Kasus Perundungan atau Bullying di berbagai lembaga pendidikan semakin memprihatinkan, parahnya beberapa temuan kasus pelaku Bullying ini tak segan segan berlaku brutal dan sadis terhadap korbannya.
Seperti kasus yang terjadi di SMAN 26 Jakarta pada Jumat (1/12/2023) lalu, dimana 12 korban ini dianiaya oleh 15 kakak kelasnya dirumah salah satu pelaku berinisial D di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Ketika ditemukan kondisi belasan siswa tersebut memprihatinkan usai dianiaya secara brutal oleh 15 orang kakak kelasnya yang terdiri dari kelas XI dan XII. (Dilansir dari tribunnews).
Kasus Perundungan dibeberapa satuan pendidikan hingga perguruan tinggi menjadi fakta bahwa generasi muda saat megalami krisis moral dan degradasi akhlak, sehingga tak heran jika generasi saat ini cenderung bengis nan sadis.
Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan perundungan ini nyatanya gagal, meskipun telah dibentuk satgas diberbagai satuan pendidikan hingga saat ini kasus bullying masih menjadi masalah nomor wahid yang belum tertuntaskan bahkan bisa dibilang PR tebesar pemerintah era ini.
Selain itu jika melihat akar permasalahannya, kasus perundingan ini terjadi karena didorong berbagai faktor, salah satunya yakni di sistem pendidkan sekuler, dimana yang menadi landasan atau kurikulum yang dibentuk bukanlah berdasarkan atas takwa.
Akan tetap disistem pendidikan sekuler saat ini generasi dipaksa memisahkan agama dari kehidupan, sehingga menjauhkan sikap takwa dari diri generasi muda.
Terlebih prioritas pendidikan kapitalis hanya mencerdaskan anak dalam bidang akademik namun nol persoalan agama. Walaupun yang dielu-elukan dari dulu pendidikan karakter.
Namun bagaimana mungkin karakter akan baik jika pendidikan berjalan dengan kurikulum berbasis sekularisme, berlomba mengejar revolusi industri 4.0, tapi minim pembekalan keimanan agama.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bullying sebagai problem massif bangsa ini. seharusnya hal ini menyadarkan kita bahwa sekularisme gagal membangun sumber daya manusia yang berkualitas serta berkepribadian islam.
Begitupun peningkatan prestasi akademik siswa di sekolah tidak menjadi jaminan kemampuan mereka mengatasi masalah pribadi dan interaksi dengan lingkungan.
Yang ada sekarang moral generasi kian rapuh mengikuti hukum alam yakni yang lemah akan ditindas yang kuat. Tiada beda kehidupan generasi saat ini seperti penghuni rimba.
Kerapuhan jiwa mengantarkan generasi pada penyaluran yang salah, bahkan tak jarang kita dapati generasi muda terjerat kasus narkoba demi mencari ketenangan dan kebahagiaan. Bahkan yang lebih parah memilih mengakhiri penderitaan dengan bunuh diri.
Kebebasan bicara yang diagungkan dalam sistem demokrasi ini, menjadikan banyak orang ringan lidah untuk mengucapkan perkataan kasar yang memicu emosi.
Juga kebebasan berperilaku, bebas berbuat sesuka hati, seolah tiada berharganya tubuh orang lain sehingga mudah untuk disakiti dan diciderai. Padahal Islam melarang segala bentuk perilaku yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain, termasuk perundungan.
Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mengolok-olok kelompok lain, karena mungkin kelompok yang diejek itu lebih baik dari yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan-perempuan lain, karena mungkin perempuan-perempuan yang diejek itu lebih baik dari perempuan-perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencaci diri sendiri."
Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang mulia bertakwa. Dalam diri generasi Muslim seharusnya terpatri pola pikir Islam (aqliyah islamiyah) dan pola sikap Islam (nafsiyah islamiyah). Inilah yang disebut kepribadian Islam (syakhsiyah islamiyah). Untuk mewujudkannya ditempuh melalui sistem pendidikan Islam.
Pendidikan Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW dan terbukti mampu merubah para sahabat dari jahiliyah menjadi mulia dilakukan dengan dual hal.
Pertama, menanamkan akidah Islam. Sehingga para sahabat mengimani Allah SWT tanpa keraguan, taat dengan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, sahabat diajarkan berbagai tsaqofah Islam (pengetahuan Islam). Terkait politik, sosial, budaya, ekonomi, hukum, pendidikan dan kesehatan yang diatur di dalam Islam begitu juga dengan sistem pemerintahannya, yaitu Khilafah.
Sementara itu misi pendidikan Islam yaitu untuk menjadi muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Inilah misi tertinggi, menjadi sebaik-baiknya manusia yang diinginkan Allah bukan sekadar bertaqwa, tetapi juga menjadi pemimpin yang bertakwa bagi orang-orang yang bertakwa. Maka Islam bertujuan untuk melahirkan generasi pemimpin.
Karena itulah, sesungguhnya hakikat pendidikan Islam adalah menumbuhkan potensi fitrah manusia, memberdayakan akal fikiran, membentuk akhlak mulia, membina generasi pemimpin bertaqwa sehingga akan menjauhkan generasi dari perilaku bullying serta menjadi khalifah yang memakmurkan dan memelihara bumi dalam Daulah Khilafah. Hanya dengan sistem islam lah yang solusi tuntas atas segala permasalahan.
Wallahu'alam bishawab

No comments:
Post a Comment