Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KASUS BUNUH DIRI BUAH DARI SISTEM SEKULER, ISLAM SOLUSI HAKIKI

Friday, July 12, 2024 | Friday, July 12, 2024 WIB

Oleh : Anissa Pratiwi

 

Kasus angka bunuh diri di Indonesia semakin hari semakin meningkat.
Data dari Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (INASP), terdapat 670 jumlah kasus bunuh diri yang resmi dilaporkan.
Data tersebut diperoleh berdasarkan perbandingan data kepolisian dan Sample Registry System (SRS) di Kementerian Kesehatan.
Merujuk data SRS pada 2018, yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55 persen, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk.

Kalau melihat data Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 ada 267,1 juta jiwa. Ini berarti, ada 2.992 kematian akibat bunuh diri pada tahun tersebut.

Data terbaru, satu keluarga berinisial EA (51), AIL (52), JWA (13) dan JL (18), diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 22 Apartemen Teluk Intan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (9/3/2024).
“Keempat korban diduga melompat dari rooftop apartemen tersebut,” kata Kapolsek Metro Penjaringan, Kompol Agus Ady Wijaya, Minggu (10/3/2024).
Menurut penjelasannya, keempat jasad korban ditemukan petugas keamanan yang berjaga di lobi apartemen.

Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO) dan International Association of Suicide Prevention (IASP), lebih dari satu juta orang meninggal dunia karena bunuh diri setiap tahunnya. Pada 2020, diperkirakan ada satu orang meninggal dunia karena bunuh diri setiap 20 detik.

Permasalahan ini banyak terjadi pada kalangan anak muda. Mulai dari anak-anak hingga remaja. Untuk itu, perlu diketahui penyebab seseorang dapat mengakhiri hidupnya, agar dapat dilakukan tindakan pencegahan ke depannya.

Pada Jumat (19/4/2024) misalnya. Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) berinisial D (13) yang merupakan atlet lari DKI Jakarta, ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Komplek Hankam, Palmerah, Jakarta Barat.

Remaja dan pemuda merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perilaku bunuh diri. Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dari kasus bunuh diri adalah terjadinya copycat suicide, tindakan bunuh diri yang dilatarbelakangi ingin meniru kasus bunuh diri sebelumnya. Contohnya, kasus puluhan pelajar SMP di Bengkulu yang melukai lengan kirinya dengan benda tajam. Usut punya usut, mereka melakukan itu karena mengikuti tren di media sosial. Mereka mengalami krisis identitas sehingga tidak mampu menyaring mana yang harus jadi panutan dan mana yang tidak layak dijadikan teladan.

Maraknya kasus bunuh diri dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal peringatan untuk lingkungan sosial maupun keluarga. Lingkungan terdekat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang yang mengalami tanda-tanda ingin mengakhiri hidupnya.

Banyak faktor penyebab seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Pertama, persoalan ketahanan mental yang begitu rapuh pada generasi hari ini. Laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia berusia 10—17 tahun memiliki masalah kesehatan mental.

Kedua, persoalan gaya hidup yang materialistis. Motif bunuh diri karena terjerat pinjol, misalnya, seperti sedang mengonfirmasi gaya hidup remaja yang kian materialistis sebab kebanyakan dari pemuda yang terjerat pinjol adalah untuk memenuhi gaya hidupnya yang hedonistik. Belum lagi perekonomian yang kian ambruk, menuntut mahasiswa untuk mandiri secara finansial.

Tak hanya itu, masalah ekonomi, susahnya lapangan pekerjaan dan gaya hidup yg tinggi juga membuat masyarakat semakin susah untuk menemukan jalan keluar di setiap masalah yang di hadapi ,
Buah dari sistem sekulerisme yang melahirkan ideologi kapitalis membuat masyarakat semakin bermental sakit,
pandangan hidup yang selalu mengacu kepada harta dan kepuasan materi membuat tidak adanya benteng keimanan yang kuat di dalam diri.

Islam menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki seorang muslim adalah meraih rida Allah Taala. Islam sebagai ideologi yang sempurna juga telah mewajibkan Negara (Khilafah) melindungi dan menjamin kehidupan warganya.

Di satu sisi, Islam memang memberikan pijakan individual bahwa ketakwaan dan ketawakalan seorang hamba adalah modal besar dan pedoman utama menjalani kehidupan. Akan tetapi, di sisi lain Islam juga memberikan pilar-pilar mengenai kebahagiaan yang harus diwujudkan oleh penguasa bagi rakyat yang dipimpinnya.

Penguasa dalam Islam memahami dengan sungguh-sungguh bahwa rakyat adalah amanah, layaknya gembalaan yang wajib dijaga dan dilindungi oleh gembalanya. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) itu pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR Bukhari dan Ahmad).

Rasulullah saw. juga Khulafaurasyidin dan khulafa setelahnya, selain menerapkan hukum-hukum Allah Taala, juga berperan menjaga hak-hak kaum muslim beserta seluruh rakyat untuk menjamin kebahagiaan mereka, tidak terkecuali kebutuhan asasi/primer bagi hidup mereka.

Di samping itu, Khalifah juga berperan penting dalam sistem pendidikan dan pembinaan generasi, sehingga terjadi penanaman ideologi Islam yang akan menumbuhkan sosok-sosok berkepribadian Islam yang siap untuk terikat dengan hukum syarak, juga mendakwahkan dan memperjuangkannya.

Sosok-sosok ini adalah orang-orang yang menjadikan dakwah sebagai poros hidup. Mereka telah selesai dengan diri mereka, maknanya adalah telah memberikan penyerahan total solusi permasalahan kehidupannya semata kepada Allah Taala. Mereka yakin bahwa dengan menolong dan membela agama Allah, Allah akan memberikan jalan keluar bagi seluruh problematik yang mereka hadapi. Mereka sadar bahwa perniagaan dengan Allah adalah perniagaan yang mustahil rugi. Dengan karakternya ini, tidak heran, mereka menjadi orang yang tangguh dan berkualitas.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah [9]: 111).

Sudah seharusnya ISLAM lah yang menjadi panduan dari segala permasalahan yang terjadi di dalam diri setiap hamba ,
Penyelesaian di dalam Islam membuat masyarakat akan semakin paham dalam menentukan jalan yang benar dan yang salah ,
Bahkan tugas negara amat sangat penting untuk menjaga kualitas masyarakatnya.
Sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah telah terbukti mampu menjaga masyarakat nya menjadi masyarakat yang bertaqwa dan dan bermental sehat .
Wallahu’alam bishawab”

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update