Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Valentine’s Day; Syahwat Berkedok Hari Kasih Sayang

Saturday, January 27, 2024 | Saturday, January 27, 2024 WIB


Oleh: Abitri Soleha 
(Pemerhati Masalah Remaja) 


Valentine, katanya “hari kasih sayang”. Apa benar demikian? Setiap tanggal 14 Feruari menjadi peringatan hari kasih sayang, merayakan hari cinta bagi kebanyakan remaja. Pada kenyataannya, hanyalah hari syahwat dan maksiat.


Terdapat banyak versi mengenai sejarah valentine. Salah satunya dalam laman kompas.com, 09/1/23. Sejarah hari valentine berawal dari kisah Pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-3 yang bernama St. Valentine pada masa kekaisaran Claudius yang terkenal kejam. Pada masa itu, Claudius memerintahkan agar pasukan pria yang belum menikah untuk menjadi bala tentara tetapi mereka enggan karena harus meninggalkan keluarganya. Hal tersebut membuat Claudius murka dan melarang pernikahan. Walau begitu, Pendeta Valentine tetap melaksanakan tugasnya menikahkan pasangan yang sedang jatuh cinta secara diam-diam. 


Kemudian pada suatu ketika St.Valentine tertangkap dan dipenjara serta dijatuhi hukuman mati pada tanggal 14 Februari dan hari kematiannya ini diperingati sebagai hari perjuangan cinta. Hingga saat ini, tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari valentine atau hari kasih sayang. Umumnya dianggap hari paling romantis, faktanya hanyalah momen untuk melampiaskan syahwat. Memang urusan yang satu ini tiap tahun tidak ada habisnya.


Mirisnya, sekitar 3 dari 10 orang Amerika akan terlibat hutang kartu kredit dari pengeluaran hari valentine. Kemudian 43% dari mereka akan menyemunyikan hal itu dari pasangannya. Waduh. Kalau sudah tidak jujur seperti ini sebelum menikah, bagaimana nanti setelah menikah, ya? Di Amerika, menurt data pada tahun 2022 menghabiskan $23,9 miliar untuk hadiah hari valentive yakni kartu ucapan, permen, dan bunga. Sedangkan di Indonesia, menurut survei Ipsos pada tahun 2022 sebanyak 41% respondens lebih suka merayakan momen ini dengan makan-makan di rumah, 35% ke luar rumah bersama pasangan, dan 34% memberikan cokelat atau permen. Dari sini kita bisa mengetahui, siapa lagi yang paling diuntungkan oleh perayaan valentine day kalau bukan kapitalis.


Tak jarang kita melihat sepasang anak muda yang merayakan hari valentine ini dengan jalan-jalan, nonton di bioskop, tabaruj, dan memberi mawar atau cokelat pada pasangannya. Sebagai seorang Muslim, kita harus kritis dalam memandang segala sesuatu. Jangan asal ikut-ikutan hanya karena banyak yang merayakan, tanpa tau bagaimana Islam memandangnya. Allah sudah menegaskan dalam surah Al-Isra’ ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’/17 ayat 32) Mendekati zina saja sudah tidak boleh, apalagi melakukannya.


Valentine bukanlah budaya kita, itu merupakan kebiasaan orang Barat. Valentine day identik dengan bunga mawar, cokelat, dan kartu ucapan. Jangan sampai hanya karena setangkai mawar dan cokelat kita menyerahkan kehormatan. Kehormatan kita tidak semurah itu shalihah. Jangan gadaikan keimanan kita dengan kebiasaan yang bukan dari Islam. 


Rusaknya pergaulan ala Barat membuat kita harus pandai-pandai dalam menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan. Cinta dan kasih sayang memanglah fitrah, tapi untuk menyalurkannya haruslah susuai dengan syariat. 


Masih banyak kaum Muslim yang salah kaprah memahami cinta, tidak lagi mengenal kesakralan pernikahan dan kesucian diri dengan melakukan pergaulan bebas. Entah itu menyebutnya dengan pacaran, teman tapi mesra, adik kakak-an, atau yang lainnya. Apapun namanya tetaplah maksiat jika belum ada ikatan yang halal. 


Jika sudah siap menikah, menikahlah. Tapi jika belum, puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Islam sangat bijaksana dalam mengatur pergaulan. 


Oleh karen itu, Islam memerintahkan untuk tidak berbaur dengan yang bukan mahram. Sangat jelas ketika berbaur akan timul bahaya besar yang telah menjadi kebiasaan orang-orang Barat yakni pergaulan bebas. Adapun sabda Rasulullah, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud no 4031) Dari hadist tersebut sudah jelas bahwa kita tidak boleh menyerupai suatu kaum, termasuk ikut-ikutan merayakan hari valentine yang jelas-jelas itu bukan budaya kita. Sampai sini, seharusnya sudah cukup menyadarkan kaum Muslim untuk meninggalkan valentine day.


Setelah mengetahui sejarahnya dan apa dampak dari budaya valentine ini, sebagai Muslim sejati sudah sepatutnya tidak ikut terbawa arus kemaksiatan untuk turut merayakannya. Apalagi tidak tau esensi dari perayaannya itu apa. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update