Ibu Rumah Tangga
Pemerintah Kabupaten Bandung terus berusaha untuk menjaga ketahanan pangan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Untuk itu Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengusulkan agar membentuk generasi muda petani di wilayahnya. Ia pun menginstruksikan Distan (Dinas Pertanian) setempat melaksanakan kerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Kang DS juga meminta kepada BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) untuk menjalin kerjasama terkait hasil produksi para petani di Kabupaten Bandung. Ia pun menyebutkan kebutuhan pangan ASN (Aparatur Sipil Negara), jika dihitung per bulan bisa mencapai Rp 10 miliar, dikalikan 12 bulan kurang lebih mencapai sekitar Rp 120 miliar. Jika dikelola dengan baik, maka akan terjadi multiplayer efect secara ekonomi mikro. Oleh karena itu, ketika para penghasil produksi para petani ini menjual, ia meminta kepada para ASN ini untuk membeli hasil produksi pertanian tersebut. Rencananya tahun depan anggaran yang disediakan adalah Rp1,4 miliar (Koran Gala, 25/10/2-23).
Upaya penjagaan ketahanan pangan ini sekilas terdengar sebagai langkah yang positif dan proaktif dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Upaya tersebut dinilai krusial dalam memastikan ketersediaan dan aksesibilitas pangan bagi masyarakat. Beberapa strategi yang mungkin diadopsi dalam konteks ini adalah dengan memberikan pelatihan, peralatan modern, dan sumber daya lainnya untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu juga dengan memberikan dukungan diversifikasi tanaman dan metode pertanian yang berkelanjutan, memperbaiki infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan pedesaan, dan gudang penyimpanan. Semua itu dapat membantu mengurangi pemborosan hasil panen.
Pemerintah juga dapat mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk petani mengenai praktik pertanian terbaik, manajemen sumber daya alam, dan teknologi pertanian modern. Hal itu ditujukan membantu meningkatkan keahlian dan mengoptimalkan hasil yang ingin dicapai, untuk itu diberikan bantuan keuangan untuk investasi dalam bentuk peralatan, benih berkualitas tinggi, dan pupuk, agar dapat membantu mereka meningkatkan produksi dan pendapatan.
Selain itu, pasar lokal dan rantai pasokan yang efisien pun didorong agar dapat membantu petani untuk menjual produk mereka dengan harga yang adil, sehingga akses masyarakat terhadap bahan pangan pun akan meningkat. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi produk lokal dan mendukung pertaniannya, maka dapat membantu menciptakan permintaan yang stabil untuk produk-produk yang dihasilkan.
Hanya saja penting untuk terus dipantau dan dievaluasi efektivitas langkah-langkah tersebut dengan melibatkan petani dan masyarakat setempat dalam proses perencanaan dan implementasi. Dengan begitu Pemerintah Kabupaten Bandung dapat terus meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Namun, jika dilihat kembali program yang melibatkan generasi muda untuk memajukan pertanian ini, jika masih dalam kendali pengaturan kapitalisme, pada dasarnya tidak akan pernah bisa menjaga ketahanan pangan. Karena keberadaan sistem ini justru menjadi penyebab munculnya ketidaksetaraan sosial. Jika distribusi sumber daya dan keuntungan tidak merata, beberapa petani atau kelompok masyarakat mungkin tidak mendapatkan manfaat yang sebanding.
Sistem kapitalisme sering kali menempatkan keuntungan sebagai prioritas utama. Hal ini yang tentu dapat mengakibatkan kebijakan yang lebih memperhatikan profitabilitas ketimbang keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ketergantungan sistem kapitalis pada pasar global, dapat membuat sektor pertanian rentan terhadap fluktuasi harga internasional dan persaingan yang mungkin tidak selalu adil.
Bertani butuh pengalaman yg banyak, tidak bisa instan dengan program dadakan. Petani yang sudah ada sejak dulu harusnya diberi dukungan penuh mulai dari meningkatkan atau menyediakan sarana dan prasarana pertanian yang baik, seperti irigasi yang efisien, sistem penyimpanan hasil panen serta jaringan jalan yang baik, semua itu dapat meningkatkan produktivitas dan meminimalisasi kerugian.
Beda halnya dengan Islam yang mampu menjaga dan mendukung penuh sektor pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat, yaitu melalui prinsip-prinsip ekonomi dan sosial yang mencakup berbagai aspek. Prinsip keadilan sosial dan ekonomi akan mendorong distribusi kekayaan dan sumber daya secara adil. Ini dapat mencakup pembagian tanah dan sumber daya pertanian untuk memastikan setiap anggota masyarakat memiliki akses yang adil dan merata.
Islam juga senantiasa mendorong pemberdayaan individu dan komunitas. Dalam konteks pertanian, hal ini dilakukan dengan memberikan dukungan kepada petani untuk mengelola tanah mereka sendiri, meningkatkan keterampilan mereka, dan memiliki kontrol lebih besar terhadap produksi mereka. Prinsip-prinsip ini dapat diaplikasikan dan sumber daya alam senantiasa dijaga dengan baik untuk keberlanjutan generasi mendatang. Sistem ini juga melarang monopoli dan praktik bisnis yang tidak adil untuk mencegah praktik-praktik yang merugikan petani atau konsumen.
Demikianlah Islam, sistem ini bisa menjamin keadilan di berbagai bidang. Di dalamnya akan ada sosok pemimpin yang bertanggung jawab, yang mengetahui beban berat amanahnya dan menyadari bahwa kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Rasul saw. bersabda:
"Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.'" (HR Muslim)
Dalam naungan kepemimpinan Islam lah semua akan terwujud sehingga seluruh permasalahan kehidupan akan tersolusikan secara tuntas.
Wallahu a'lam bish shawab.

No comments:
Post a Comment