Ramadan Bulan Suci, Maraknya Pinjol Menodai

Oleh Khansa Mustaniratun Nisa

Mentor Kajian Remaja


Ramadan tiba... Ramadan tiba... Ramadan tiba..

Marhaban yaa Ramadan.. Marhaban yaa Ramadan...


Demikian sepenggal lagu yang masyhur diputar saat Ramadan. Kondisi ini menggambarkan suka citanya umat Islam menyambut bulan suci yang penuh berkah ini. Namun, benarkah rasa suka cita ini murni hadir tanpa terganggu oleh fakta kenaikan sembako, harga bumbu dapur dan bahan pangan lainnya?


Ternyata fakta ini kerap kali menjadi keresahan saat akan memasuki bulan Ramadan. Bagaimana tidak, nominal penghasilan tidak naik namun harga kebutuhan semakin mencekik. Imbasnya, pinjol (pinjaman online) seolah menjadi solusi singkat menghadapi pahitnya ekonomi saat ini.


Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksi penyaluran pinjol pada saat momentum Ramadan 2024 ini akan melonjak. Ketua Umum  AFPI Entjik S. Djafar mengatakan bahwa asosiasi menargetkan pendanaan di industri financial technology peer-to-peer (fintech P2P) lending saat Ramadan dapat tumbuh sebesar 12%. OJK pun mengeluarkan hal senada. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mencatat kinerja outstanding pembiayaan P2P lending atau pinjaman online pada Mei 2023 sebesar Rp 51,46 triliun atau tumbuh sebesar 28,11% secara tahunan (year on year/yoy).(financial.bisnis.com, 3/3/24)


Ternyata bukan hanya masyarakat biasa yang terjerat pinjol. Pelaku UMKM pun menggantungkan hidupnya kepada pinjaman online demi berjalannya bisnis. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi, Aman Santosa mengungkapkan, dari jumlah tersebut, sebesar 38,39% merupakan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan penyaluran kepada masing-masing sebesar Rp 15,63 triliun dan Rp 4,13 triliun. (cnbcindonesia.com, 10/9/23)


Sudah menjadi rahasia umum bahwa pinjol mengandung riba. Namun, apa boleh buat, para pelaku UMKM pasti membutuhkan modal untuk meningkatkan produksi akibat permintaan yang meningkat, apalagi di bulan Ramadan ini. Pinjol menjadi pilihan karena prosedur lebih mudah dibandingkan perbankan dan perusahaan pembiayaan lainnya walau bunganya lebih tinggi.


Meningkatnya aktivitas utang ke pinjol saat Ramadan merupakan hal yang berlawanan dengan kesucian bulan puasa. Semestinya, momen Ramadan diisi dengan aktivitas ketaatan pada Allah, bukan malah melakukan riba yang Allah Swt. haramkan.


Sebelum bicara riba dan keharamannya, terlepas dari mudah atau sulitnya ketika membayar cicilan, seharusnya dengan maraknya berita dan fakta para pengguna pinjol yang telat dalam menyicil dijadikan bahan pertimbangan lagi. Karena para penagih kerap kali mengintimidasi nasabah hingga meneror orang-orang terdekat  jika terjadi keterlambatan pembayaran. Akibatnya, nasabah merasa tertekan hingga tidak sedikit yang stres dan bunuh diri.


Terlepas dari jenis lembaga keuangannya, semuanya dipastikan berbasis riba yang sudah jelas diharamkan oleh Allah Swt. Lalu, mengapa riba malah tumbuh subur di tengah masyarakat saat ini?


Riba merajalela karena sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri kita sekarang ini menjadikannya sebagai pilar. Hampir semua jenis transaksi di dalam kapitalisme mengandung riba. Oleh karena itu, siapa pun individu termasuk pelaku UMKM hendaknya menjauhi praktik riba tersebut karena sudah jelas dilarang oleh Allah Swt. dalam firman-Nya :


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang beIum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu." (TQS Al Baqarah : 278-279).


Karena ancaman aktivitas riba sangat pedih, maka Islam tentu memiliki solusinya. Negara yang menerapkan aturan Islam memberikan solusi bagi masyarakat dengan mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan. Level sejahtera tersebut adalah terpenuhinya kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan bagi tiap-tiap orang, serta terwujudnya kemampuan memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier.


Selain itu, masyarakat di dalam sistem Islam akan mendapatkan edukasi melalui sistem pendidikan dan dakwah yang disuasanakan untuk terus meningkatkan iman dan takwa. Alhasil, akan menjadikan masyarakat Islami yang bergaya hidup qanaah, zuhud dan tidak berlebih-lebihan. Apalagi momen bulan suci Ramadan akan disambut dengan memperbanyak amal saleh, bukan justru konsumtif sehingga pengeluaran rumah tangga meningkat.


Adapun tradisi mudik akan difasilitasi dengan transportasi publik yang terintegrasi antara satu dengan yang lainnya sehingga memudahkan masyarakat untuk silaturahmi tanpa harus memaksakan membeli atau menyewa kendaraan pribadi menjelang mudik. 


Sedangkan kebutuhan modal usaha untuk UMKM akan dipenuhi dengan sistem pinjaman tanpa riba atau bahkan  diberikan cuma-cuma dari anggaran baitulmal.


Dengan solusi tersebut, tak akan ada celah bagi masyarakat untuk terjerat pinjol dan tak ada celah pula bagi individu membuka usaha haram tersebut. Hasilnya, keberkahan akan Allah Swt. curahkan bagi umat Islam. Kebutuhan masyarakat akan terpenuhi dengan baik dan para pengusaha bisa berbisnis dengan tenang dan halal. Ini semua dilakukan atas dasar hadis Rasulullah saw.:


"Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...” (HR. Bukhari) 


Wallahu a'lam bishshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post