development Goals), seperti yang sudah dikemukakan oleh Menko PMK.
Cabut Akar Masalahnya
Hal di atas merupakan langkah pencegahan pada satu permasalahan saja. Sedangkan apa yang dihadapi keluarga pada masa ini sangatlah kompleks. Mulai dari kesulitan di dunia kerja, upah yang minim, kebutuhan rumah tangga yang melambung, pajak tahunan yang menghantui, biaya sekolah yang semakin mahal, hingga godaan gaya hidup di media sosial. Itu semua tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan berfokus pada masalah cabang, namun perlu digali akar masalahnya.
Pemerintah harusnya tidak melupakan hal-hal yang turut menjadi faktor hancurnya sebuah keluarga. Diantara kasus yang luput dari perhatian adalah anak – anak yang kecanduan game online hingga tidak fokus belajar, para orang tua yang terjebak judi online hingga terlilit pinjaman online. Lebih lanjut, cara pandang kapitalis sekuler yang telah ditanamkan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, membuat setiap keluarga berorientasi materi dan mengenyampingkan agama jika berurusan dengan sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan kesehatan.
Kesalahan pada pola pikir tentu akan memengaruhi pola sikap. Dan fatalnya kesalahan ini terstruktur, dari akar hingga buah telah banyak yang busuk, dari pemerintah hingga individu rakyat sudah banyak yang cacat. Kemaksiatan yang dinormalisasi penguasa, membuat pandangan tentang syariat menjadi kabur, hingga kesulitan menentukan benar dan salah.
Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama bagi individu untuk mengenal Rabbnya menjadi hilang arah. Padahal negeri ini mayoritas muslim, namun terasa asing dengan syariat Islam. Tentu sekulerisme inilah yang menghalangi penerapan Islam secara sempurna.
Islam Kaffah Solusinya
Layaknya penguasa mengembalikan semua permasalahan kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 59;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلأخرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Jika masalah ketahanan keluarga pada faktor eksternal seperti; politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial tuntas diatasi penguasa, maka faktor internal pun tidak luput dari pandangan Islam. Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Dengan sempurnanya penjagaan islam, maka keluarga berkualitas pun bukan angan-angan semata. Demikian juga dengan masa keemasan, bukan suatu hal yang sulit untuk diraih. Syariat islam bukan omong kosong, karena ia telah dibuktikan oleh para generasi muslim terdahulu. Rasulullah Muhammad -shallalahu alaihi wasallam- telah mengawali penerapan islam dalam skala negara di Madinah. Beliau mengatur aspek politik (hubungan dalam dan luar negeri) dengan yahudi dan kabilah – kabilah yang bertetangga langsung dengan Madinah. Beliau mengatur ekonomi dengan mempersaudarakan kaum anshar dan muhajirin, juga mengatur bagaimana masyarakat ber-muamalah. Beliau juga mengatur pendidikan islam dengan membuka halaqah diberbagai tempat yang dipimpin langsung atau dipimpin para sahabat. Dan masih banyak sekali teladan yang diberikan Nabi terkait penerapan Islam yang sempurna.
Lebih lanjut, kekuasaan islam tidak berhenti ketika Rasulullah wafat. Namun para sahabat berunding dan bersepakat bahwa wajib memilih pemimpin muslim yang mampu menerapkan syariat islam secara sempurna. Hal ini pun berlanjut pada masa tabiin dan tabiut tabiin, hingga para pembenci islam meruntuhkannya pada tahun 1924. 13 abad tentu bukan waktu yang sebentar bagi islam berkuasa di 2/3 bagian dunia. Maka tugas kita sekarang untuk mengembalikan kondisi keemasan itu. Bukan dengan kapitalis sekuler, tapi dengan penerapan Islam yang sempurna.
Wallahu a’lam bisshowab
No comments:
Post a Comment